FOLLOW US:

Bolanet Unseen: Dekat Mendekatkan Bersama Awak Redaksi

Rabu, 24-10-2018 12:00
Bolanet Unseen: Dekat Mendekatkan Bersama Awak Redaksi
Skuat Bola.net musim 2018/2019 © Bola.Net

Bolaneters, mulai minggu ini tantangan bagi tim redaksi Bola.net akan bertambah. Bukan hanya tantangan menyajikan informasi yang lebih baik, lengkap dan cepat, namun juga tantangan untuk membuat tim redaksi bisa lebih dekat dengan Bolaneters lewat tulisan sebelum nanti bisa bertemu di realita, semoga.

Menulis adalah santapan harian bagi teman-teman redaksi, namun tantangan menulis untuk mendekatkan yang jauh ini justru sempat membuat tim redaksi berpikir keras dan tak tahu harus menulis apa. Menulis tampaknya tidak pernah jadi sesulit ini bagi awak redaksi Bola.net.

Sembilan tahun sudah Bola.net ikut menghiasi dunia sepakbola Indonesia dengan rangkaian informasi sepakbola nasional dan internasional. Ibarat cinta, 'pertemuan' tiada henti, 24/7 antara tim redaksi dengan Bolaneters sudah seharusnya membuat hubungan ini semakin mesra, erat tak terpisahkan bukan?.

Namun seperti kata pepatah urusan percintaan, tak kenal maka tak sayang. Tulisan ini pada akhirnya hadir adalah salah satu usaha redaksi Bola.net untuk menjaga hubungan dengan Bolaneters tetap dekat, lebih dekat bahkan. Bukan hanya melulu soal siapa yang menyajikan dan siapa yang menikmati, tapi kini kita setidaknya bisa saling mengenal dan tahu masing-masing.

Oiya, untuk Bolaneters ketahui, susunan pemain di bola.net adalah 10 editor dan tiga reporter yang selalu setia menyediakan berita-berita terbaru di dunia sepakbola, dalam dan luar negeri. Semuanya, bisa dipastikan mencintai olahraga, terutama sepakbola dan terus berusaha menularkan kecintaan itu kepada Bolaneters lewat tulisan-tulisan yang bisa kalian nikmati tiap harinya.

Siapa saja mereka? Kuy, kita mengenal lebih dekat sosok yang berada di balik meja redaksi Bola.net.

Afdholud Dzikry

Afdholud Dzikry (c) Bola.Net

Sudah jatuh cinta pada sepak bola sejak dalam kandungan. Itu kata pria asal Desa Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini ketika diminta untuk menggambarkan seberapa cinta dan kapan mulai jatuh cinta pada dunia mengolah si kulit bundar.

Lahir di desa yang cukup jauh dari hingar bingar kota, dan dengan level tertinggi informasi sepakbola kala itu adalah 'katanya dan denger-denger', pria yang akrab disapa Afdhol, atau Dholud ini akhirnya benar-benar mampu memenuhi cintanya pada sepak bola ketika memasuki masa SMA. Bila kata kebanyakan orang masa SMA adalah masanya cinta-cintaan dengan cewek, Afdhol memilih jatuh cinta dengan sepak bola. Ya, hidup memang pilihan, katanya.

Hidup di zaman ketika tayangan sepak bola yang siarannya sampai di desa hanyalah Serie A dan berbekal informasi 'katanya tim terkuat di dunia' kala itu, itu pula yang membuatnya mulai menyukai Juventus, terlebih ada sosok idola masa kecilnya, Alessandro Del Piero di sana. Selain Bianconeri, tim idolanya adalah Chelsea yang menurut pengakuannya, jatuh cinta karena ada nama Gianfranco Zola dan beberapa pemain Italia di sana. Cinta itu bertahan hingga sekarang.

Saat ini mendapatkan tanggung jawab sebagai channel manager Bola.net dan terus berusaha bersama teman-teman redaksi menjadi lebih baik. Doakan ya Bolaneters!

As'ad Arifin

Asad Arifin (c) Bola.net

Cowok asal Bojonegoro ini mengaku masih belajar memahami sepakbola dan berusaha menuliskannya dengan lebih baik. Mengenal sepakbola di Surabaya dan punya minat untuk melihat langsung di tepi lapangan. Bermain sebagai gelandang bertahan, tapi tidak mahir.

Di luar sepakbola, Asad -panggilan akrabnya- adalah peminat bacaan buku-buku sejarah dan tema-tema menarik lain. Sebelum bekerja di Bola.net, pernah menjadi kontributor Goal Indonesia.

