Bola.net - Kontributor: Anugrah Pamuji
Pahit buat Real Madrid, manis buat Robben dan Sneijder. Yah, kurang lebih seperti itulah gambaran nasib antara Madrid dan dua mantan pemainnya itu saat ini. Los Galaticos jilid dua yang dibangun Real Madrid tahun ini nampaknya mesti berkaca baik-baik kepada ke dua pemain asal Belanda tersebut yang telah mereka buang. Proyek jor-joran dengan menghabiskan dana trilyunan rupiah harus dibayar mahal ketika duo Belanda itu mempertontonkan permainan yang gemilang kala mengantar timnya masing-masing menembus semi-final Liga Champions edisi 2009/2010. Sementara itu para Madridista harus menerima pukulan telak dan penyesalan yang semakin dalam setelah klub mereka gagal lolos.
Real Madrid dengan jumawanya membeli pemain mega bintang semacam Cristiano Ronaldo, Kaka, Karim Benzema, Xabi Alonso, dan Raul Albiol di awal musim. Mereka semua seolah menghanguskan uang trilyunan rupiah yang dibelanjakan Madrid seiring gagal totalnya mereka membawa ekspektasi tinggi untuk merengkuh gelar sarat gengsi yaitu Trophy Liga Champions yang sudah mereka rindukan sejak sembilan tahun silam. Sementara dua pemain yang mereka depak, Robben dan Sneijder, justru membuktikan diri sekaligus memberikan pelajaran berharga buat kubu Madrid bahwa kekuatan mereka tak bisa dibeli dengan proyek Los Galaticos jilid dua yang diperkirakan menacapai dua trilyun rupiah itu.
Wesley Sneijder saat berkostum Real Madrid (kiri) dan saat berkostum Inter Milan (kanan)
Duo Belanda tersebut memang menunjukkan grafik peningkatan sejak melepas seragam Madrid. Terbukti, peran mereka sangat vital bagi tim yang mereka bela saat ini. Contohnya Sneijder yang tahun ini memperkuat Inter, ia berhasil beradaptasi cepat dengan sepakbola Italia lalu memberikan kontribusi besar bagi timnya. Lini tengah Inter terlihat jadi lebih hidup sejak pemain berpostur pendek ini didaratkan ke Giuseppe Meazza. Alur passing-passing terbuka yang di sodorkan Sneijder kepada rekan satu timnya semakin mengkreatifkan sektor tengah Inter. Apalagi untuk urusan
set piece, jangan ragukan lagi kemampuannya itu karena hanya sedikit dari
free kick yang dia eksekusi gagal, sisanya selalu berbuah gol. Bahkan statistik mencatat, Inter terhitung mengalami kesulitan menang jika Sneijder absen. Jose Mourinho pernah mengatakan kepada media menyangkut kontribusi anak didiknya itu kepada Inter yang ia rujuk ke kubu Madrid yang tega melepasnya padahal si pemain kala itu tetap menginginkan lebih lama lagi berada di Santiago Bernabeu. "Saya tidak mengerti mengapa Madrid melepasnya. Tapi, dalam tubuh suatu klub, terdapat logika yang tidak bisa Anda pahami sebagai pihak luar," simpul Mourinho menanggapi nasib Sneijder. "Kini, Sneijder menjadi pemain penting bagi kami."
Arjen Robben saat berkostum Real Madrid (kiri) dan saat berkostum Bayern Munchen (kanan)
Nasib serupa juga dialami Arjen Robben. Detik-detik terakhir sebelum berlabuh ke Jerman untuk bergabung bersama Bayern Munchen, dia padahal sempat memberikan kontribusi bagus dengan rajin mencetak gol. Namun nasib tetaplah nasib, di saat lagi bagus-bagusnya performa mantan pemain Chelsea itu, di situlah awal mula ia dibuang oleh Los Blancos. Dan tanpa perlu menunggu lama, dengan seragam baru berlabel Munchen, dia pun membungkam kubu Madrid yang telah rela melepasnya begitu saja. Robben yang langsung dimainkan begitu baru bergabung dengan Die Rotten, langsung nyetel dengan Ribery cs. Alhasil, debutnya diwarnai dengan dua gol ke gawang juara bertahan Bundesliga Jerman, Wolfsburg, seakan-akan gol tersebut ditujukan untuk membuka mata Madrid bahwa mereka telah melakukan hal yang bodoh.
Euforia duo Belanda tersebut terus belanjut ke kancah Eropa. Sukses besar mereka mengantar klubnya masing-masing melenggang ke babak semi-final Liga Champions patut diberi pujian. Lihatlah pengorbanan Sneijder membawa Inter sampai sejauh ini, sebelum pemilik 56 caps bersama timnas Belanda ini menyambangi Giuseppe Meazza, Inter selalu kesulitan melaju sampai babak semi final. Beberapa tahun ke belakang misalnya, Inter selalu terhenti di fase
knock out dan perempat final. Akan tetapi perubahan total terjadi sejak Sneijder menamai dirinya di skuad Inter saat ini. Anggapan yang menyatakan Inter masih anak bawang di Eropa, sekarang bisa ditepis mentah-mentah oleh Sneijder cs. Penggemar Inter mungkin tidak akan lupa dengan jasa pemain jebolan akademi Ajax ini kala melepas Inter dari jeratan paceklik di babak penyisihan grup. Saat itu, dalam lanjutan babak penyisihan grup, Sneijder berhasil menyelamatkan muka Inter dari kekalahan atas Dynamo Kiev yang sempat tertinggal 1-0. Namun, berkat kelihaiannya ia berhasil merubah permainan Inter dan bahkan mencetak satu gol untuk membawa kemenangan Inter atas wakil Rusia tersebut. Teranyar, Sneijder dengan gagah memuluskan laju Inter menjajaki babak semi-final lewat gol sematang wayangnya ke jala wakil Rusia lainnya CSKA Moskwa.
Tak ubahnya Robben, ia mungkin bisa disebut sebagai penyihir Munchen. Bagaimana tidak, terhitung dua kali sudah ia menolong Munchen dari kegagalan melenggang ke fase selanjutnya Liga Champions sekaligus memberikan kepahitan kepada publik pendukung tim lawan yang menyaksikan gol menyakitkan Robben. Pertama, bisa kita saksikan bersama kala ia mengubur dalam-dalam harapan Fiorentina yang ingin terus berkiprah di pentas akbar Eropa. Fiorentina yang saat itu sudah mengungguli Munchen dalam hal agregat gol, di bakar begitu saja oleh Robben berkat satu gol terakhirnya ke jala La Viola yang memastikan Munchen lolos ke perempat-final. Selanjutnya, sihir Robben beralih ke Old Trafford. Manchester United yang menjadi tuan rumah dalam lanjutan leg ke dua perempat-final semestinya sudah aman dengan 3 golnya, namun mereka dipaksa menerima malu, lagi-lagi melalui gol terakhirnya Robben. Praktis, satu tiket ke semi-final memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Robben.
Menilik manisnya sepak terjang duo Belanda tersebut, jelas bukan menjadi hal yang menyenangkan bagi Madid. Madrid mungkin hanya bisa meratapi penyesalan mereka karena sudah membuang pemain sekelas Robben dan Sneijder yang sekarang sedang menikmati kegembiraan bersama tim barunya. Kepergian kedua pemain yang bisa dibilang tidak sedikit memberikan jasa kepada Madrid itu, mesti dibayar mahal dan kini hanya menjadi bayang-bayang bagi fans Madrid. Akan diperparah lagi, bilamana Inter bertemu Munchen di final. Karena Robben dan Sneijder sudah pasti akan memperagakan kebolehan mereka di stadion yang tak lain akan di gelar di markas besar Madrid, Santiago Bernabeu selaku penyelanggara partai puncak.
Kisah sukses Robben dan Sneijder mungkin bisa jadi pelajaran berharga bagi kubu Madrid ke depannya, dimana pemain mega bintang bukanlah jaminan kejayaan sebuah tim.
(kpl/uca)