Bagaimana Performa AC Milan 2021-2022: Kolektivitas Skuad Muda Menghadirkan Scudetto Serie A

Gia Yuda Pradana | 24 Mei 2022 10:29
AC Milan, juara Serie A 2021-2022 (c) Bola.net

Bola.net - Di awal, mereka cukup diragukan. Tak banyak yang percaya kalau mereka bakal juara. Dibandingkan sang rival sekota Inter Milan yang terlihat sangat kuat, skuad muda AC Milan dinilai bakal kesulitan bersaing di Serie A. Namun, dengan kolektivitas hingga semangat juang yang luar biasa, Rossoneri akhirnya mampu meraih Scudetto mereka yang ke-19 dan yang pertama sejak musim 2010-2011.

Musim lalu, Milan menggebrak di paruh pertama. Status campione d'inverno (juara paruh musim) pun diamankan. Setelah itu, di klasemen akhir, tim besutan Stefano Pioli itu ternyata hanya sanggup finis peringkat dua. Inter racikan Antonio Conte finis di puncak dengan keunggulan 12 poin atas Milan dan meraih Scudetto mereka yang ke-19.

Di awal musim ini, Milan ditinggal kiper Gianluigi Donnarumma ke PSG, juga gelandang serang Hakan Calhanoglu yang menyeberang ke kubu Nerazzurri. Milan tidak tinggal diam dan meratapi nasib. Mereka mendatangkan kiper Mike Maignan dari Lille, mempermanenkan Fikayo Tomori dan Sandro Tonali, hingga mendaratkan striker Olivier Giroud dari Chelsea.

Tak ada megatransfer yang dilakukan Milan. Milan hanya mendatangkan pemain-pemain yang dinilai pas dengan kebutuhan. Sang Direktur Teknik Paolo Maldini paham apa yang dibutuhkan Milan. Dengan bujet transfer terbatas, dia memberi pelatih Stefano Pioli 'bahan' untuk meramu skuad.

Kembali tampil di Liga Champions untuk pertama kalinya setelah sempat absen tujuh tahun, Milan tergabung di grup berat bersama Atletico Madrid, Porto, dan Liverpool. Milan akhirnya kandas di fase grup tersebut.

Di semifinal Coppa Italia, Milan dijegal Inter racikan Simone Inzaghi di semifinal. Mereka kalah agregat 0-3. Namun, meski skuadnya beberapa kali dihantam cedera, Milan terus berjuang dengan gigih untuk memburu Scudetto Serie A. Perjuangan itu tak sia-sia. Penantian panjang selama 11 tahun lamanya akhirnya tuntas.

1 dari 5 halaman

Campione d'Italia!

Skuat AC Milan merayakan kesuksesannya meraih Scudetto usai laga lawan Sassuolo di pekan ke-38 Serie A 2021-22 di Mapei Stadium(c) AP Photo

Kegagalan Milan lolos dari fase grup Liga Champions tidak terlalu mengejutkan. Kegagalan lolos ke final Coppa Italia memang cukup mengecewakan. Namun, semua itu terbayar lunas dengan kesuksesan mereka meraih Scudetto dan menjadi Campione d'Italia untuk pertama kalinya sejak musim 2010-2011.

Milan mengawali musim dengan kemenangan. Hanya saja, kemenangan tipis 1-0 lewat gol tunggal Brahim Diaz jelas tak bisa dibandingkan dengan kemenangan telak 4-0 Inter atas Genoa, kemeangan 3-1 Lazio atas Empoli, kemenangan 2-0 Napoli atas Venezia, maupun kemenangan 3-1 AS Roma-nya Jose Mourinho atas Fiorentina. Pekan perdana, anak-anak asuh Stefano Pioli cuma mampu menempati peringkat 8.

Namun, setelah itu, Milan naik ke peringkat 4, dan konsisten di tiga besar. Status juara paruh musim ini boleh diambil Inter, tapi Milan mampu menjaga puncak klasemen dari pekan ke-28 hingga pekan pemungkas.

Di pekan terakhir, kemenangan 3-0 atas tuan rumah Sassuolo melalui dua gol Olivier Giroud dan satu gol Franck Kessie, yang semuanya tercipta dari assist Rafael Leao, membuat kemenangan 3-0 Inter atas Sampdoria di San Siro jadi sia-sia.

"Saya tidak meragukan rahasia kesuksesan Milan ini: kolektivitas," kata eks pelatih Milan dan Italia, Arrigo Sacchi, kepada La Gazzetta dello Sport.

Milan jadi juara setelah finis dua poin di atas sang juara bertahan. Milan bahkan menjadi tim termuda (rata-rata 26 tahun dan 97 hari) di era tiga poin yang pernah meraih Scudetto Serie A

AC Milan, campione d'Italia 2021-2022!

2 dari 5 halaman

Pemain Terbaik: Rafael Leao

Pemain AC Milan, Rafael Leao (c) AP Photo

Tidak mudah memilih satu yang terbaik dari skuad juara. Ada banyak kandidatnya. Hampir semua pantas mendapatkannya.

Ada Mike Maignan, yang ketangguhannya mengawal gawang membuat jadi tim dengan angka kebobolan paling sedikit (31) bersama Napoli. Ada Fikayo Tomori, Pierre Kalulu, Davide Calabria, Alessio Romagnoli, hingga Theo Hernandez yang tampil solid di lini belakang Rossoneri.

