Runtuhnya Juventus Jadi Alarm Keras bagi Wakil-wakil Italia di Eropa
Gia Yuda Pradana | 18 Februari 2026 09:22
Bola.net - Laga Galatasaray vs Juventus menjadi panggung kejutan besar pada leg pertama play-off fase gugur Liga Champions yang berlangsung penuh drama. Kekalahan telak 2-5 membuat wakil Italia itu berada di posisi genting sebelum tampil di kandang sendiri.
Pertandingan di Istanbul awalnya berjalan sesuai harapan Juventus setelah mereka mampu membalikkan keadaan di babak pertama. Akan tetapi, keunggulan tersebut runtuh total setelah Galatasaray tampil agresif pada paruh kedua laga.
Hasil ini bukan hanya persoalan skor bagi Juventus, tetapi juga membawa pesan penting bagi klub-klub Italia lainnya yang masih bertarung di kompetisi Eropa. Namun, kekalahan tersebut memperlihatkan bahwa konsistensi dan kedisiplinan tetap menjadi faktor penentu di level tertinggi.
Kronologi Kekalahan Juventus

Gabriel Sara membuka keunggulan tuan rumah pada menit ke-15 sebelum Teun Koopmeiners membawa Juventus unggul lewat dua gol beruntun pada menit ke-16 dan ke-32. Babak pertama berakhir dengan situasi yang terlihat terkendali bagi tim tamu.
Noa Lang menyamakan kedudukan pada menit ke-49 dan Davinson Sanchez menambah gol pada menit ke-60 untuk Galatasaray. Namun, kartu merah Juan Cabal pada menit ke-67 mengubah jalannya pertandingan secara drastis.
Dalam kondisi unggul jumlah pemain, Noa Lang mencetak gol keduanya pada menit ke-74 dan Sacha Boey menutup kemenangan pada menit ke-86. Keunggulan tiga gol ini memberi modal besar bagi Galatasaray jelang leg kedua.
Juventus kini harus mencetak empat gol tanpa balas di Turin untuk lolos ke babak berikutnya. Target tersebut menjadi tantangan berat menghadapi tim yang telah menunjukkan kualitas serangan efektif.
Peringatan bagi Klub Italia di Eropa

Sepanjang beberapa musim terakhir, klub-klub Italia kembali tampil kompetitif di kancah kontinental, termasuk keberhasilan Inter Milan mencapai final Liga Champions musim lalu. Situasi itu membangun optimisme bahwa Serie A kembali memiliki kekuatan kolektif di Eropa.
Kekalahan Juventus di Istanbul memperlihatkan rapuhnya keunggulan jika tidak diimbangi stabilitas mental dan fisik. Kondisi ini menjadi alarm bagi tim Italia lainnya yang masih menjalani fase krusial kompetisi Eropa.
Masalah kedisiplinan juga muncul sebagai faktor penentu dalam pertandingan tersebut. Bermain dengan sepuluh orang membuat Juventus tidak mampu menahan tekanan bertubi-tubi dari Galatasaray.
Laga Galatasaray vs Juventus menjadi contoh bahwa satu momen krusial dapat mengubah arah kompetisi secara drastis. Klub-klub Italia perlu menjaga fokus penuh hingga menit akhir jika ingin bersaing di level elite.
Pandangan Giovanni Capuano

Jurnalis Italia, Giovanni Capuano, menilai keruntuhan Juventus di babak kedua sebagai pelajaran penting bagi tim-tim Italia lain. Pandangannya dimuat oleh media olahraga Tuttojuve setelah laga tersebut.
“Juventus runtuh di Istanbul dan mengorbankan peluang mereka di Liga Champions,” kata Capuano. “Membalikkan keadaan dalam satu pekan ke depan adalah pekerjaan besar, dan skala keruntuhan ini, termasuk kondisi fisik mereka, adalah peringatan bagi tim Italia lain di Eropa.”
Komentar tersebut menegaskan bahwa masalah Juventus bukan hanya soal taktik, tetapi juga kesiapan mental menghadapi tekanan pertandingan besar. Situasi ini memperlihatkan bahwa pengalaman saja tidak cukup tanpa stabilitas permainan.
Leg kedua di Turin akan menjadi penentu apakah Juventus mampu memulihkan harga diri atau harus mengakhiri perjalanan Eropa lebih cepat. Hasil laga Galatasaray vs Juventus pada pertemuan pertama kini tercatat sebagai alarm keras bagi seluruh wakil Italia di kompetisi Eropa.
Sumber: juvefc
Baca Artikel-artikel Menarik Lainnya:
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Menang 0-1 di Kandang Benfica, Real Madrid Masih Jauh dari Kata Aman!
Liga Champions 18 Februari 2026, 10:13
-
Vinicius Junior Cetak Gol ke-31 di Liga Champions, Lampaui Kaka
Liga Champions 18 Februari 2026, 10:10
-
Monaco vs PSG: Laga Aneh Bagi Luis Enrique
Liga Champions 18 Februari 2026, 10:00
-
Kalah 5-2 dari Galatasaray, Juventus Yakin Bakal Comeback di Turin
Liga Champions 18 Februari 2026, 09:57
-
Real Madrid dan Gol yang Tak Terputus di Era Arbeloa
Liga Champions 18 Februari 2026, 09:54
LATEST UPDATE
-
Allegri Sebut Inter Milan Favorit Scudetto, AC Milan Kibarkan Bendera Putih?
Liga Italia 18 Februari 2026, 12:31
-
Tempat Menonton Persib vs Ratchaburi FC: Tayang di Mana dan Jam Berapa?
Bola Indonesia 18 Februari 2026, 12:26
-
AC Milan vs Como: Pulisic Meragukan, Magis Luka Modric Jadi Tumpuan
Liga Italia 18 Februari 2026, 12:21
-
Pengakuan Dosa Pasca Derby d'Italia: Bos Juventus Minta Maaf
Liga Italia 18 Februari 2026, 12:11
-
Jadwal Lengkap Premier League 2025/2026 Live di SCTV dan Vidio
Liga Inggris 18 Februari 2026, 11:58
-
Kapan Duel Persib Bandung vs Ratchaburi? Menanti Magis Remontada di GBLA
Asia 18 Februari 2026, 11:46
-
Jadwal Siaran Langsung Liga Champions di MOJI Malam Ini, 19 Februari 2026
Liga Champions 18 Februari 2026, 10:54
LATEST EDITORIAL
-
Dari Eks Chelsea hingga Barcelona: 5 Pemain yang Pensiun di 2026
Editorial 16 Februari 2026, 23:25
-
5 Transfer Ideal untuk Michael Carrick Jika Jadi Manajer Permanen Manchester United
Editorial 16 Februari 2026, 23:09
-
9 Pemain yang Tinggalkan Manchester United Musim Panas Lalu dan Nasib Mereka Sekarang
Editorial 12 Februari 2026, 22:39
-
10 Atlet dengan Bayaran Tertinggi di 2026: Ronaldo Kalahkan LeBron James dan Messi
Editorial 12 Februari 2026, 21:52
-
Jika Berpisah dengan Liverpool, Ini 5 Klub Potensial untuk Arne Slot
Editorial 11 Februari 2026, 23:48





