FOLLOW US:

Stephen Hawking Menjawab Soal Sepakbola yang Lebih Rumit dari Fisika

Kamis, 15-03-2018 15:11
Stephen Hawking Menjawab Soal Sepakbola yang Lebih Rumit dari Fisika
Stephen Hawking © Ist

Bola.net - Stephen Hawking adalah seorang ilmuwan ternama di dunia. Menggeluti bidang kosmologi dan fisika, sudah banyak misteri yang ia pecahkan terkait pertanyaan-pertanyaan yang kerap mengusik kepalanya. Tapi untuk memecahkan teka-teka sepakbola, profesor asal Inggris tersebut mengaku sangat rumit.

Salah satu yang membuat Hawking tenar adalah temuannya terkait lubang hitam. Pria yang menderita kelumpuhan motorik sejak usia 21 tahun tersebut menjabarkan salah satu gagasannya dalam sebuah buku yang fenomenal, A Brief History of Time. Itu adalah buku yang terjual laris di dunia tapi tak mudah bagi sebagian orang untuk memahami gagasan tersebut.

Ketika pertanyaan-pertanyaan tentang pergerakan alam semesta tersebut sudah ia temukan pangkal ujungnya, ternyata tidak mudah juga bagi Hawking menjawab pertanyaan yang menyangkut soal sepakbola.

Dalam sepakbola banyak unsur yang dapat dilihat dari ilmu fisika, yang menjadi keahlian utama Hawking. Mungkin mudah baginya untuk mengulas kecepatan pemain atau sebab tendangan bebas Cristiano Ronaldo bisa berbeda dengan pemain lainnya. Pasalnya semua gerak di atas lapangan memiliki hubungan dengan ilmu fisika, seperti gravitasi, kecepatan, daya dan lain sebagainya.

Melihat hal itu, bagaimana cara memetik kemenangan atas lawan melalui kalkulasi fisika mestinya juga bisa dilakukan. Dengan demikian, formula untuk mendapat kemenangan dalam satu pertandingan pun mungkin bisa dipaparkan pada suatu saat nanti.

Hawking Melakukan Kalkulasi pada Timnas Inggris

Pada tahun 2014, Hawking pernah mendapatkan tantangan untuk mencarikan formula untuk tim nasional Inggris agar bisa menjadi juara Piala Dunia di Brasil. Pasalnya tim berjuluk The Three Lions tersebut sudah lama tak mampu menjadi juara pada ajang tersebut sejak meraihnya pertama kali pada tahun 1966.

Ia kemudian melakukan sebuah kajian selama satu bulan. Profesor jebolan Universitas Cambridge tersebut kemudian mengumpulkan data-data yang dibutuhkan. Ia mencoba mencari sebuah pola dari sesuatu yang tampak tidak memiliki pola (chaos).

Saat itu Hawking melihat kembali 45 pertandingan yang dijalani Inggris sejak pagelaran Piala Dunia 1966. Dari sana ia mendapatkan kesimpulan bahwa untuk menuju panggung juara, Inggris paling tidak harus bisa menaklukkan beberapa hal di antaranya faktor lingkungan, fisiologi, psikologi, politik, dan tentu saja taktik. Tentu saja mengambil kesimpulan dari beberapa faktor tersebut sangat sulit. Mungkin membutuhkan laboratorium yang sangat besar untuk kajian lebih lanjut.

"Ini sangat rumit. Bahkan, dibandingkan dengan sepakbola, saya kira fisika kuantum jauh lebih straightforward (sederhana)," begitu kata Hawking saat itu.

Namun ia tetap mencoba untuk melakukannya. Dari data-data berkaitan dengan Timnas Inggris yang telah ia kumpulkan tersebut, dilakukan hitungan matematis sederhana.

Menurut penelitian singkat tersebut, Hawking menarik kesimpulan bahwa Inggris akan lebih berpeluang menjadi juara jika bermain dengan formasi 4-3-3 daripada menggunakan 4-4-2. Kesimpulan tersebut dari fakta yang sederhana bahwa Inggris memang tercatat lebih banyak memenangkan pertandingan (58%) ketika menggunakan tiga penyerang. Sementara empat gelandang dengan dua penyerang hanya memiliki presentasi kemenangan 48%.

