Juara Bertahan Jadi Olok-Olok! Ini Alasan Mengapa Liverpool Hancur di Musim 2025/2026

Juara Bertahan Jadi Olok-Olok! Ini Alasan Mengapa Liverpool Hancur di Musim 2025/2026
Skuad Liverpool berkumpul sebelum laga menghadapi Manchester City (c) Liverpool FC Official

Bola.net - Liverpool menjalani musim 2025/2026 dengan penuh tekanan dan kekecewaan. Setelah tampil luar biasa dan menjadi juara Premier League musim lalu, The Reds kini justru tercecer di luar empat besar klasemen sementara.

Liverpool saat ini berada di posisi kelima klasemen Premier League dengan koleksi 59 poin dari 37 pertandingan. Mereka tertinggal tiga angka dari Aston Villa di posisi empat dan hanya unggul tipis atas Bournemouth yang masih memiliki satu laga sisa lebih banyak.

Situasi tersebut membuat tekanan kepada pelatih Arne Slot semakin besar menjelang laga terakhir melawan Brentford di Anfield pada 24 Mei 2026. Apalagi Liverpool musim ini juga gagal total di Liga Champions, Piala FA, dan EFL Cup.

Penurunan performa Liverpool musim ini bahkan disebut sebagai salah satu title defence terburuk dalam era Premier League. Ada banyak faktor yang membuat performa The Reds anjlok drastis hanya semusim setelah menjadi juara Inggris.

Arne Slot Mengubah Identitas Permainan Liverpool

Arne Slot Mengubah Identitas Permainan Liverpool

Ekspresi Arne Slot dalam laga perempat final Liga Champions antara Liverpool vs PSG, Rabu (15/4/2026). (c) AP Photo/Dave Shopland

Musim pertama Arne Slot sebenarnya berjalan sangat menjanjikan bersama Liverpool. Ia sukses membawa The Reds menjadi juara Premier League 2024/2025 dan sempat dipuji karena mampu menjaga warisan permainan agresif peninggalan Jurgen Klopp.

Namun memasuki musim 2025/2026, Slot mulai mengubah pendekatan permainan Liverpool secara signifikan. Liverpool kini tidak lagi tampil seintens era Jurgen Klopp dan lebih sering memainkan tempo lambat dalam membangun serangan.

Perubahan itu justru membuat identitas Liverpool perlahan menghilang. Banyak mantan pemain dan media Inggris menilai pressing agresif serta transisi cepat yang dulu menjadi kekuatan utama klub tidak lagi terlihat konsisten musim ini.

Yang paling krusial adalah Slot kini tak lagi membangun tim dengan Mohamed Salah sebagai pusat permainan. Ia tampaknya ingin memaksimalkan talenta-talenta baru seperti Florian Wirtz dan Alexander Isak, serta Hugo Ekitike.

Dampaknya terlihat jelas di klasemen dan performa tim sepanjang musim. Liverpool bahkan sempat terlempar hingga papan tengah pada awal musim setelah menelan serangkaian kekalahan beruntun dari Crystal Palace, Chelsea, Manchester United, Brentford, Manchester City, dan Nottingham Forest.

Pertandingan Selanjutnya
Premier League Premier League | 24 Mei 2026
Liverpool Liverpool
22:00 WIB
Brentford Brentford

Hubungan Slot dengan Pemain Liverpool Mulai Retak

Hubungan Slot dengan Pemain Liverpool Mulai Retak

Arne Slot mempersiapkan Mohamed Salah untuk masuk ke laga Liverpool vs Tottenham (c) AP Photo/Jon Super

Masalah Liverpool ternyata tidak hanya terjadi di lapangan. Hubungan Arne Slot dengan sejumlah pemain inti juga mulai menjadi sorotan media Inggris dalam beberapa bulan terakhir.

Konflik paling besar terlihat dari situasi Mohamed Salah. Bintang asal Mesir itu beberapa kali dikabarkan kecewa dengan arah permainan Liverpool di bawah Slot dan keputusannya untuk mencadangkan dirinya di sejumlah laga.

Salah sempat membuat pernyataan jujur pada tengah musim lalu. Dan baru-baru ini bahkan sempat membuat unggahan media sosial yang dianggap menyindir sang pelatih.

Situasi memanas setelah Salah disebut secara terbuka mempertanyakan arah proyek Liverpool musim depan. Beberapa laporan bahkan menyebut unggahan Salah mendapat dukungan dari sejumlah pemain di ruang ganti Liverpool.

Ketegangan itu membuat suasana internal tim semakin tidak stabil. Slot kini disebut berada dalam posisi sulit karena ia tetap membutuhkan kontribusi Salah di tengah perjuangan Liverpool mengamankan tiket Liga Champions.

Slot juga tampaknya bermasalah dengan akamsi Liverpool yakni Curtis Jones. Gelandang serba bisa itu pun akhirnya diparkir di sejumlah laga.

Mohamed Salah dan Pilar Utama Mengalami Penurunan

Mohamed Salah dan Pilar Utama Mengalami Penurunan

Mohamed Salah mengalami cedera di laga Liverpool vs Crystal Palace, Sabtu (25/04/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Performa Mohamed Salah musim ini memang mengalami penurunan dibanding standar tingginya selama berseragam Liverpool. Meski masih mencatat 12 gol dan sembilan assist, kontribusi Salah dianggap tidak lagi dominan seperti musim-musim sebelumnya.

Produktivitas lini depan Liverpool juga ikut menurun drastis. The Reds terlalu sering kesulitan membongkar pertahanan lawan dan kehilangan kreativitas ketika menghadapi tim yang bermain defensif.

