Inter Milan Tak Bisa Belanja Gila-gilaan seperti Klub Premier League

Inter Milan Tak Bisa Belanja Gila-gilaan seperti Klub Premier League
Selebrasi Marcus Thuram dkk. dalam laga Lazio vs Inter Milan di final Coppa Italia 2025/2026, Kamis (14/5/2026). (c) AP Photo/Andrew Medichini

Bola.net - Giuseppe Marotta mengakui Inter Milan tidak memiliki kemampuan finansial untuk bersaing dengan klub-klub Premier League di bursa transfer. Presiden Nerazzurri itu menegaskan klubnya harus mencari jalan lain untuk tetap kompetitif.

Pernyataan tersebut disampaikan Marotta saat Inter menjalani tur pramusim di Australia. Ia berbicara mengenai tantangan finansial yang kini dihadapi klub-klub Serie A dibandingkan kompetisi Inggris.

Inter memang melewati musim panas yang cukup sulit di bursa transfer. Beberapa target, termasuk Marco Palestra, gagal didatangkan setelah pemain tersebut memilih bergabung dengan Chelsea.

Meski demikian, Marotta memastikan Inter tidak akan mengubah prinsip klub hanya demi mengejar kekuatan finansial rival-rival dari Inggris. Menurutnya, identitas dan pengelolaan klub tetap menjadi fondasi utama kesuksesan.

Inter Pilih Kreativitas daripada Belanja Besar

Inter Pilih Kreativitas daripada Belanja Besar

Presiden Inter Milan, Giuseppe Marotta. (c) AP Photo/Luca Bruno

Marotta menilai Serie A pernah menjadi pusat sepak bola dunia pada era 1980-an dan 1990-an. Namun, kondisi tersebut kini berubah karena kekuatan ekonomi Premier League berkembang jauh lebih pesat.

Menurutnya, Inter tidak mungkin mengejar ketertinggalan tersebut hanya dengan mengeluarkan dana besar. Karena itu, klub harus mengandalkan kreativitas, kompetensi, dan motivasi dalam membangun skuad.

"Pada era 1980-an dan 1990-an, Serie A menjadi acuan sepak bola di seluruh dunia," ujar Marotta kepada Globo TV.

"Kini keseimbangan itu telah berubah dan kesenjangan ekonomi sangat jelas terlihat. Kami tidak bisa berpikir untuk mengejar jarak tersebut dengan menghabiskan uang dalam jumlah besar. Respons kami harus berbeda, yaitu mengandalkan kreativitas, kompetensi, dan motivasi.

"Gagasan bahwa siapa yang menghabiskan uang paling banyak otomatis akan menang justru bertentangan dengan esensi olahraga. Anda harus membangun tim yang memiliki nilai, dengan memaksimalkan kualitas manajemen, pelatih, staf, dan para pemain," tegas Marotta.

Prinsip Kepemimpinan Jadi Fondasi Inter

Prinsip Kepemimpinan Jadi Fondasi Inter

Pemain Inter Milan, Ange-Yoan Bonny, merayakan gol bersama rekan setimnya Lautaro Martinez dalam pertandingan Serie A melawan Hellas Verona, Minggu (17/5/2026). (c) AP Photo/Luca Bruno

Marotta telah menjalani berbagai peran sepanjang kariernya di dunia sepak bola. Setelah Oaktree mengambil alih kepemilikan Inter dari Suning, ia dipercaya naik jabatan dari general manager menjadi presiden klub.

Pengalaman panjang itu membuatnya memiliki prinsip yang kuat dalam memimpin Inter. Ia menegaskan bahwa arah klub ditentukan oleh orang-orang yang dipilih untuk bekerja bersama dan nilai yang dibangun di dalam organisasi.

"Seorang manajer hebat pernah mengajarkan kepada saya bahwa seorang presiden memiliki dua hak mendasar, yaitu memilih orang-orang yang akan bekerja bersamanya dan menentukan nilai-nilai yang ingin dijadikan dasar membangun klub," kata Marotta.

"Itulah prinsip yang selalu menjadi pedoman dalam setiap keputusan saya. Kami memiliki keselarasan penuh dengan pemilik baru dan mampu memulai berbagai proyek penting, termasuk pembangunan stadion baru yang menjadi langkah besar untuk menjadikan Inter semakin modern," lanjut Marotta.

Inter Tetap Memburu Semua Gelar

Inter Tetap Memburu Semua Gelar

Selebrasi pemain Inter Milan usai memenangi Coppa Italia, 13 Mei 2026 dengan mengalahkan Lazio di final. (c) AP Photo/Andrew Medichini

Inter menutup musim lalu dengan meraih gelar Serie A dan Coppa Italia. Namun, langkah mereka di Liga Champions tidak berjalan sesuai harapan sehingga evaluasi dilakukan menjelang musim baru.

Meski demikian, Marotta memastikan target klub tidak berubah. Ia ingin Inter tetap tampil kompetitif di seluruh kompetisi dan mempertahankan budaya juara yang telah lama melekat pada klub.

"Ekspektasi kami tetap sama seperti sebelumnya. Inter mengikuti setiap kompetisi dengan tujuan meraih hasil terbaik," ujar Marotta.

"Klub ini telah memenangkan begitu banyak trofi sepanjang sejarahnya dan hal itu menggambarkan identitas kami lebih dari kata-kata apa pun. Kami adalah klub yang terbiasa menang, tetapi di balik setiap kemenangan selalu ada semangat, perjuangan, etos kerja, dan rasa memiliki," tutup Marotta.

Sumber: Football Italia