FOLLOW US:

VAR dan Kematian Sepakbola yang Manusiawi

Kamis, 05-10-2017 19:02
VAR dan Kematian Sepakbola yang Manusiawi
Ilustrasi Wasit © Ist

Bola.net - Konon 31 tahun lalu, Diego Maradona mencetak gol dengan tangannya. Wasit tak melihatnya sehingga gol tersebut dianggap sah.

Gol fenomenal tersebut terjadi di babak perempat final Piala Dunia 1986, saat Argentina bertemu dengan Inggris. Gol tersebut terjadi setelah Maradona memberikan umpan pada Jorge Valdano. Pemain Inggris, Steve Hodge, mencoba menghadang Valdano. Namun bola justru melambung dan jatuh depan gawang Inggris yang dijaga Peter Shilton.

Maradona menyambarnya, dan bola masuk ke dalam gawang Inggris. Sekilas, gol tersebut tampak dicetak menggunakan kepala. Tapi faktanya, Maradona meneruskan bola tersebut dengan tangannya. Tentu saja hal itu adalah pelanggaran. Namun wasit tak melihatnya.

Kubu Inggris yang tak terima dengan gol itu lantas melakukan protes pada wasit Ali Bin Nasser yang memimpin pertandingan. Namun wasit tak memenuhi tuntutan itu. Pada akhirnya, Inggris harus menyerah dengan skor 2-1.

Kemenangan tersebut tentu saja menjadi salah satu penentu Argentina yang kemudian menjadi juara setelah mengalahkan Jerman Barat di partai final dengan skor 3-2.

Dari sanalah kemudian Maradona menyandang julukan pemain ‘Tangan Tuhan’ karena ia mencetak gol dengan cari gaib, dengan tangan tapi tidak ketahuan wasit. Dan fenomena ini terus menjadi perbincangan yang menarik bagi pencinta sepakbola hingga saat ini.

Gol ‘Tangan Tuhan’ seperti Maradona tak akan terjadi jika misalnya sudah ada VAR (Video Assistant Referees) seperti sekarang, yang telah diterapkan di berbagai liga termasuk Serie A Italia. VAR adalah sebuah sistem tayangan video yang bisa diulang untuk membantu wasit utama dalam mengambil keputusan penting dalam pertandingan.

Terkait teknologi ini, presiden FIFA Gianni Infantino, mengklaim VAR adalah teknologi yang sudah menjadi kebutuhan sepakbola modern. Ide teknologi tersebut lahir, tentu saja, karena menilai wasit mungkin melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan. Teknologi VAR pun hadir. Kemudian teknologi tersebut pertama kali diterapkan dalam satu turnamen penuh ketika berlangsung Piala Konfederasi 2017 di Rusia kemarin.

“Hal yang telah lama ditunggu fans selama bertahun-tahun akhirnya terjadi. (Piala Konfederasi) ini adalah turnamen yang menjadi tonggak sejarah. VAR adalah masa depan sepakbola modern,” ucapnya.

Karena menggunakan kamera ‘pengintai’, memang semua kejadian-kejadian penting selama pertandingan tak akan lolos dari pantauan.

Terdapat objek prioritas dalam penerapan VAR. (1) Kejadian Gol: Wasit mendapat rekomendasi dari tim VAR apakah gol yang terjadi itu sah atau sebelumnya terjadi pelanggaran atau offside. (2) Keputusan Penalti: VAR digunakan untuk mencegah kesalahan dalam keputusan penalti. (3) Kartu Merah: Wasit bisa mendapatkan kepastian dari tayangan ulang sebelum memutuskan apakah layak mengeluarkan kartu merah secara langsung. (4) Identifikasi Kartu Merah atau Kuning: Teknologi ini juga digunakan untuk memutuskan dengan tepat orang yang harus mendapat kartu kuning atau merah.

Adapun prosedur penerapan teknologi ini, jika terjadi hal di atas: Pertama, wasit memberi tahu pada tim VAR jika ingin melihat tayangan ulang, atau sebaliknya, wasit yang diminta untuk melakukan review. Kedua, wasit utama mendapat nasihat dari tim VAR setelah melakukan review via headset. Terakhir, wasit utama memutuskan melihat rekaman video di pinggir lapangan sebelum mengambil keputusan atau menerima saran dari tim VAR.

Tahapan tersebut membuat pertandingan sering molor sekian lama. Ini keluhan yang sering dilontarkan sejauh ini.

Belum lama ini, pelatih Juventus Massimiliano Allegri, mengeluhkan penggunaan VAR yang kurang optimal. Jika masalah ini terus berlanjut, ia menilai sepakbola bisa memakan waktu lebih lama dari biasanya, ibsa berubah menjadi empat jam karena seringnya pertandingan terhenti menunggu wasit mengambil keputusan menggunakan VAR.

"Jika kita ingin sepakbola menjadi olahraga yang tak lagi menjadi olahraga, maka gunakan VAR di semua insiden. Jika kami memasuki bulan Maret, di mana semua poin akan menjadi penting, pertandingan bisa berlangsung antara tiga hingga empat jam," keluhnya.

Masalah molornya pertandingan bukan satu-satunya. VAR juga bisa membuat pemain maupun penonton kebingungan. Ketika Chile bertemu dengan Kamerun di Piala Konfederasi, Eduardo Vargas mencetak gol pembuka dalam laga itu. Ia pun selebrasi dengan penuh suka ria. Kebahagiaan meredup seketika karena VAR beberapa waktu kemudian membuktikan Vargas dalam posisi offside sebelum cetak gol.

Setelah itu, Vargas cetak gol lagi. Wasit garis segera angkat bendera tanda Vargas dalam posisi offside. Vargas pun kecewa dan tak merayakan gol tersebut. Namun tak lama setelah itu, wasit utama memutuskan gol Vargas sah. Tapi, emosi Vargas sudah terlanjur meredup setelah gol keduanya, ia pun merayakan ala kadarnya dengan rekan-rekan di pinggir lapangan.

Sementara itu, Gianluigi Buffon, juga menyampaikan pandangannya terhadap penerapan VAR yang sejauh ini belum maksimal. Ia menilai VAR akan menghilangkan esensi sepakbola yang tujuannya adalah sebagai hiburan.

Kapten Juventus tersebut menyampaikan pendapatnya ketika Juventus akan mendapatkan hadiah penalti, namun wasit terlalu lama mengambil keputusan karena harus melihat tayangan ulang sebelum memutuskan. Ketika wasit menunjuk titik putih, emosi pemain sudah mereda sehingga Juventus tak merayakan momen penting itu.

"Ini memakan waktu terlalu lama, sampai saya tak sempat selebrasi ketika kami mendapat penalti, karena enam menit telah berlalu," kata Buffon.

Memang benar, jika teknologi terlalu banyak ikut campur dalam permainan sepakbola, apalagi jika penerapannya terlalu rumit seperti VAR saat ini, maka sisi hiburan dan kemanusiaannya pun akan hilang. Sebab olahraga ini digemari selama berabad-abad salah satunya adalah karena adanya kontroversi terhadap keputusan wasit yang profesional. Tapi di sisi lain, para wasit juga manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Anda setuju VAR?