Ada Sandro Tonali, Franck Kessie, hingga Ismael Bennacer yang tampil gemilang di lini tengah. Ada Olivier Giroud, yang pada musim perdananya ini sukses mencetak dua digit gol di Serie A dan mematahkan 'kutukan' nomor 9 Milan.

Ada pula Zlatan Ibrahimovic, striker veteran Zlatan Ibrahimovic, yang meski sudah bukan langganan starter lagi, tapi keberadaannya sangat penting untuk menularkan mentalitas, kualitas, dan karakter juara di skuad muda Milan.

Namun, jika harus memilih satu, maka pilihan itu layak dijatuhkan pada Rafael Leao.

Ketika penghargaan Pelatih Terbaik jatuh ke tangan Stefano Pioli, maka tidak aneh jika gelar Pemain Terbaik Serie A musim ini juga jatuh ke tangan penggawa Rossoneri. Dia adalah Leao, dengan 11 gol dan 10 assist-nya (via Lega Serie A).

Leao tampil impresif untuk Milan di Serie A 2021-2022. Terakhir, pemain 22 tahun Portugal itu menunjukkan aksi hebat untuk membongkar pertahanan Sassuolo, mengukir hat-trick assist, dan membantu membawa Milan ke tangga juara.

Harus diakui, di balik Scudetto AC Milan musim ini, ada Rafael Leao dengan kontribusinya yang istimewa.

3 dari 5 halaman

Pemain Terburuk: Brahim Diaz

Brahim Diaz (c) AP Photo

Sama seperti memilih pemain terbaik, memilih pemain terburuk dari skuad juara juga tidak mudah. Namun, jika harus memilih satu yang terbilang mengecewakan, mungkin itu adalah Brahim Diaz.

Musim ini sejatinya diharapakan menjadi musimnya pemain 22 tahun Spanyol pemakai nomor 10 Milan tersebut. Namun, di musim keduanya sebagai pemain pinjaman dari Real Madrid, dia gagal memenuhi harapan itu.

Hanya tiga gol dan tiga assist yang diukirnya dalam 31 penampilan untuk Milan di Serie A. Kontribusinya tak terlalu besar, terutama di paruh kedua, di mana dia nyaris tak terlihat.

Wajar jika permainan Milan terlihat lebih baik ketika pelatih Stefano Pioli mendorong Rade Krunic atau Franck Kessie untuk mengisi posisi trequartista. Andai terus berharap pada Diaz, Milan mungkin takkan juara.

4 dari 5 halaman

Bagaimana Musim Depan?

Pelatih AC Milan, Stefano Pioli (c) AP Photo

Musim depan, Milan tentu ingin melangkah lebih jauh di Liga Champions maupun Coppa Italia. Selain itu, ada pula Supercoppa Italiana penuh gengsi melawan juara Coppa Italia musim ini, Inter Milan.

Namun, perjuangan paling berat tentu saja adalah mempertahan gelar di Serie A.

Untuk itu, Milan membutuhkan skuad yang lebih kuat dengan kedalaman yang lebih baik. Tak kalah penting, jika belum, Milan harus segera mengambil sikap terkait nasib pemain-pemain yang kontraknya habis musim ini, seperti Franck Kessie, Alessio Romagnoli, Alessandro Florenzi, Junior Messias, hingga Zlatan Ibrahimovic.

Milan bakal membutuhkan amunisi-amunisi baru untuk musim depan. Mereka harus bisa padu dengan pemain-pemain seperti Rafael Leao maupun Sandro Tonali yang statusnya 'wajib dipertahankan'.

Di posisi pelatih, Stefano Pioli sudah tak usah diganggu gugat. Dia telah membayar kepercayaan dengan membawa Milan ke tangga juara. Dia yang awalnya sempat diterjang isu pemecatan sudah mampu mengubah semua keraguan menjadi pengakuan mutlak.

5 dari 5 halaman

Tambah Tiga Pemain, AC Milan Bisa Bicara Banyak di Liga Champions Musim Depan

Skuat AC Milan mengangkat trofi juara Serie A 2021-22 (c) AP Photo

Setelah meraih Scudetto Serie A musim ini, wajar jika Milan dituntut untuk tampil lebih baik di Liga Champions musim depan. Para pendukung Milan pasti berharap supaya Rossoneri bisa bicara banyak di Eropa.

Menurut eks pelatih Milan, Fabio Capello, Milan sudah punya skuad yang bagus dan bisa diandalkan. Pertahanan mereka kuat. Selain itu, pemain-pemain mudanya juga sudah menunjukkan kematangan.

Namun, dengan tambahan setidaknya tiga pemain baru, Milan punya kans untuk tampil lebih baik di Liga Champions musim depan. Lantas, siapa saja yang menjadi incaran.

Dari laporan terkini, Milan dikaitkan dengan tiga nama. Yang pertama adalah gelandang Bryan Cristante dari AS Roma. Dua lainnya adalah penyerang, yakni Divock Origi dari Liverpool dan Darwin Nunez dari Benfica.

Tiga pemain itu dianggap cocok dengan Milan. Jika Maldini mampu membujuk ketiganya untuk berlabuh di San Siro, maka Milan musim depan sepertinya akan menjadi tim yang menakutkan.

Berita Terkait

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR