EDITORIAL: Roy Suryo, Bardosono dan Rekonsiliasi Semu Itu
Editor Bolanet | 29 Oktober 2013 14:03
Bola.net - Oleh: Dendy Gandakusumah
Rekonsiliasi adalah pengorbanan (Nani Nurrachman - putri Letnan Jenderal Soetojo Siswomihardjo)
Roy Suryo bisa jadi tak mengenal Bardosono. Alih-alih mengenal Ketua Umum PSSI periode 1975-1977 itu, Roy masih gagap membedakan Diego Michiels -yang kekasih Nikita Willy- dengan Diego Mendieta, pemain Paraguay yang harus menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan nestapa di Indonesia.
Namun, meski tak mengenal Badrosono, Roy mungkin saja telah khatam 'Buku Hijau' -berisi Garis Besar Halauan Sepakbola- yang merupakan buah pikiran pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan (Sesdalopbang) itu. Pendekatan Roy terhadap permasalahan sepakbola Indonesia identik dengan pendekatan sepakbola Pancasila yang dirumuskan berpangkat Brigadir Jenderal tersebut.
8 November 1975, Bardosono membuat sebuah 'terobosan' dalam sepakbola Indonesia. Di tengah kericuhan partai puncak Perserikatan, yang mempertemukan PSMS Medan dan Persija Jakarta, dia memutuskan bahwa kedua tim tersebut dinobatkan sebagai juara bersama. Alasannya simpel. Dia beranggapan dengan gelar ini, dua tim tersebut tak bakal membuat masalah lagi.
Selesaikah masalah dengan hal itu? Ternyata tidak. Meski fakta di lapangan wasit Mahdi Thalib tak bisa lagi mengendalikan situasi, banyak pihak yang merasa keputusan Bardosono tak adil. Jika dua tim yang bermain ricuh dihadiahi gelar juara, untuk apa tim-tim lain bermain dengan 'sopan', demikian rata-rata nada protes itu.
Namun, Bardosono tetaplah Bardosono. Dia berkeras, tentu saja. Baginya, 'kepentingan bangsa' termasuk menjaganya tetap 'utuh' haruslah didulukan. Bahkan, misalnya melanggar nilai-nilai keadilan sekalipun.
Keputusan Bardosono ini tak mampu meredakan badai kritik dan kecaman. Tak kurang dari Ketua KONI Pusat, Suprayogi melontarkan sindiran. Pakailah bahasa olahraga dalam urusan olahraga, kecamnya. Suprayogi secara tak langsung telah terjadi penaklukan olahraga dan nilai-nilai sportivitas oleh tetek bengek politik.
Di Hotel Borobudur Jakarta, 17 Maret 2013 lalu, sikap serupa Bardosono ditiru sempurna oleh Roy Suryo. Beralasan menjaga sepakbola bangsa ini dari sanksi FIFA, sosok yang dikenal sebagai pakar telematika tersebut memaksakan suatu penaklukan yang dibungkus dengan kemasan rekonsiliasi.
Betapa tidak, nilai-nilai olahraga -seperti fairness dan sportivitas- yang selama ini dirapal bak mantra, harus tunduk pada kekuasaan. Pelanggaran demi pelanggaran aturanpun menjadi resmi dan sah. Semua juga melalui restu kekuasaan, yang diwakili Roy Suryo.
Memang betul yang dikatakan Nani Nurrachman bahwa rekonsiliasi adalah pengorbanan. Namun, alih-alih kedua pihak sama-sama mengorbankan ego masing-masing demi sebuah rekonsiliasi sejati, rekonsiliasi sepakbola kita hanya mengorbankan satu pihak.
Selain mengorbankan orang-orang yang berupaya- memperbaiki sepakbola kita -meski upaya tersebut belum berhasil- rekonsiliasi ala Roy Suryo ini juga mengorbankan nilai-nilai olahraga sendiri. Sportivitas dan fairness, yang dianggap oleh salah seorang mantan anggota Komite Eksekutif PSSI Bob Hippy sebagai benteng terakhir moralitas bangsa, harus [di]runtuh[kan] dan takluk dari kelompok-kelompok, yang berkedok kepentingan bangsa.
Sayangnya, kali ini tak ada suara bening lagi yang mengingatkan bahwa olahraga harus tetap dipahami dalam koridor olahraga, bukan politik atau kekuasaan. (den/mac)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Konsisten di Jalur Emas, Indonesia Lampaui Target Harian SEA Games 2025
Olahraga Lain-Lain 15 Desember 2025, 16:55
-
Bonus Emas SEA Games 2025 Tembus Rp1 Miliar, Menpora Erick: Bukti Cinta Presiden Prabowo
News 12 Desember 2025, 15:36
LATEST UPDATE
-
Roma Kena Comeback Inter, Gasperini: Hasil yang Adil!
Liga Italia 20 September 2026, 07:30
-
Comeback Lawan Roma, Chivu Puji Mental Baja Inter Milan
Liga Italia 20 September 2026, 07:00
-
Futsal Super Cup 2026: Bintang Timur Surabaya ke Final Usai Tekuk Cosmo JNE 3-1
Bola Indonesia 20 September 2026, 06:53
-
Unggul FC Malang ke Final Futsal Super Cup 2026, Singkirkan Pangsuma FC Lewat Adu Penalti
Bola Indonesia 20 September 2026, 06:42
-
Kalah 3-0 di Kandang Brighton, Arsenal Memang Bermain di Bawah Standard!
Liga Inggris 20 September 2026, 06:30
-
Dipermalukan Brighton, Mikel Arteta: Ini Pelajaran Berharga Bagi Arsenal!
Liga Inggris 20 September 2026, 06:00
-
Rapor Pemain Barcelona saat Comeback Lawan Sevilla: Raphina Maut, Yamal Ngeri!
Liga Spanyol 20 September 2026, 05:45
-
Ada Baleba, Michael Carrick Bawa 23 Pemain MU ke Kandang Fulham
Liga Inggris 20 September 2026, 05:30
-
BRI Region 13 Malang Serahkan Ambulans untuk Dukung Akses Kesehatan Warga Lumbang
News 20 September 2026, 05:21
-
Man of the Match Sevilla vs Barcelona: Raphinha
Liga Spanyol 20 September 2026, 04:10
-
Hasil Sevilla vs Barcelona: Hattrick Raphinha Jaga Start Sempurna Blaugrana!
Liga Spanyol 20 September 2026, 04:00
-
Man of the Match Roma vs Inter: Lautaro Martinez
Liga Italia 20 September 2026, 01:19
-
Hasil Roma vs Inter: Comeback Nerazzurri Paksa Giallorossi Berbagi Angka
Liga Italia 20 September 2026, 00:57
-
Baru Saja Debut, Kiper Juventus Kamil Grabara Malah Alami Cedera ACL
Liga Italia 20 September 2026, 00:26
LATEST EDITORIAL
-
Bukan Cuma Ronaldo, 3 Pemain Ini Juga Pernah Membela Real Madrid dan Inter Milan
Editorial 8 September 2026, 20:58
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33




