
Bola.net - Kekalahan dari Bournemouth membuka kembali pertanyaan besar soal Arsenal musim ini, mengapa tim ini kesulitan melangkah dari penantang menjadi juara. Mikel Arteta pun tidak menutupinya.
Pelatih asal Spanyol itu menyinggung faktor sederhana sederhana krusial, yaitu keberanian mengambil risiko dan mendorong keberuntungan. Menurutnya, kualitas saja tidak cukup tanpa dorongan mental untuk menciptakan momen penentu.
Dalam beberapa pekan terakhir, performa Arsenal justru menunjukkan arah sebaliknya. Mereka solid, tetapi kurang menggigit. Dari sinilah masalah yang lebih dalam mulai terlihat.
Arsenal Terlalu Mengandalkan Fondasi, Minim Risiko

Arteta menegaskan bahwa menjadi juara tidak hanya soal kualitas, tetapi juga soal bagaimana tim “memaksa” keberuntungan datang. Ia mencontohkan gol Vincent Kompany ke gawang Leicester pada 2019 sebagai momen yang lahir dari keberanian.
Arteta mengatakan bahwa banyak hal memang harus berjalan sesuai rencana, tetapi tim juga harus mendorong faktor keberuntungan itu sendiri. Dalam konteks Arsenal, hal tersebut dinilai belum terjadi musim ini.
Sepanjang musim, Arsenal lebih sering bermain aman. Mereka mengandalkan struktur permainan yang rapi, tetapi jarang mengambil risiko yang bisa membuka peluang lebih besar. Pendekatan ini membuat mereka stabil, namun kurang tajam di momen krusial.
Ketika kekurangan dalam penguasaan bola mulai menghambat serangan sejak awal, fokus tim pun bergeser hanya pada upaya memenangkan pertandingan secara pragmatis, bukan menciptakan dominasi.
Serangan Mandek dan Minim Kreativitas

Masalah Arsenal semakin terlihat dari data performa mereka. Dalam laga melawan Bournemouth, mereka hanya mencatat expected goals sebesar 0,18 dari open play, angka yang sangat rendah untuk tim papan atas.
Peluang yang tercipta pun tidak berasal dari pola permainan yang matang. Dua percobaan jarak jauh Declan Rice dan peluang terlambat dari Viktor Gyokeres menjadi gambaran betapa terbatasnya kreativitas mereka.
Permainan Arsenal dalam beberapa laga terakhir juga menunjukkan pola yang sama. Di Lisbon melawan Sporting mereka bermain lambat, saat menghadapi Southampton penuh kesalahan, dan ketika bertemu Manchester City terlihat mudah dikendalikan.
Kondisi ini mencerminkan stagnasi. Arsenal tidak lagi menunjukkan variasi serangan yang cukup untuk membongkar pertahanan lawan secara konsisten.
Minim Pergerakan Tanpa Bola, Serangan Mudah Dibaca

Salah satu masalah paling mencolok adalah kurangnya pergerakan tanpa bola. Para penyerang Arsenal jarang melakukan lari di belakang garis pertahanan lawan saat rekan setim menguasai bola.
Padahal, pergerakan semacam itu penting untuk membuka ruang, meski tidak selalu berujung pada umpan. Tanpa pergerakan ini, pertahanan lawan bisa tetap terorganisir dan mudah membaca arah serangan.
Situasi tersebut terlihat jelas saat melawan Bournemouth. Ketika Martin Zubimendi menerima bola dan mencari opsi ke depan, hampir tidak ada pergerakan dari Gabriel Martinelli, Viktor Gyokeres, maupun Kai Havertz.
Akibatnya, serangan terhenti sebelum berkembang. Zubimendi bahkan terpaksa memutar arah dan memainkan bola ke samping, tanda bahwa tidak ada progresi berarti dalam fase menyerang.
Transisi Lambat dan Build-up Kurang Tajam