Yaumil Azis

Yaumil Azis (c) Bola.net

Awalnya sempat menjadi penggemar Liverpool usai melihat aksi meliuk indah dari Michael Owen di tahun 1998. Namun kini pria asal Makassar ini berpindah ke Juventus karena menurutnya selebrasi Filippo Inzaghi yang menunjukkan namanya di sudut lapangan terlihat jauh lebih keren.

Di luar sepak bola, menyaksikan konser dan menggali referensi musik baru merupakan kegiatan menarik lain untuk pria kelahiran Makassar, 29 Januari 1993 itu. Bacaannya pun didominasi oleh musik, selain sepak bola pastinya, dan sesekali ditemani jurnal Psikologi demi meraih gelar sarjana.

Sebelum bekerja di Bola.net, pernah menjadi salah satu karyawan magang di media yang berhubungan dengan traveling dan liburan. Selain itu, pernah juga berpartisipasi sebagai Volunteer di sebuah acara penulis yang digelar tahunan di Kota Makassar.

Mustopa El Abdy

Mustopa El Abdy (c) Mustopa El Abdy

Lahir dan besar di sebuah kampung di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Mengenal sepak bola sejak kecil dan suka memainkannya dari sawah ke sawah.

Gemar membaca novel dan semua buku tentang sepak bola. Mulai aktif menulis sejak di bangku kuliah dan pernah menjadi tenaga pengajar di sebuah lembaga pendidikan. Dan mulai awal 2017 hingga sekarang menjadi reporter di Bola.net untuk area Surabaya, Lamongan, Gresik dan Madura.

Serafinus Sapto Prasetyo Unus Pasi

Serafianus Sapto Prasetyo Unus Pasi (c) Bola.Net

Berawal dari VCD Tom & Jerry yang dibelikan orang tuanya, Abud -panggilan akrabnya- mengenal sebuah klub yang nantinya akan menjadi cinta pertama dan terakhir baginya, yaitu Manchester United (Gak nyambung ya? Nyambung kok, karena menurut pengakuannya di VCD itu sebelum masuk ke kartunnya ada iklan mengenai Mega Store Manchester United). Ditambah pesona Babang Beckham yang pada saat itu menjadi primadona sejuta umat, membuat Abud semakin mantap untuk mencintai Setan Merah meski semakin kesini katanya semakin nelangsa (Yang Fans MU Mohon bersabar, ini ujian.)

Selain menggilai sepakbola, cowok kelahiran Kupang ini juga sangat menyukai segala sesuatu yang berbau 'Jejepangan', mulai dari budaya, musik, kuliner, dan pop culturenya. Seorang Wota lumayan garis keras yang hatinya terpotek setelah Melody mengumumkan akan menikah di akhir tahun (Yang Melodi Oshi, yang sabar ya!). Sedang berusaha mewujudkan mimpi untuk suatu hari bisa ke Jepang dan sekarang sedang berjuang untuk mengambil Ujian JLPT N4 yang sulitnya bukan main, Tapi katanya, Ibadah Haji ke Old Trafford masih menjadi prioritas utama.

Selain aktif menulis soal sepakbola, Abud juga sedang mengembangkan kemampuan dibidang videografi dan musik. Saat ini ia sedang menekuni membetot bass dan sedang mencoba mengeksplorasi beberapa genre music.

Dimas Ardi Prasetya

Dimas Ardi Prasetya (c) Bola.net

Menurut pengakuannya, sudah suka sepak bola sejak tulisan tangan masih seperti tulisan ceker ayam alias sejak masih SD. Konon, ini ada andil karena tinggal di lingkungan yang diberkahi dengan adanya sebuah lapangan bola (walaupun milik militer) dan diberi suguhan pemandangan anak-anak sebaya hingga orang dewasa berlatih sepak bola tiap hari.

Dimas adalah penggemar klub yang bermarkas di Stadion Anfield, kira-kira sesaat sebelum era munculnya Michael Owen. Anehnya, sampai sekarang tak tahu alasan pasti kenapa bisa sangat suka Liverpool. Sempat juga suka Juventus, tapi akhirnya membelot ke AC Milan. Jangan tanya alasannya, karena yang ada cuma satu kata, 'lupa', begitu jawabnya.

Sepakbola memang sangat menarik, tapi ada juga hal lain yang tak kalah menariknya: kuliner dan film. Makanya, Dimas suka banget nonton film sambil ngemil-ngemil. Masalah kuliner ini juga pernah mengantarkan Dimas menjadi seorang penulis untuk sebuah website yang mengulas tempat-tempat makan yang recommended di kota Malang.

