3 Hal yang Tersisa dari Final Carabao Cup: Kisah Tentang Dua Kiper Pelapis
Richard Andreas | 23 Maret 2026 14:01
Bola.net - Manchester City keluar sebagai juara Carabao Cup 2026 setelah menaklukkan Arsenal dengan skor 2-0 pada final yang digelar di Wembley, Minggu. Dua gol Nico O'Reilly di babak kedua memastikan trofi bagi tim asuhan Pep Guardiola.
Pertemuan dua tim teratas Premier League ini semula diprediksi berjalan sengit. Arsenal datang dengan ambisi besar mengakhiri puasa trofi sejak 2020 sekaligus menjaga peluang meraih empat gelar dalam satu musim.
Namun, setelah babak pertama berakhir tanpa gol, dominasi Manchester City pada awal babak kedua menjadi penentu. Arsenal tidak mampu merespons tekanan tersebut, sementara City memanfaatkan momentum dengan sangat efektif.
Gol pertama Man City lahir dari kesalahan di lini belakang Arsenal. Kiper Kepa Arrizabalaga gagal mengantisipasi umpan silang Rayan Cherki dengan sempurna, dan Nico O'Reilly memanfaatkan bola liar tersebut untuk menyundulnya ke gawang.
Beberapa saat kemudian, O'Reilly kembali mencatatkan namanya di papan skor. Sundulan keduanya memastikan Manchester City unggul dua gol dan membuat Arsenal kesulitan mengejar ketertinggalan.
Final Carabao Cup musim ini pun menyisahkan tiga hal yang menarik untuk diamati, termasuk kisah soal dua kiper cadangan.
Duel Kiper Cadangan Berujung Kontras

Kedua pelatih sebenarnya sama-sama mempercayakan posisi penjaga gawang kepada pemain yang mengawal perjalanan tim hingga ke final. Artinya, Kepa Arrizabalaga dan James Trafford tetap dimainkan meski bukan pilihan utama di liga.
Bagi Kepa, laga ini sebenarnya menjadi kesempatan untuk menebus catatan buruknya di final kompetisi yang sama ketika masih membela Chelsea. Namun harapan tersebut tidak terwujud.
Kesalahan saat menangani umpan silang Cherki menjadi momen paling menentukan dalam pertandingan. Blunder tersebut membuka jalan bagi gol pertama Manchester City.
Selain itu, performa Kepa juga dinilai kurang stabil sepanjang laga. Ia beberapa kali terlalu lama menguasai bola sehingga memperlambat tempo permainan Arsenal. Bahkan ia sempat menerima kartu kuning setelah menarik Jeremy Doku akibat salah membaca situasi.
Di sisi lain, James Trafford justru tampil lebih solid. Meski tidak terlalu sering mendapat ancaman, kiper muda Inggris itu sempat melakukan penyelamatan penting pada fase awal pertandingan, termasuk rangkaian tiga penyelamatan beruntun yang menjaga gawang City tetap aman.
Arsenal Kehilangan Kreativitas Tanpa Playmaker

Sepanjang musim ini, Arsenal kerap dikritik karena dianggap terlalu mengandalkan fisik dan situasi bola mati. Meski begitu, tim asuhan Mikel Arteta sebenarnya juga mampu menghadirkan momen-momen kreatif dalam permainan terbuka.
Pada final ini, masalah muncul ketika beberapa playmaker utama tidak tersedia. Absennya Eberechi Eze dan Martin Odegaard membuat Arsenal kehilangan sumber kreativitas di lini tengah.
Sebagai gantinya, Arsenal mencoba mengandalkan kekuatan fisik. Kai Havertz diharapkan mampu memenangkan duel bola pertama dan kedua, sementara Viktor Gyokeres berusaha menyerang ruang kosong di belakang pertahanan City.
Pendekatan tersebut sempat terlihat menjanjikan pada awal pertandingan. Namun setelah Manchester City mulai membaca pola permainan tersebut, serangan Arsenal menjadi mudah dipatahkan.
Akibatnya, The Gunners terlihat sangat satu dimensi. Mereka kesulitan membangun serangan rapi dan tidak mampu keluar dari tekanan City pada periode krusial di awal babak kedua.
Dampak Kemenangan City Bagi Perebutan Gelar

Kemenangan ini menjadi sangat penting bagi Manchester City. Selain menghadirkan trofi, hasil tersebut juga menjadi kemenangan pertama mereka atas Arsenal sejak 2023.
Dalam konteks Premier League, Arsenal memang masih memimpin klasemen dengan selisih sembilan poin. Namun performa City di final ini menunjukkan bahwa persaingan gelar masih jauh dari kata selesai.
City bahkan masih memiliki satu pertandingan yang belum dimainkan. Selain itu, mereka juga akan menjamu Arsenal di Etihad Stadium pada pertemuan berikutnya bulan depan.
Pertemuan tersebut berpotensi menjadi salah satu laga paling menentukan dalam perebutan gelar. Meski jeda internasional dan jadwal FA Cup bisa memengaruhi momentum, kemenangan di Wembley membuat Manchester City kembali percaya diri.
Sementara bagi Arsenal, kekalahan di final ini memunculkan kembali kekhawatiran lama, soal apakah mereka mampu menjaga konsistensi hingga akhir musim, atau justru kembali terpeleset di fase penentuan.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
3 Hal yang Tersisa dari Final Carabao Cup: Kisah Tentang Dua Kiper Pelapis
Liga Inggris 23 Maret 2026, 14:01
-
Guardiola Tak Menyangka Man City Bisa Dominasi Arsenal di Final Carabao Cup
Liga Inggris 23 Maret 2026, 11:15
LATEST UPDATE
-
3 Hal yang Tersisa dari Final Carabao Cup: Kisah Tentang Dua Kiper Pelapis
Liga Inggris 23 Maret 2026, 14:01
-
Barcelona Menang dan Pujian untuk Joan Garcia: Fantastis!
Liga Spanyol 23 Maret 2026, 13:30
-
Jeda Internasional Tak Menguntungkan untuk Real Madrid!
Liga Spanyol 23 Maret 2026, 12:30
-
Guardiola Tak Menyangka Man City Bisa Dominasi Arsenal di Final Carabao Cup
Liga Inggris 23 Maret 2026, 11:15
-
Mainkan Kepa di Final Carabao Cup Sudah Tepat! Begini Penjelasan Arteta
Liga Inggris 23 Maret 2026, 10:45
-
Bagaimana Rasanya Menghancurkan Mimpi Quadruple Arsenal?
Liga Inggris 23 Maret 2026, 10:36
-
Mainkan Kepa di Final Carabao Cup, Arteta Kena Kritik Keras!
Liga Inggris 23 Maret 2026, 10:15
-
Fiorentina vs Inter Milan: Mentalitas dan Kerja Keras jadi Pembeda
Liga Italia 23 Maret 2026, 10:06
LATEST EDITORIAL
-
5 Calon Pelatih Baru Chelsea Jika Liam Rosenior Dipecat, Mourinho Masuk Daftar
Editorial 18 Maret 2026, 17:00
-
4 Pemain yang Pernah Membela Arsenal dan Bayer Leverkusen
Editorial 17 Maret 2026, 19:28







