FOLLOW US:


Serie A 2005/2006: Calciopoli, Inter Milan Scudetto, dan Juventus ke Serie B

27-04-2020 12:59

 | Asad Arifin

Serie A 2005/2006: Calciopoli, Inter Milan Scudetto, dan Juventus ke Serie B
Juventus musim 2005/2006 © AP Photo

Bola.net - Serie A musim 2005/2006 bakal punya tempat tersendiri dalam sejarah sepak bola Italia. Sebab, pada musim inilah terungkap skandal besar calciopoli dan Juventus harus turun kasta ke Serie B karena dianggap bersalah.

Serie A 2005/2006 menjadi musim ke-104 dalam sejarah kompetisi paling atas di Italia. Seperti pada musim-musim sebelumnya, Serie A juga digelar dengan sistem round-robin.

Kompetisi musim ini dimulai pada 28 Agustus 2005 dan berakhir pada 14 Mei 2006. 20 tim ambil bagian pada musim ini, dengan tim yang berada di posisi paling bawah klasemen akhir harus turun kasta ke Serie B.

Juventus sejatinya tidak berada di tiga tempat terbawah klasemen dari hasil kompetisi. Namun, Si Nyonya Tua tersangkut kasus calciopoli atau pengaturan skor dan harus turun kasta ke Serie B.

1 dari 6

Peta Kekuatan

Juventus masih menjadi kekuatan utama Serie A di musim 2005/2006. Tim racikan Fabio Capello punya skuad yang mewah. Gianluigi Buffon menjadi andalan di penjaga gawang. Lalu, ada Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, dan Gianluca Zambrotta di lini belakang.

Juventus juga punya duet Zlatan Ibrahimovic dan Alessandro Del Piero di lini depan. Di antara kedua pemain, ada Pavel Nedved yang menjadi andalan di lini kedua.

Inter Milan juga menjadi unggulan pada musim 2005/2006. Di bawah kendali Roberto Mancini, Inter Milan punya pemain top seperti Juan Veron, Luis Figo, Adriano, Julio Cruz, dan Alavro Recoba.

Inter Milan juga punya kuartet Javier Zanetti, Marco Materazzi, Walter Samuel, dan Giuseppe Favalli di lini belakang.

AC Milan dan AS Roma juga menjadi klub pesaing di papan atas. Milan banyak bertumpu pada Kaka dan Andriy Shevchenko di lini depan. Sedangkan, Roma mengandalkan Francesco Totti [29 tahun] dan Daniele De Rossi [22 tahun].

2 dari 6

Juventus Tanpa Tanding

Juventus melaju sangat mulus pada musim 2005/2006. Si Nyonya Tua selalu menang dalam sembilan laga pertama beruntun. Juventus juga hanya kebobolan dua gol saja dari sembilan laga.

Laju Gianligui Buffon dan kolega baru terjegal pada pekan ke-10. Bermain di San Siro, Juventus kalah dengan skor 3-1 dari Milan. Tiga gol Milan dicetak Clarent Seedorf, Kaka, dan Andrea Pirlo. Gol balasan Juventus dicetak Trezeguet.

Kekalahan dari AC Milan sekaligus menjadi satu-satunya kekalahan yang dialami Juventus pada musim 2005/2006. Inter Milan dua kali dikalahkan Juventus pada musim ini, dengan skor 2-0 di Turin dan 1-2 di Giuseppe Meazza.

Dari 38 laga yang dimainkan, Juventus meraih 27 kemenangan, 10 hasil imbang, dan sekali kalah. Juventus mendapatkan 91 poin dan berada di posisi puncak. Bahkan, Juventus merayakan seremoni gelar scudetto musim 2005/2006.

3 dari 6

Kiprah Duo Milan

AC Milan menjadi pesaing serius bagi Juventus pada musim 2005/2006. Rosonneri mampu meraih 28 kemenangan, empat hasil imbang, dan enam kali kalah pada musim ini. AC Milan menjadi satu-satunya tim yang bisa mengalahkan Juventus.

Milan memulai musim dengan buruk, imbang lawan Ascoli. Milan kemudian menang atas Siena di San Siro. Akan tetapi, Milan kemudian kalah dengan skor 1-2 dari Sampdoria. Setelah tiga laga awal ini, Milan baru tampil apik.

AC Milan menang dalam delapan laga beruntun. Namun, Milan kembali terseok setelah itu. Dalam empat laga, Paolo Maldini dan kolega harus menelan tiga kekalahan. Termasuk kalah dengan skor 3-2 dari Inter Milan di laga derby.

Milan sebenarnya mengakhiri musim dengan 88 poin.

Inter Milan juga tampil cukup bagus pada musim 2005/2006. Pasukan Roberto Mancini meraih 23 kemenangan, tujuh hasil imbang, dan delapan kekalahan. Inter Milan meraih 76 poin dari 38 laga yang dimainkan.

Iinter Milan sempat tidak terkalahkan selama 14 laga beruntun, antara pekan ke-10 hingga 23. Periode ini menjadi kunci bagi Inter Milan untuk meraih banyak poin, sebab mereka kesulitan di akhir musim saat tiga laga beruntun gagal menang.

4 dari 6

Klasemen Akhir

Juventus menutup musim dengan raihan 91 poin. Sedangkan AC Milan meraih 88 poin. Namun, bukan kedua tim yang akhirnya ditetapkan sebagai tim paling atas klasemen Serie A musim 2005/2006.

Kedua tim didakwa terlibat dalam kasus calciopoli atau pengaturan skor. Juventus mendapat hukuman paling berat. Juventus kehilangan gelar scudetto dan harus turun ke Serie B karena poinnya tidak dihitung.

Klasemen Serie A musim 2005/2006 (c) Wikipedia
Klasemen Serie A musim 2005/2006 (c) Wikipedia

Sedangkan, AC Milan jumlah poinnya dikurangi hingga 30 poin. AC Milan pun menutup musim dengan 58 poin. Hukuman yang sama juga diberikan kepada Lazio dan Fiorentina. Poin mereka dipotong 30.

Inter Milan yang meraih 76 poin pun menjadi pemuncak klasemen Serie A musim 2005/2006. FIGC [Federasi Sepak Bola Italia] kemudian menyatakan Inter Milan sebagai juara musim 2005/2006 pada 26 Juli 2006.

5 dari 6

Data dan Fakta

Top Skor

  1. Luca Toni - Fiorentina - 31 Gol
  2. David Trezeguet - Juventus 23 Gol
  3. David Suazo - Cagliari - 22 Gol

Degradasi: Lecce, Treviso, dan Juventus

Tim promosi: Atalanta, Catania, dan Torino

Tim terhukum karena calciopoli: AC Milan, Fiorentina, Juventus, Lazio, dan Reggina.

Individu yang terhukum calciopoli: Luciano Moggi, Antonio Giraudo, Paolo Dondarini, Tullio Lanese, Innocenzo Mazzini, Massimo De Santis, Diego Della Valle, Pierluigi Pairetto, Andrea Della Valle, Pasquale Foti, Claudio Lotito, Leonardo Meani, Fabrizio Babini, Gennaro Mazzei, Adriano Galliani, Gianluca Paparesta, Claudio Puglisi, Franco Carraro, Pietro Ingargiola.

6 dari 6

Pembelaan Luciano Moggi

Pembelaan Luciano Moggi
Luciano Moggi © ist

Luciano Moggi menjadi sosok yang paling disorot atas kasus calciopoli. Luciano Moggi dianggap sebagai dalang kasus pengaturan skor ini. Saat itu, dia menjadi menjabat sebagai direktur Juventus.

Luciano Moggi mendapat hukuman paling berat dibanding individu lainnya. Luciano Moggi mendapat sanksi seumur hidup dilarang aktif di sepak bola. Saat itu, dia bersikeras bawha kasus calciopoli bukan salah Luciano Moggi seorang.

"Sesungguhnya ini adalah hal simpel, cukup berpikir bahwa setiap orang tidak bersalah, atau setiap orang sama sekali tak bersalah. Dalam kasus ini saya pikir semuanya tidak ada yang bersalah," kata Luciano Moggi.