Dendy Gandakusumah

Dendy Gandakusumah (c) Dendy Gandakusumah

Lahir di Malang pada 12 Februari 1982, menurut pengakuannya, Dendy merasakan cinta pertama pada sepak bola ketika melihat aksi Eddy Harto dan I Gusti Putu Yasa berakrobat menghalau serangan lawan pada awal 90-an.

Sempat 'murtad' akibat terpukau aksi Hakeem 'The Dream' Olajuwon dan Jason Kidd, Dendy mengaku beruntung karena Eric Cantona, Peter Schmeichel, Roy Keane, Fernando Hierro, Michael Laudrup, dan Sinisa Mihajlovic mampu mengembalikan cintanya ke sepak bola.

Di luar sepak bola, Dendy suka melakukan kegiatan outdoor, semacam hiking dan camping. Selain itu, menikmati perjalanan dengan sepeda motor merupakan caranya menjaga kewarasan di tengah kepenatan kala berupaya menyajikan informasi-informasi akurat mengenai sepak bola Indonesia pada publik.

Ari Rachman Prayoga

Ari Rachman Prayoga (c) Bola.net

Bukan penggila sepak bola sejati, tapi selalu nyambung jika diajak ngobrol soal permainan si kulit bundar. Itu pengakuannya.

Menggemari Tim Merah dari pinggiran Sungai Mersey pun bukan murni karena kehebatan mereka di lapangan hijau, tapi juga banyak dipengaruhi budaya pop.

Sebagai mantan mahasiswa komunikasi, Ari mengaku lumayan bangga karena menjadi salah satu dari sedikit alumni seangkatan yang mencari sebongkah berlian di dunia media, sementara kebanyakan nyasar di bidang lain.

Pernah bercita-cita menjadi seorang music director, tetapi hidup memang terkadang meleset dari sasaran. Saat ini mencoba melampiaskan hasrat dengan menyusun playlist di platform streaming musik kesayangan kita semua.

Aga Deta Anditya

Aga Deta (c) Bola.net

Piala Dunia 1998 menjadi momen pria yang akrab di sapa Aga ini jatuh cinta pada sepak bola. Tepatnya, karena ia menikmati menonton aksi demi aksi dari legenda sepakbola Brasil, Ronaldo. Berawal dari situ kemudian menjadi cinta dengan Inter Milan.

Setelah Ronaldo hengkang ke Real Madrid, Aga mengaku masih tidak bisa berpindah hati mengikuti idolanya, tak kuasa katanya untuk meninggalkan Inter Milan juga. Akhirnya, ia mengaku tidak pernah bisa berpaling ke klub lain meski Inter tak selalu menjadi juara.

Di luar sepak bola, Aga senang dengan kuliner. Apalagi kuliner dengan bumbu kacang dan tidak pedas. Itu menjadi makanan favoritnya.

Richard Andreas Luturmas

Richard Andreas Luturmas (c) Bola.net

Namanya Richard Andreas. Dia lahir pada 23 April 1993, menyambut fajar di hari Jumat yang cerah di Kota Malang. Sebut saja Andre. Dia tak mau bicara banyak soal sepak bola. Katanya, di Bola.net sudah ada begitu banyak manusia yang ahli soal sepak bola, Andre lebih suka bicara soal perihal lain, misalnya soal Bahasa Indonesia atau buku-buku yang bagus dan membuat neuron di otakmu bergerak jauh lebih cepat setelah membacanya.

Ya, jika diurutkan, sepak bola berada di nomor sekian dalam daftar hobi Andre. Pertama, tidur siang. Kedua, makan. Ketiga, membaca buku. Keempat, menulis. Kurang lebih demikian. Sepak bola masih nomor sekian.

Andre lebih menyukai kata-kata ketimbang olah bola. Dia gemar membaca tulisan Haruki Murakami,Orhan Pamuk, Eiji Yoshikawa, Rick Riordan, J.K. Rowling, J.R.R Tolkien, Charles Dickens, Ernest Hemingway, Han Kang, Leo Tolstoy, Michael Ondaatje, Karl Max, Max Havelaar, Sun Tzu, Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Mochtar Lubis, Buya Hamka, dan masih banyak lagi, ratusan!

Uniknya, buku favorit Andre justru The Little Prince oleh Antoine de Saint-Exupéry, yang sebenarnya merupakan buku anak-anak! Jadi, jika ingin mengenal Andre, duduklah bersama dia dan bicara selama 10 sampai 30 menit. Niscaya kau akan terkejut!

Anindhya Danartikanya

Anindhya Danartikanya (c) Bola.net

Meski sempat bercita-cita menjadi ahli kelautan, perempuan yang akrab disapa Kanya ini tak bisa melepaskan rasa cintanya pada dunia olahraga. Sejak kecil menggemari olahraga basket, saat tumbuh dewasa ia pun jatuh cinta pada dunia motorsport.

