Liverpool vs Leeds, Sebuah Catatan Pahit Si Merah: Cemoohan Suporter, Krisis Identitas, Waktunya Revolusi?

Liverpool vs Leeds, Sebuah Catatan Pahit Si Merah: Cemoohan Suporter, Krisis Identitas, Waktunya Revolusi?
Fans Liverpool memberikan dukungan pada laga Liga Inggris melawan Leeds United di Anfield, 2 Januari 2025. (c) AP Photo/Jon Super

Bola.net - Liverpool memulai tahun 2026 dengan hasil yang jauh dari kata memuaskan di Anfield. Sang juara bertahan Premier League itu ditahan imbang tanpa gol oleh Leeds United, Jumat (2/1/2026) dini hari WIB.

Bukan sekadar skor kacamata yang menjadi sorotan utama dalam laga awal tahun ini. Performa pasukan Arne Slot dinilai sangat tumpul dan kehilangan identitas menyerang mereka.

Statistik mencatat dominasi semu tuan rumah: 19 tembakan berbanding 4 milik lawan, serta penguasaan bola yang mutlak. Namun, angka-angka itu tak mampu menutupi fakta bahwa Liverpool seperti kehilangan taring di depan gawang.

Suara cemoohan terdengar sayup-sayup dari tribun The Kop saat peluit panjang dibunyikan wasit. Ini menjadi sinyal peringatan nyata bagi Arne Slot untuk segera berbenah.

Di balik hasil minor ini, tersimpan 8 fakta menarik yang layak dikupas. Mulai dari krisis lini depan hingga nasib pemain bintang yang kian suram.

1 dari 8 halaman

Harga Mahal Stabilitas Defensif

Harga Mahal Stabilitas Defensif

Pelatih Liverpool, Arne Slot berbicara dengan bek Jeremie Frimpong saat laga melawan Leeds United pada lanjutan Liga Inggris, 2 Januari 2025. (c) AP Photo/Jon Super

Pergeseran taktik Arne Slot menuju permainan yang lebih konservatif memang membuat lini belakang lebih solid. Namun, harga yang harus dibayar sangatlah mahal: tumpulnya lini serang.

Liverpool kini terlihat kurang ekspansif dan kehilangan daya ledak. Absennya Mohamed Salah dan Alexander Isak memang berpengaruh, namun masalah ini terasa lebih sistemik.

Meskipun menciptakan banyak peluang, kualitas peluang tersebut sangat rendah. The Reds kesulitan membongkar pertahanan rapat Leeds yang menerapkan blok rendah.

Slot harus segera menemukan formula yang tepat untuk menyeimbangkan soliditas pertahanan dengan ketajaman serangan. Jika tidak, hasil imbang seperti ini akan terus berulang.

Pertandingan Selanjutnya
Premier League Premier League | 4 Januari 2026
Fulham Fulham
22:00 WIB
Liverpool Liverpool
Premier League Premier League | 4 Januari 2026
Leeds United Leeds United
19:30 WIB
Man United Man United
2 dari 8 halaman

Anomali Hasil Imbang di Anfield

Anomali Hasil Imbang di Anfield

Lukas Nmecha dan Ibrahima Konate berebut bola dalam laga Liga Inggris antara Liverpool vs Leeds United di Anfield, 2 Januari 2026 (c) AP Photo/Jon Super

Hasil imbang tanpa gol ini menjadi catatan langka dalam 84 pertandingan Arne Slot menukangi Liverpool di Anfield. Biasanya, laga kandang selalu menjanjikan pesta gol bagi tuan rumah.

Namun kali ini, permainan Liverpool terasa lambat dan miskin ide. Mereka kesulitan menembus tembok tebal pertahanan tim tamu yang bermain sangat disiplin.

Suara cemoohan yang terdengar di akhir laga menjadi sinyal bahaya bagi Slot. Pendukung setia mulai kehilangan kesabaran melihat tim kesayangannya tampil tanpa gairah.

Dengan jadwal berat melawan Fulham dan Arsenal menanti, hasil ini jelas bukan modal yang baik untuk memulai paruh kedua musim.

3 dari 8 halaman

Krisis Identitas di Premier League

Krisis Identitas di Premier League

Pergerakan penyerang Liverpool, Hugo Ekitike coba dihentikan pemain Leeds United, James Justin pada lanjutan Liga Inggris, 2 Januari 2026. (c) AP Photo/Jon Super

Masalah Liverpool sebenarnya mencerminkan tren yang lebih luas di Premier League saat ini. Banyak tim mulai beralih ke gaya pragmatis yang mengutamakan hasil akhir.

Tim-tim elit seperti Manchester City dan Arsenal pun mulai kesulitan memainkan sepak bola indah yang ekspansif. Blok rendah dan serangan balik cepat menjadi senjata ampuh untuk meredam dominasi tim besar.

Liverpool tampaknya menjadi korban paling nyata dari pergeseran tren ini. Mereka kesulitan beradaptasi dengan lawan yang bermain ultra-defensif dan hanya mengandalkan bola mati.

Pertanyaannya kini, apakah gaya main Liverpool tiga atau empat tahun lalu masih relevan di era sepak bola modern yang semakin pragmatis?

