Lima Margin Juara Terbesar di Premier League

Editor Bolanet | 2 April 2013 11:11
Lima Margin Juara Terbesar di Premier League

Bola.net - Musim lalu Manchester City menobatkan dirinya sebagai tim kelima dalam daftar kampiun Premier League, menyusul Manchester United, , dan Blackburn Rovers.

Dengan saat ini unggul 15 poin di depan, Manchester United praktis tinggal butuh tiga kemenangan lagi dari delapan laga tersisa musim ini untuk mengamankan gelar juara liga mereka yang ke-20. Dan pasukan Sir Alex Ferguson kini menatap pemecahan rekor milik mereka sendiri untuk margin juara selama era Premier League, yang mereka rengkuh di musim 1999-2000.

Andai keunggulan poin saat ini terjaga, ini adalah kali keempat dalam 21 tahun terakhir United menjadi juara liga dengan keunggulan 10 poin atau lebih - rekor yang juga pernah dicatat Chelsea dan Arsenal. Berikut adalah jarak poin terbesar dari kisah sukses juara di Premier League. (bola/row)

1 dari 5 halaman

Manchester United (1999-2000): 18 Poin

Manchester United (1999-2000): 18 Poin

Performa United di musim 1999-2000 mungkin dinodai oleh keputusan mundur dari FA Cup demi tampil di Piala Dunia Antarklub, setelah musim sebelumnya mencatat pencapaian fenomenal meraih treble. Setan Merah juga mendapat masalah di awal musim pada posisi penjaga gawang dengan kepergian kiper legendaris, Peter Schmeichel namun penggantinya – Mark Bosnich dan Massimo Taibi, gagal bersinar.

Namun lini depan United begitu garang dan berperan besar dalam sukses mereka - total 97 gol liga dicetak para tukang gedor Setan Merah - separuhnya lahir dari trisula maut Andy Cole, Dwight Yorke dan Ole Gunnar Solskjaer. Itu artinya superioritas United tak tersentuh sepanjang musim dan mereka mengunci gelar keenam dalam delapan tahun kala menekuk Southampton 3-1 dalam rangkaian 11 kemenangan di akhir musim, sementara Arsenal dan Leeds United kedodoran di belakang.

2 dari 5 halaman

Chelsea (2004-2005): 12 poin

Chelsea (2004-2005): 12 poin

Setelah menjuarai Piala UEFA dan Liga Champions secara beruntun bersama Porto, manajer anyar Chelsea, Jose Mourinho mengumumkan sebelum awal musim jika dirinya adalah 'The Special One'. Dibumbui sejumlah aksi kontroversial, pelatih asal Portugal itu menunjukkan jika dirinya dan skuad The Blues 2005 memang spesial. Kedatangan Petr Cech, Didier Drogba dan Ricardo Carvalho menjadi kunci kekuatan Chelsea, bahkan hingga beberapa tahun ke depan.

Skuad Mourinho bahkan mencatat rekor di musim ini dengan menjadi tim yang paling sedikit kebobolan (15), mencatat paling banyak menang (29) dan poin terbanyak (95). Kemenangan kandang di laga pembuka lawan Manchester United menunjukkan efisiensi hebat dari era Mourinho dan penantian panjang gelar juara liga akhirnya diakhiri dengan kemenangan tandang lawan Bolton Wandererers di akhir April.

3 dari 5 halaman

Arsenal (2003-2004): 11 poin

Arsenal (2003-2004): 11 poin

Setelah melalui musim 2002-2003 dengan awal bagus, Arsene Wenger mendeklarasikan jika timnya - yang saat itu berstatus juara bertahan, akan mampu melalui musim itu dengan tanpa terkalahkan. Namun gol penyerang muda Everton, Wayne Rooney di Oktober 2002 membuyarkan ambisi tersebut dan skuad Wenger pada akhir musim terpuruk di posisi kedua - lima poin di belakang Manchester United.

Namun ambisi tersebut ternyata terwujud juga semusim berikutnya dengan tim Arsenal 2004, yang kemudian dikenal dengan julukan The Invincibles, melalui semusim kompetisi tanpa terkalahkan. Rival terdekat Arsenal kala itu adalah Chelsea yang baru dibeli taipan Rusia, Roman Abramovich di musim panas 2003 dan disuplai pemain-pemain baru.

The Gunners dibantu oleh performa Thierry Henry yang tengah dalam puncaknya - menyumbang 30 gol di liga, serta pertahanan yang solid dengan hanya kebobolan 26 gol. Dan tak ada cara paling manis untuk Arsenal mengunci gelar, yakni kala mereka bermain imbang dengan seteru abadinya Tottenham Hotspur yang sudah cukup menobatkan mereka jadi juara liga dengan menyisakan empat laga.

4 dari 5 halaman

Manchester United (2000-2001): 10 poin

Manchester United (2000-2001): 10 poin

Setan Merah begitu dominan di musim ini, sama seperti musim sebelumnya di mana mereka memenangi liga dengan margin 18 poin. Hasil kunci yang memberikan mereka gelar juara Premier League ketujuh mungkin adalah kemenangan kandang 6-1 atas Arsenal - tim yang akhirnya menjadi runner-up, pada tanggal 25 Februari. Kemenangan itu membawa pasukan Sir Alex Ferguson memimpin 16 poin dari The Gunners.

Namun gelar juara dipastikan milik United pada akhir pekan Paskah musim itu di mana Arsenal dihajar 0-3 oleh Middlesbrough, sementara United tak bisa lagi disusul setelah menaklukan Coventry City 4-2 di hari yang sama - meski kemudian Setan Merah menelan kekalahan di tiga laga terakhir liga.

5 dari 5 halaman

Manchester United (1992-1993): 10 poin

Manchester United (1992-1993): 10 poin

Mungkin sulit dibayangkan saat ini, namun United memasuki musim pembukaan era Premier League dengan posisi berkutat di papan tengah - bahkan mereka melalui dua dekade lebih tanpa memenangi trofi terbesar di pentas domestik. Kehilangan gelar juara dari Leeds United di musim 1991-1992, Setan Merah melalui paceklik gelar selama 26 tahun.

Di laga pembuka, prospek United tampak gelap ketika kalah dari Sheffield United. Namun dalam musim aneh di mana Norwich memimpin klasemen di bulan Januari dengan selisih gol negatif, Sir Alex Ferguson melakukan pembelian kunci ketika ia membajak Eric Cantona dari Leeds. Setelahnya, United cuma kalah dua laga dan mengakhiri musim dengan memenangi tujuh laga terakhirnya. Kemenangan Oldham Athletic atas rival terdekat United saat itu, Aston Villla di tanggal 2 Mei memastikan gelar juara menuju Old Trafford.

LATEST UPDATE