Kecintaannya pada MotoGP berawal dari seri balap di Sirkuit Phillip Island, Australia 2005, di mana Valentino Rossi meraih kemenangan atas Nicky Hayden. Sejak itu, Kanya pun terus mengikuti perkembangan dunia balap hingga membuatnya ingin terjun ke dunia jurnalistik olahraga.

Di luar pekerjaan, perempuan kelahiran Surabaya ini memiliki hobi menonton film dan membaca buku. Ia juga tak pernah melupakan dunia basket dan terus mendukung pemain favoritnya, Blake Griffin.

Fitri Apriani

Fitri Apriani (c) Fitri Apriani

Menyukai sepak bola sejak 2007. Dara kelahiran Bandung ini mengaku bahwa Cristiano Ronaldo adalah sosok yang bertanggung jawab atas kecintaannya pada dunia si kulit bundar.

Mulai merintis karir di dunia jurnalistik sebagai fotografer di salah satu media di Jakarta pada 2014. Akhir 2015, mengabdi sebagai reporter sepak bola nasional di Bola.net hingga sekarang.

Gia Yuda Pradana

Gia Yuda Pradana (c) Bola.net

Lahir dan mengenal sepakbola di sebuah desa di Probolinggo, Jawa Timur, di tengah keluarga yang cukup menyukai sepakbola. Sama seperti anak-anak generasi 80-an lainnya, hampir setiap hari di masa kecil diisi dengan bermain sepakbola, baik di halaman rumah, halaman sekolah maupun lapangan desa. Itu berlanjut hingga remaja, tapi hanya sampai sebatas level amatir (baca: tarkam).

Awalnya suka melihat siaran pertandingan Serie A di televisi, lalu wawasan bertambah sejak mengenal tabloid BOLA - tabloid legendaris yang sebentar lagi akan meninggalkan para pembaca setia dengan sejuta kenangan indahnya. Dari situ, lahirlah kecintaan terhadap salah satu klub Italia yang kala itu mungkin hampir sama sekali tidak populer di kalangan rekan-rekan sejawat. Saat yang lain menjadi penggemar AC Milan, Inter Milan, Juventus atau Manchester United, saya suka pada klub ini - yang waktu itu lini pertahanannya dikawal Fabio Cannavaro, Lilian Thuram dan Gianluigi Buffon, serta memiliki duet Hernan Crespo dan Enrico Chiesa di lini serang.

Fast forward jauh ke depan, lulus kuliah, bekerja di beberapa tempat dengan bidang yang berbeda pula, lalu mencoba membangun rumah tangga. Akhirnya, pria penyuka kucing yang notabene menyandang gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris ini berada di Bola.net - sementara mayoritas teman-teman seangkatan terjun ke dunia pendidikan. Selain sepakbola, Gia juga suka komputer, berselancar di internet dan membaca. Di sini, ia mulai belajar menulis, bahkan sampai sekarang karena mottonya adalah belajar itu sampai akhir hayat, bukan hanya sampai di sini aja, hehehe...

Tema tulisan-tulisan Gia di Bola.net juga terus mengalami perubahan. Awalnya berita-berita terjemahan, lalu merambah ke statistik serta features, dan sekarang ditugasi membuat preview pertandingan-pertandingan. Banyak yang berubah, tapi klub favorit tidak.

Bahkan sampai sekarang - setelah berulang kali ditinggal pemain-pemain bintangnya, bangkrut, degradasi, promosi, bangkrut lagi, dilempar ke Serie D, di-bully teman-teman sekantor (tapi tetap tabah hahaha), lalu kembali lagi ke Serie A dipimpin ‘nomor 6 abadi’ Alessandro Lucarelli (dan masih saja di-bully namun tetap tabah juga) - Gia tetap menyukai mereka.

Di luar pekerjaan adalah waktunya untuk beristirahat dan 'berkeluarga' :) Ini bisa tambah lama kalau diceritakan juga, hahaha.

Karena tulisan ini harusnya cuma dua atau tiga paragraf, dan ini sudah terlalu panjang, maka sampai di sini saja ya Bolaneters. Forza Parma (halah).

Bagaimana Bolaneters, sudah sedikit mengenal tim redaksi bola.net khan? Sebagai awal dari perkenalan, kita cukupkan di sini ya Bolaneters. Ke depannya, kami akan berusaha untuk rutin memberikan informasi tentang kegiatan dari tim redaksi. Mohon doanya.

Bravo Bola.net!