Kolom Bola.net: Spanyol Menciptakan Sistem, Bukan Bintang

Kolom Bola.net: Spanyol Menciptakan Sistem, Bukan Bintang
Timnas Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) (c) AP Photo/Julio Cortez

Bola.net - Pekan lalu sebelum pertandingan semifinal Spanyol melawan Prancis saya sudah menuliskan tentang transformasi Spanyol. Dalam tulisan itu saya menjelaskan bagaimana La Roja berhasil mematahkan ungkapan bernada sarkas, "Silakan bawa pulang bolanya, saya yang angkut trofinya."

Dalam transformasinya, Spanyol tidak lagi sekadar tim yang menikmati dominasi penguasaan bola, tetapi juga tim yang memiliki obsesi menang. Filosofi tiki-taka tidak ditinggalkan, melainkan dipadukan dengan mentalitas kompetitif yang pernah ditanamkan Luis Aragones. Transformasi itu mengantar rekor luar biasa Luis de la Fuente dengan hanya sekali kalah dalam 39 pertandingan kompetitif hingga menjadi juara Piala Dunia 2026. Kekalahan terakhir adalah 0-2 dari Skotlandia pada Maret 2023.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin menjelaskan perubahan yang lebih mendasar. Mengapa penguasaan bola yang dulu hanya dianggap indah, kini berubah menjadi mesin kemenangan? Jawabannya bukan semata-mata soal taktik tetapi terbangunnya sebuah sistem.

Luis de la Fuente tidak datang sebagai penyihir yang mengubah wajah Spanyol dalam semalam. Dia justru merupakan produk dari sistem itu sendiri. Sejak 2013 dia menangani tim kelompok umur Spanyol, membawa U-19 menjuarai Euro 2015, kemudian mengantar U-21 menjadi juara Eropa sebelum dipercaya menangani tim senior.

Selama lebih dari satu dekade, dia mengajarkan bahasa sepak bola yang sama kepada beberapa generasi pemain. Ketika naik ke level berikutnya, para pemain tidak sedang belajar filosofi baru. Mereka hanya melanjutkan pelajaran yang sama dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Sekadar ilustrasi, saat juara Euro U-19 2015, De la Fuente membawa tim yang termasuk Unai Simon, Rodri and Mikel Merino. Lawannya saat itu Prancis, tidak ada yang tersisa hingga 2026 kecuali Ousmane Dembele dan Marcus Thuram yang menjadi cadangan 11 tahun lalu.

Anda juga akan kaget, saat kalah melawan Prancis di semifinal Euro U-19 tahun 2013 Aymeric Laporte yang kini menjadi tulang punggung De la Fuente masih tergabung dengan lawan. Laporte baru membela timnas Spanyol pada 2021.

"Siapa yang menyangka, sejak 2015, bahwa 11 tahun kemudian kita akan berada di final Piala Dunia setelah perjalanan yang telah kita lalui?" kata De la Fuente dikutip dari tulisan David Alvarez di El Pais berjudul "Bagaimana pelatih Spanyol menghabiskan lebih dari satu dekade merekrut para pemain yang akan tampil di final Piala Dunia."

Sempurnakan Sistem yang Ada

Sempurnakan Sistem yang Ada

Lamine Yamal mencoba mempertahankan bola dari kejaran Nicolas Tagliafico di Final Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) (c) AP Photo/Ashley Landis

Dari sisi teknis, perubahan terbesar yang dilakukan De la Fuente bukanlah mengurangi penguasaan bola, melainkan mengubah tujuan penguasaan bola. Dalam salah satu wawancaranya, dia mengatakan persoalan Spanyol bukan memiliki bola terlalu lama, melainkan menguasai bola tanpa mampu bergerak maju. Bola bukan lagi digerakkan kanan dan kiri melainkan alat untuk menciptakan progresi vertikal.

Dalam praktik misalnya, De la Fuente menuntut Rodri berani mengambil risiko umpan vertikal dan membawa bola melewati lini pertahanan lawan, bukan cuma jadi ban serep di depan bek tengah.

Perubahan lain yang sering luput dibicarakan adalah orientasi permainan. Jika era sebelumnya begitu terobsesi pada jumlah operan, maka Spanyol hari ini lebih terobsesi menguasai ruang. Emma Hayes dalam artikelnya di The Guardian menggambarkan mereka sebagai "masters of time and space" atau penguasa waktu dan ruang.

Bola memang tetap berputar dari kaki ke kaki, tetapi yang sesungguhnya sedang mereka kendalikan adalah posisi lawan, ritme pertandingan, dan ruang yang akan dieksploitasi. Operan tidak lagi menjadi angka statistik, melainkan instrumen untuk menciptakan keunggulan posisi.

Semua itu hanya mungkin terjadi karena Spanyol memiliki sesuatu yang belum banyak dimiliki negara lain yaitu kesinambungan sistem. Di akademi-akademi mereka, dari Barcelona hingga Bilbao, dari Sevilla hingga Madrid, anak-anak belajar prinsip yang serupa yaitu orientasi tubuh, rondo, permainan posisi (juego de posicion), rotasi ruang, hingga kapan harus mempercepat serangan. Ketika mereka mengenakan seragam tim nasional, De la Fuente tidak perlu mengajari ejaan alfabet sepak bola lagi. Dia tinggal menyusun kalimat.

Warisan De La Fuente untuk Sepakbola Spanyol

Warisan De La Fuente untuk Sepakbola Spanyol

Pelatih Timnas Spanyol, Luis De La Fuente (c) AP Photo/Manu Fernandez

Menyaksikan Spanyol di final lawan Argentina, identitas permainan tidak berubah. Mekanisme tetap berjalan, karena yang menjadi fondasi bukan kecemerlangan individu, melainkan pemahaman kolektif terhadap sistem. Berbeda dengan banyak tim yang kehilangan arah ketika bintang utamanya absen, Spanyol tetap mampu memainkan sepak bola yang sama karena setiap pemain memahami fungsi dan peran. Perhatikan saat Rodri ditarik keluar dan masuk Martin Zubimendi, permainan Spanyol tidak berubah. Padahal sepanjang Piala Dunia 2026 sebelum final, Zubimendi belum pernah main.

Final melawan Argentina terasa seperti puncak evolusi Spanyol. Mereka mendominasi penguasaan bola, menekan tinggi, mengendalikan ritme pertandingan, dan akhirnya mencetak gol kemenangan pada menit-menit akhir. Trofi itu bukan sekadar kemenangan satu generasi, melainkan pembuktian bahwa sistem mampu mengalahkan ketergantungan pada individu.

Banyak negara berusaha melahirkan pemain hebat. Banyak pula yang berharap menemukan pelatih jenius. Spanyol memilih jalan yang lebih panjang sekaligus lebih sulit dengan membangun sistem. Dan ketika sistem itu matang, mereka tidak lagi sekadar menciptakan bintang. Mereka menciptakan generasi demi generasi yang mampu membuat sepak bola indah sekaligus memenangi pertandingan.

Itulah warisan terbesar Luis de la Fuente bahwa di era sepak bola modern, yang paling sulit bukan menemukan pemain hebat. Inilah yang perlu disadari semua stakeholder sepak bola termasuk di Indonesia, yang paling sulit adalah membangun sebuah sistem yang membuat siapa pun mampu menjadi hebat. Anda setuju?

*Kolom opini ini ditulis oleh Titis Widyatmoko, Pemimpin Redaksi dari Liputan6.com.