Salah sendiri tampil luar biasa gila pada musim lalu. Ia jadi salah satu alasan utama mengapa Liverpool bisa jadi juara Premier League.

Selain Salah, beberapa pemain senior lain seperti Alexis Mac Allister, Virgil van Dijk, hingga Ibrahima Konate juga tampil inkonsisten sepanjang musim. Penurunan performa sejumlah pilar membuat Liverpool kehilangan stabilitas yang dulu menjadi kekuatan utama mereka saat menjuarai Premier League.

Hanya beberapa pemain seperti Dominik Szoboszlai dan Hugo Ekitike yang dianggap mampu tampil cukup stabil musim ini. Namun performa individu mereka tidak cukup untuk menyelamatkan Liverpool dari keterpurukan.

Lini Belakang Liverpool Jadi Sangat Rapuh

Lini Belakang Liverpool Jadi Sangat Rapuh

Duel Virgil van Dijk dengan Jean-Philippe Mateta di laga Liverpool vs Crystal Palace, Sabtu (25/4/2026). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Masalah terbesar Liverpool musim ini terlihat jelas di lini pertahanan. The Reds sudah kebobolan lebih dari 50 gol di Premier League musim ini dan itu menjadi rekor terburuk klub dalam format 38 pertandingan.

Pertahanan Liverpool tampak kehilangan koordinasi dan agresivitas. Mereka terlalu mudah ditembus lawan, terutama ketika menghadapi serangan balik dan juga bola-bola mati.

Kondisi itu diperparah oleh inkonsistensi performa sejumlah bek inti macam Virgil van Dijk. Liverpool beberapa kali kehilangan poin setelah gagal mempertahankan keunggulan dalam pertandingan penting.

Kerapuhan lini belakang membuat Liverpool kesulitan menjaga momentum kemenangan. Statistik kebobolan mereka menjadi salah satu alasan utama mengapa The Reds kini tertinggal jauh dari perebutan gelar juara.

Perombakan Skuad Liverpool Tidak Berjalan Mulus

Perombakan Skuad Liverpool Tidak Berjalan Mulus

Jeremie Frimpong (kanan) merayakan gol Liverpool bersama Cody Gakpo di laga lawan West Ham, Sabtu (28/02/2026). (c) AP Photo/Jon Super

Liverpool sebenarnya cukup aktif melakukan perubahan skuad untuk mempertahankan dominasi mereka. Namun banyak keputusan transfer klub musim ini justru gagal memberikan dampak besar di lapangan.

Kepergian sejumlah pemain penting membuat permainan dan keadalaman skuad Liverpool menurun drastis. Contohnya Luis Diaz, Darwin Nunez, dan Trent Alexander-Arnold.

Kepergian Diaz membuat Liverpool kehilangan ancaman di lini depan khususnya dari sisi sayap kiri, apalagi pelapisnya yakni Cody Gakpo mengalami penurunan performa. Sedangkan dilepasnya Nunez membuat The Reds kehilangan pemain yang giat melakukan pressing intens dan rela berkorban demi Salah.

Liverpool juga sangat kehilangan Trent. The Reds merindukan line breaking pass dari sang bek kanan yang kerap jadi awal serangan mematikan ke pertahanan musuh plus umpan-umpan dari situasi bola mati.

Di sisi lain, beberapa pemain baru belum mampu langsung beradaptasi dengan tekanan kompetisi Premier League. Jeremie Frimpong jelas bukan pemain yang bisa menggantikan Trent, demikian juga Milos Kerkez belum saatnya mengisi pos Andy Robertson secara reguler.

Hanya Hugo Ekitike dan Florian Wirtz yang bersinar, sedangkan Alexander Isak tak beruntung karena masalah cedera dan kebugaran fisik. Sayangnya Ekitike juga mengalami nasib sial karena mengalami cedera parah dan harus absen hingga akhir musim.

Liverpool juga sempat kehilangan sosok penting di staf kepelatihan setelah kepergian John Heitinga. Pergantian struktur di belakang layar disebut ikut memengaruhi keseimbangan tim musim ini.

Akibatnya, Liverpool terlihat kesulitan menemukan komposisi terbaik sepanjang musim. Ketika jadwal mulai padat dan badai cedera datang, performa The Reds langsung menurun drastis.

Meninggalnya Diogo Jota Memberi Pukulan Mental Besar

Meninggalnya Diogo Jota Memberi Pukulan Mental Besar

Dua dari tiga anak Diogo Jota, Dinis dan Duarte, bergabung dengan para maskot pada pertandingan Liverpool vs Wolves di Anfield, 27 Desember 2025 (c) AP Photo/Ian Hodgson

Musim Liverpool juga diwarnai tragedi besar setelah meninggalnya Diogo Jota dalam kecelakaan mobil di Spanyol pada Juli 2025. Kejadian tersebut memberikan pukulan emosional besar bagi seluruh skuad Liverpool.

Arne Slot bahkan sempat mengatakan bahwa kehilangan Jota menjadi duka mendalam untuk seluruh klub. Slot menyebut Jota bukan hanya pemain penting, tetapi juga sosok yang sangat dicintai di ruang ganti Liverpool.

“Kami benar-benar sangat terpukul. Diogo bukan hanya pemain kami, ia adalah sosok yang dicintai semua orang di klub,” ujar Slot.

Dampak psikologis dari tragedi itu diyakini ikut memengaruhi mental para pemain sepanjang musim. Liverpool terlihat kehilangan energi dan semangat bertarung yang selama ini menjadi identitas utama mereka.