Analogi Medis untuk Kekalahan Tottenham dari PSG: Operasi Berhasil, tapi Pasien Meninggal
Richard Andreas | 14 Agustus 2025 06:41
Bola.net - Thomas Frank menggunakan analogi medis yang unik untuk menggambarkan kekalahan menyakitkan Tottenham. Pelatih Denmark tersebut menyebut kekalahan lewat adu penalti dari PSG di final UEFA Super Cup sebagai "operasi yang berhasil, tapi pasien meninggal."
Spurs sebelumnya tampil mengesankan dengan membangun keunggulan 2-0 melalui aksi Micky van de Ven dan Cristian Romero. Namun, comeback dramatis PSG di 20 menit terakhir menghancurkan semua rencana sempurna tersebut.
Lee Kang-in memulai kebangkitan PSG dengan gol di menit ke-85 yang memecah kebuntuan. Goncalo Ramos kemudian menyempurnakan comeback spektakuler dengan gol penyeimbang di masa tambahan yang memaksa laga berlanjut ke babak adu penalti.
Babak adu penalti menjadi mimpi buruk bagi Tottenham ketika Van de Ven dan Mathys Tel gagal mengeksekusi dengan sempurna. Nuno Mendes tampil sebagai pahlawan PSG dengan memastikan kemenangan 4-3 melalui tendangan penalti penutup.
Hasil mengecewakan ini menggagalkan ambisi Tottenham untuk menjadi klub Inggris ketujuh yang meraih gelar Super Cup. Performa impresif dengan eksperimen formasi baru 5-3-2 justru runtuh ketika PSG menunjukkan kualitas sesungguhnya.
Kekalahan di final bergengsi ini tentu menjadi pukulan berat bagi Frank yang baru memulai petualangannya bersama Spurs. Debut sebagai manajer baru berakhir dengan kekecewaan meski menunjukkan tanda-tanda positif.
Eksperimen Formasi Baru Hadapi PSG
Frank menjelaskan keputusannya melakukan perubahan taktik radikal dengan menurunkan Mohammed Kudus berdampingan dengan Richarlison di lini depan. Formasi 5-3-2 dipilih sebagai senjata khusus untuk menghadapi kekuatan PSG.
"Saya tahu kami harus melakukan sesuatu yang sedikit berbeda melawan PSG, jadi ini seperti operasi khusus," ungkap pelatih berusia 51 tahun tersebut. Keputusan berani ini membuktikan kemauan Frank untuk berinovasi dalam menghadapi lawan berkualitas tinggi.
"Kalau dalam istilah medis, operasinya berhasil tapi pasien meninggal. Jadi pada akhirnya tidak terlalu baik," lanjutnya dengan nada yang menggambarkan kekecewaan mendalam.
Frank mengakui bahwa rencana permainan yang berbeda hampir membuahkan hasil sempurna. "Tapi kami bekerja dengan rencana permainan yang sedikit berbeda dan kami hampir sukses," tambahnya sambil menunjukkan optimisme di balik kekecewaan.
Menurut analisis Frank, hasil imbang 2-2 melawan PSG sebenarnya merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. "Kalau dipisahkan dari adu penalti, itu hasil yang bagus," tegasnya untuk memberikan perspektif positif.
"Mungkin kami perlu berlatih penalti, mungkin itu kunci untuk menang di final," katanya sambil menyoroti kelemahan fatal yang harus diperbaiki ke depan. Evaluasi jujur ini menunjukkan kematangan Frank dalam menganalisis kekurangan timnya.
Fokus ke Liga Setelah Banyak Hal Positif

Frank tetap mempertahankan pandangan optimis meski harus menelan kekalahan di final bergengsi. Pelatih berpengalaman ini lebih fokus pada aspek-aspek positif yang ditunjukkan timnya selama 120 menit pertandingan.
"Jika semua orang bilang kami akan imbang lalu kalah di adu penalti, orang akan menganggap itu cukup impresif," ujar Frank dengan penuh keyakinan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ekspektasi realistis memang tidak terlalu tinggi sebelum laga.
Pujian khusus diberikan Frank kepada para pemainnya yang menunjukkan dedikasi total sepanjang pertandingan. "Dan ketika melihat penampilan serta usaha mereka , luar biasa," ungkapnya dengan penuh apresiasi.
"Mentalitas mereka sepanjang laga benar-benar hebat," tambah Frank sambil menekankan aspek mental yang menjadi fondasi penting dalam setiap pertandingan. Karakter kuat inilah yang akan menjadi bekal berharga untuk tantangan-tantangan ke depan.
Fokus kini beralih ke kompetisi domestik dengan Tottenham yang akan memulai musim Premier League. Laga pembuka melawan Burnley pada Sabtu mendatang menjadi kesempatan emas untuk memulai awal yang positif di liga.
PSG yang berhasil meraih trofi kelima pada tahun 2025 akan memulai musim Ligue 1 di markas Nantes. Kemenangan ini semakin memperkuat posisi mereka sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa musim ini.
Jangan sampai ketinggalan infonya
- Kiper Baru PSG Lucas Chevalier Jadi Penyelamat: Tepis Penalti, Singkirkan Tottenham, Raih Trofi Pertama
- Lucas Chevalier Dari Blunder Menjadi Pahlawan: Debut Dramatis di Final Piala Super Eropa
- Selamat! Usai Lalui Laga Dramatis, PSG Balikkan Keadaan Lawan Tottenham dan Juara Piala Super Eropa 2025
- Hasil Piala Super Eropa 2025 PSG vs Tottenham: Lewat Comeback Dramatis dan Drama Adu Penalti, PSG Juara!
- Donnarumma dan Ambisi Besar di Inggris: Terinspirasi Sukses Legenda Italia di Man City
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Tottenham Menyusul? 6 Kasus Degradasi Paling Mengejutkan di Premier League
Editorial 24 Maret 2026, 11:00
-
Bukan ke MU, Roberto De Zerbi Bakal Latih Klub Ini?
Liga Inggris 24 Maret 2026, 10:20
-
Selamatkan Musim dan Selamatkan Pekerjaan: Arne Slot Perlu Fokus 3 Aspek Ini
Liga Inggris 24 Maret 2026, 06:17
-
Igor Tudor Mendapat Kabar Ayahnya Meninggal usai Tottenham Kalah
Liga Inggris 24 Maret 2026, 01:41
LATEST UPDATE
-
Real Madrid Siapkan Perombakan Besar, Enam Pemain Baru Direncanakan
Liga Spanyol 30 Maret 2026, 14:13
-
Panduan Mengalahkan Bosnia & Herzegovina dari San Marino untuk Timnas Italia
Piala Dunia 30 Maret 2026, 14:00
-
Jens Raven, Mesin Gol Junior yang Siap Uji Diri di Timnas Indonesia Senior
Tim Nasional 30 Maret 2026, 13:54
-
Francesco Totti Bicara Peluang Inter Raih Scudetto
Liga Italia 30 Maret 2026, 13:22
-
Charles De Ketelaere Tak Menyesal Gabung AC Milan, Akui Kurang Percaya Diri
Liga Italia 30 Maret 2026, 13:08
LATEST EDITORIAL
-
3 Alternatif Murah Julian Alvarez untuk Barcelona di Bursa Transfer
Editorial 30 Maret 2026, 11:45
-
5 Pencapaian Luar Biasa Mohamed Salah di Liverpool
Editorial 27 Maret 2026, 15:50
-
5 Kiper Pengganti Potensial untuk Chelsea, Solusi dari Krisis di Bawah Mistar
Editorial 26 Maret 2026, 14:56