4 dari 8 halaman

Sinar Terang dari Ryan Gravenberch

Sinar Terang dari Ryan Gravenberch

Duel antara gelandang Liverpool, Ryan Gravenberch dengan pemain Leeds United, Brenden Aaronson pada lanjutan Premier League, 2 Januari 2026. (c) AP Photo/Jon Super

Di tengah performa tim yang mengecewakan, Ryan Gravenberch muncul sebagai titik terang. Gelandang asal Belanda ini tampil impresif dalam peran yang lebih dalam di lini tengah.

Ia sukses mematikan serangan balik Leeds dengan memenangkan bola di area pertahanan lawan. Statistik 11 pemulihan bola dan kemenangan duel darat menjadi bukti dominasinya.

Gravenberch kini terlihat semakin nyaman bermain sebagai gelandang bertahan. Kemampuannya membaca permainan menjadi aset berharga bagi Slot di tengah badai cedera yang melanda.

Jika konsistensi ini bisa dijaga, ia berpotensi menjadi solusi jangka panjang untuk masalah lini tengah Liverpool.

5 dari 8 halaman

Tembok Kokoh Ibrahima Konate

Tembok Kokoh Ibrahima Konate

Bek Liverpool, Ibrahima Konate beraksi saat melawan Leeds United di Liga Inggris, 2 Januari 2026. (c) AP Photo/Jon Super

Ibrahima Konate sekali lagi membuktikan mengapa ia layak mendapat perpanjangan kontrak jangka panjang. Bek asal Prancis ini tampil tanpa cela mengawal lini pertahanan.

Statistiknya sangat mentereng: memenangkan 10 dari 10 duel yang dihadapinya. Konate menjadi sosok yang paling sulit dilewati oleh penyerang Leeds sepanjang pertandingan.

Selain solid dalam bertahan, ia juga aktif membantu serangan dengan 11 umpan ke sepertiga akhir lapangan. Ketenangannya dalam menguasai bola memberikan rasa aman bagi rekan-rekannya.

Di tengah ketidakpastian masa depan beberapa pemain kunci, performa Konate memberikan sedikit kelegaan bagi manajemen klub.

6 dari 8 halaman

Masa Depan Suram Federico Chiesa

Masa Depan Suram Federico Chiesa

Aksi Federico Chiesa bersama Liverpool dalam laga versus PSV di Liga Champions, Kamis (27/11/2025). (c) AP Photo/Jon Super

Nasib Federico Chiesa di Liverpool tampaknya semakin di ujung tanduk. Penyerang asal Italia ini gagal memanfaatkan kesempatan langka yang diberikan padanya bulan lalu.

Meski sempat menjadi starter melawan Wolves, performanya dinilai mengecewakan oleh suporter dan pelatih. Akibatnya, ia langsung kehilangan tempatnya di laga melawan Leeds.

Keputusan Slot menurunkan Jeremie Frimpong sebagai penyerang sayap semakin menegaskan posisi Chiesa yang kian terpinggirkan. Bahkan Cody Gakpo yang duduk di bangku cadangan masih menjadi pilihan utama dibanding dirinya.

Bagi Chiesa, bursa transfer Januari ini mungkin menjadi momen yang tepat untuk mencari pelabuhan baru demi menyelamatkan kariernya.

7 dari 8 halaman

Bocah Ajaib Curi Perhatian

Bocah Ajaib Curi Perhatian

Pemain muda Liverpool, Rio Ngumoha berebut bola dengan bek Leeds United, Jayden Bogle di lanjutan Premier League, 2 Januari 2026. (c) AP Photo/Jon Super

Rio Ngumoha menjadi satu-satunya pemain yang mampu membuat bek Leeds United panik. Pemain berusia 17 tahun ini tampil berani lewat aksi dribbling memukau di babak kedua.

Kecepatan dan kelincahannya berhasil membuat publik Anfield berdiri dari tempat duduknya. Ia memberikan energi baru yang tidak dimiliki pemain senior lainnya.

Penampilan singkat namun meyakinkan ini menjadi modal berharga bagi sang wonderkid. Ia layak mendapatkan menit bermain lebih banyak di sisa musim ini.

8 dari 8 halaman

Kebutuhan Mendesak Belanja Januari

Kebutuhan Mendesak Belanja Januari

Dominik Szoboszlai dan Gabriel Gudmundsson berebut bola dalam laga Liga Inggris antara Liverpool vs Leeds United di Anfield, 2 Januari 2026 (c) AP Photo/Jon Super

Skuad tipis yang dibawa Arne Slot saat melawan Leeds menjadi bukti nyata bahwa Liverpool butuh tambahan tenaga baru. Absennya pemain senior seperti Salah, Isak, dan Joe Gomez membuat bangku cadangan diisi mayoritas pemain muda.

Meskipun memberikan kesempatan pada pemain muda adalah hal positif, namun untuk bersaing di level tertinggi, kedalaman skuad yang berkualitas mutlak diperlukan.

Dengan jadwal padat delapan pertandingan di bulan Januari saja, Liverpool tidak bisa hanya mengandalkan skuad yang ada saat ini. Risiko kelelahan dan cedera tambahan sangat tinggi.

Manajemen harus bergerak cepat di bursa transfer Januari ini. Jika tidak, ambisi untuk kembali menantang gelar juara bisa pupus di tengah jalan karena kehabisan bensin.