Dongeng Indah Bodo/Glimt Terhenti dengan Cara Menyakitkan, tapi Sejarah Telah Tercipta di Liga Champions

Ari Prayoga | 18 Maret 2026 11:11
Dongeng Indah Bodo/Glimt Terhenti dengan Cara Menyakitkan, tapi Sejarah Telah Tercipta di Liga Champions
Kekecewaan skuad Bodo/Glimt usai disingkirkan Sporting CP di babak 16 besar Liga Champions 2025/2026, Rabu (18/3/2026). (c) AP Photo/Ana Brigida

Bola.net - Perjalanan sensasional Bodo/Glimt di musim ini akhirnya harus terhenti. Namun, tim asal Norwegia tersebut tetap meninggalkan panggung Liga Champions dengan kepala tegak setelah mencatatkan sejarah yang sulit dilupakan.

Klub yang berbasis di kota kecil dekat Lingkar Arktik ini tampil sebagai salah satu kejutan terbesar. Bermain dalam kondisi cuaca ekstrem, dingin menusuk, bersalju, dan berangin, tak menghalangi mereka untuk melangkah jauh hingga fase gugur pada debutnya di kompetisi elite Eropa.

Advertisement

Sayang, perjalanan Bodo/Glimt di Liga Champions musim 2025/2026 harus terhenti di babak 16 besar usai disingkirkan juara Portugal, Sporting CP, Rabu (18/3/2026) dini hari WIB.

1 dari 5 halaman

Tersingkir Dramatis Usai Keunggulan Hilang

Tersingkir Dramatis Usai Keunggulan Hilang

Selebrasi Luis Suarez dalam laga Sporting Lisbon vs Bodo/Glimt di leg kedua 16 besar Liga Champions 2025/2026, Rabu (18/3/2026). (c) AP Photo/Ana Brigida

Bodo/Glimt sebenarnya sempat berada di atas angin setelah menang telak 3-0 atas Sporting CP pada leg pertama babak 16 besar di Norwegia. Namun, skenario berubah drastis di leg kedua.

Bermain di Portugal, Sporting tampil luar biasa dengan membalikkan keadaan lewat kemenangan 5-0. Hasil tersebut memastikan mereka lolos dengan agregat 5-3, sekaligus mengakhiri kisah indah Bodo/Glimt.

Pelatih Bodo/Glimt, Kjetil Knutsen, mengakui timnya gagal mengatasi tekanan pertandingan besar.

“Kami tidak benar-benar memainkan permainan kami. Kami justru bermain dalam momen yang terlalu besar bagi kami,” ujarnya.

2 dari 5 halaman

Dari Kutub Utara ke Panggung Eropa

Dari Kutub Utara ke Panggung Eropa

Kekecewaan Fredrik Bjorkan usai Bodo/Glimt disingkirkan Sporting CP di babak 16 besar Liga Champions 2025/2026, Rabu (18/3/2026). (c) AP Photo/Ana Brigida

Perjalanan Bodo/Glimt menuju fase gugur sebenarnya penuh liku. Mereka gagal meraih kemenangan dalam enam laga awal fase liga, membuat peluang lolos nyaris tertutup.

Namun, keajaiban terjadi. Mereka sukses menumbangkan Manchester City dengan skor 3-1, sebelum mengalahkan Atletico Madrid 2-1 di kandang lawan. Dua kemenangan itu membuka jalan menuju babak play-off.

Tak berhenti di situ, Bodo/Glimt kembali membuat kejutan dengan menyingkirkan Inter Milan, finalis musim lalu, dalam dua leg.

3 dari 5 halaman

Faktor Kandang Jadi Senjata Mematikan

Faktor Kandang Jadi Senjata Mematikan

Pemain Bodo/Glimt Hakon Evjen merayakan gol pada laga play-off Liga Champions antara Inter vs Bodo/Glimt di San Siro, Milan, Italia, Selasa, 24 Februari 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno

Salah satu kunci kesuksesan Bodo/Glimt adalah kekuatan kandang mereka di Aspmyra Stadion. Bermain di lapangan sintetis dengan suhu ekstrem membuat banyak tim kesulitan beradaptasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah tim besar seperti AS Roma, Celtic, hingga Lazio pernah menjadi korban keganasan mereka di kandang.

Bahkan, lima tahun lalu mereka mencatat kemenangan mencengangkan 6-1 atas Roma yang saat itu dilatih Jose Mourinho.

4 dari 5 halaman

Kisah Underdog yang Layak Dikenang

Kisah Underdog yang Layak Dikenang

Pemain Bodo/Glimt Jens Petter Hauge (tengah) merayakan gol bersama rekan-rekannya pada laga play-off Liga Champions antara Inter vs Bodo/Glimt di San Siro, 24 Februari 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno

Perjalanan Bodo/Glimt langsung dibandingkan dengan kisah-kisah underdog legendaris di Liga Champions. Sebut saja APOEL FC yang mencapai perempat final musim 2011/2012, serta Malaga CF pada musim 2012/2013.

Ada pula Club Brugge yang sempat mencuri perhatian dalam beberapa musim terakhir.

Namun, yang membuat Bodo/Glimt lebih istimewa adalah skala klub mereka. Stadion mereka hanya berkapasitas sekitar 8.500 penonton, jauh lebih kecil dibanding klub-klub besar Eropa.

5 dari 5 halaman

Mentalitas dan Kepercayaan Diri Jadi Kunci

Mentalitas dan Kepercayaan Diri Jadi Kunci

Para pemain Bodo/Glimt merayakan kemenangan di akhir laga play-off Liga Champions antara Inter vs Bodo/Glimt di San Siro, Milan, Italia, Selasa, 24 Februari 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno

Dengan nilai skuad yang hanya sekitar 57 juta euro, terendah di antara tim 16 besar, Bodo/Glimt membuktikan bahwa sepak bola bukan sekadar soal uang.

Semangat juang dan kepercayaan diri tinggi membuat mereka mampu bersaing, bahkan bangkit dari ketertinggalan dalam beberapa laga penting.

Selain prestasi, perjalanan mereka juga membawa keuntungan finansial signifikan. Bodo/Glimt diperkirakan mengantongi sekitar Rp900 miliar dari partisipasi mereka, angka yang hampir setara dengan nilai total skuad.

Meski harus tersingkir, perjalanan Bodo/Glimt musim ini akan dikenang sebagai salah satu kisah underdog terbaik dalam sejarah Liga Champions.

Dari kota kecil di utara Norwegia hingga menaklukkan raksasa Eropa, mereka telah membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang paling tak terduga.

LATEST UPDATE