Arsenal juga dinilai kurang efektif dalam situasi serangan balik. Sepanjang musim ini, mereka hanya mencatat 32 fast break dan mencetak empat gol dari situasi tersebut.
Sebagai perbandingan, Manchester City mencatat 41 fast break dengan sembilan gol, meski dikenal sebagai tim dengan build-up paling lambat di liga. Perbedaan ini menegaskan efektivitas yang belum dimiliki Arsenal.
Gaya bermain Arsenal memang cenderung sabar. Mereka lebih sering mengalirkan bola dengan banyak sentuhan dibanding bermain langsung. Namun, bermain cepat tidak selalu berarti harus langsung panjang ke depan.
Pada periode terbaiknya, Arsenal dikenal dengan kombinasi umpan pendek cepat dan progresif. Kini, pola tersebut jarang terlihat, terutama dalam distribusi bola dari lini belakang yang kurang mampu menembus garis pertahanan lawan.
Absennya Kreator dan Ketergantungan pada Odegaard
Faktor cedera juga turut memengaruhi performa Arsenal. Beberapa pemain kunci di lini tengah absen secara bersamaan sejak pergantian tahun, yang berdampak besar pada kreativitas tim.
Martin Odegaard, meski hanya bermain sekitar 37,4 persen dari total menit di Premier League musim ini, tetap menjadi salah satu kreator utama dengan 28 peluang dari open play. Ia bahkan menempati posisi kedua dalam statistik through ball per 90 menit.
Ketergantungan pada Odegaard menjadi semakin jelas saat ia tidak tersedia. Arsenal kehilangan pemain yang mampu mengambil risiko dalam bentuk umpan terobosan atau keputusan progresif.
Bandingkan dengan pemain seperti Rayan Cherki di Manchester City yang tampil berani dan bebas. Keberanian tersebut membuatnya menjadi salah satu kreator paling produktif musim ini, sekaligus memberi dimensi berbeda dalam serangan timnya.
Jangan Lewatkan!
- Baru Dibeli dari Man United, Chelsea Kini Siap Jual Alejandro Garnacho
- De Zerbi Mencoba Selamatkan Tottenham dengan 'Gaya Italia'
- Saran untuk Liverpool: Pecat Arne Slot dan Pilih Xabi Alonso
- Man City vs Arsenal: Demi Juara, Arteta Diminta Cadangkan Viktor Gyokeres
- Jadwal Lengkap Premier League 2025/2026 Live di SCTV dan Vidio
Advertisement
Berita Terkait
-
Editorial 3 Juni 2026 16:053 Pemain Bournemouth yang Bisa Dibawa Andoni Iraola ke Liverpool
LATEST UPDATE
BERITA LAINNYA
-
inggris 3 Juni 2026 23:27Chelsea Tutup Pintu Keluar untuk 4 Pemain 'Tak Tersentuh' Ini
-
inggris 3 Juni 2026 22:33Resmi! Manchester United Lepas Kepergian Rasmus Hojlund ke Napoli
-
inggris 3 Juni 2026 20:18Man United Siapkan Kejutan di Bursa Transfer 2026, Bidik Bek Dortmund
SOROT
-
Liputan6 3 Juni 2026 22:43KPK Sita Ratusan Gram Emas Saat OTT Kepala Imigrasi Jakarta Barat
-
Liputan6 3 Juni 2026 22:27Megawati Diundang ke Dili untuk Terima Penghargaan Khusus
-
Liputan6 3 Juni 2026 21:30Ada Tilang Manual di Operasi Patuh Jaya, Simak Sasarannya
MOST VIEWED
Here We Go! Manchester United Menangkan Perburuan Ederson, Era Baru Lini Tengah Setan Merah Dimulai
Katanya Sudah Deal, Kenapa Transfer Ederson ke MU Urung Rampung Juga?
Ogah Turunkan Harga, West Ham Minta MU Bayar Segini untuk Mateus Fernandes
Berat! West Ham Minta Bayaran Sangat Mahal untuk Transfer Mateus Fernandes!
HIGHLIGHT
5 Pemain yang Pernah Berseragam PSG dan Arsenal, A...
3 Alasan Chelsea Sebaiknya Jual Enzo Fernandez Mus...
5 Pemain Top yang Tak Masuk Timnas Belanda untuk P...
7 Kandidat Pengganti Casemiro di Manchester United...
Darurat Lini Depan Liverpool: 4 Opsi Pengganti Hug...
9 Kandidat Pengganti Alvaro Arbeloa di Real Madrid...
Jika Barcelona Mundur: 6 Destinasi Potensial Marcu...
















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5303081/original/010753100_1754044504-1000408667.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7525289/original/038831500_1780298579-WhatsApp_Image_2026-06-01_at_14.17.58.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7690730/original/050847900_1780488058-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7694852/original/038402100_1780492891-WhatsApp_Image_2026-06-03_at_20.16.45.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/7632888/original/091705200_1780421506-IMG-20260602-WA0042.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3188079/original/061603500_1595483842-20200723-Operasi-Patuh-Jaya-2020-di-Jalan-Letjen-Suprapto-Jakpus-FANANI-7.jpg)