Kemudian berkaitan dengan psikologi pemain, Hawking menyarankan kepada Timnas Inggris untuk mengenakan seragam warna merah. Merujuk pada temuan pakar psikologi dari Jerman, Hawking mengatakan bahwa warna merah bisa membuat kesatuan tim menjadi lebih percaya diri. Warna tersebut lebih baik daripada warna putih.

"Data Inggris menunjukkan bahwa kami lebih sukses jika memakai seragam berwarna merah, dan juga kami harus bermain dengan 4-3-3 ketimbang 4-4-2. Merah membuat tim merasa lebih percaya diri karena dianggap sebagai warna yang lebih agresif dan dominan. Sementara itu, 4-3-3 adalah sistem yang lebih positif dan bermanfaat bagi tim karena alasan psikologis yang sama." begitulah ilmuwan ketika berbicara, selalu menggunakan data.

Cuaca juga menjadi unsur penting untuk Inggris dalam upaya meraih gelar Piala Dunia. Jika tempat bermain lebih panas 5 derajat celcius saja dari Inggris, maka itu akan menurunkan kesempatan Inggris memenangkan pertandingan sebanyak 59 persen. Fisik orang Inggris dikatakan hanya bisa bermain bagus jika bermain di dalam ketinggian 500 meter di atas laut.

Dan yang tak kalah menarik, adalah cara menendang penalti yang benar menurut ahli fisika tersebut. Menurutnya, arah tembakan penalti akan lebih berpeluang menjadi gol jika mengarah pada pojok atas kanan atau kiri.

"Statistik mengkonfirmasi. Tempatkan bola di pojok atas kiri atau kanan untuk memperoleh kesempatan terbaik untuk sukses. Sejumlah 84% dari tendangan penalti ke daerah tersebut akan menghasilkan gol," paparnya.

Ia tak melihat ada perbedaan antara pemain kidal dan pemain dominan kaki kanan. Hawking justru melihat pemain berambut gondrong dan pemain gundul lebih mudah mencetak gol dari titik putih penalti.

"Tapi pemain botak dan pemain berambut gondrong bisa lebih mudah menceploskan gol. Alasannya ini masih tidak jelas, tapi ini akan menjadi misteri sains," katanya.

Lebih jauh lagi ia mengatakan sebelum melakukan tembakan penalti perlu melakukan tiga langkah ke belakang untuk mendapatkan kecepatan yang pas pada laju bola.

Bantahan terhadap Gagasan Sepakbola Hawking

Namun menurut Jim Al-Khalili yang merupakan fisikawan dari Universitas Rurrey mengatakan bahwa teori Hawking soal penalti tersebut tidak ada gunanya, meskipun terlihat menarik.

Menurut Al Khalili yang pernah terjun ke dunia sepakbola menyatakan bahwa banyak faktor yang dapat menentukan kesuksesan penalti. Bukan hanya bicara teknik, tapi lebih daripada itu menyangkut psikologi pemain, kemampuan, dan ketekunan berlatih. Dan berbicara soal faktor yang bisa memberi pengaruh pada pemain meliputi psikologi, politik, taktik, dan lingkungan--tak mungkin bisa dirumuskan dalam satu formula.

Terlepas dari perdebatan itu, bahwa rumusan formula untuk mencari sebuah kemenangan dalam pertandingan sepakbola mungkin bisa dilakukan tapi tentu saja itu membutuhkan tempat kerja yang sangat kompleks, yang mungkin belum tersedia untuk sekarang ini. Dan untuk memecahkan itu butuh otak yang jenius seperti Hawking.

Sayangnya, sebelum semua itu semua terpecahkan, Stephen Hawking pergi meninggalkan dunia di usia yang ke-76 pada hari Rabu (14/3) kemarin di rumahnya.