Arsenal Jadikan Luka di Final Carabao Cup untuk Bangkit dan Kejar Mimpi yang Belum Selesai

Afdholud Dzikry | 23 Maret 2026 07:15
Arsenal Jadikan Luka di Final Carabao Cup untuk Bangkit dan Kejar Mimpi yang Belum Selesai
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta memberikan instruksi di laga Final Carabao Cup melawan Manchester City di Wembley, 22 Maret 2026. (c) AP Photo/Maja Smiejkowska

Bola.net - Pelatih Mikel Arteta menelan pil pahit usai Arsenal tumbang dari Manchester City, Minggu (22/3/2026) malam WIB. Laga Final Carabao Cup itu berakhir dramatis bagi skuad Meriam London.

Kekalahan ini menggagalkan ambisi besar Arsenal di Stadion Wembley. Trofi yang mereka idamkan sejak tahun 1993 kembali melayang.

Advertisement

Dua gol Nico O'Reilly menghancurkan asa juara tersebut. Momen ini pun menjadi pukulan telak sebelum jeda internasional bergulir.

Seusai pertandingan, Arteta menolak mengibarkan bendera putih. Rasa sakit ini siap diubah menjadi motivasi ekstra untuk bangkit di sisa musim ini.

1 dari 3 halaman

Rasa Sakit Menjadi Bahan Bakar

Rasa Sakit Menjadi Bahan Bakar

Dua bek Arsenal, Gabriel Magalhaes dan William Saliba bereaksi usai laga melawan Manchester City di Final Carabao Cup, 22 Maret 2026. (c) AP Photo/Richard Pelham

Skuad Arsenal sebenarnya tampil sangat militan sepanjang musim ini. Ini hanyalah kekalahan keempat mereka dalam lima puluh pertandingan terakhir.

Beban mental tentu dirasakan seluruh pemain dan penggemar setia. Arteta menyadari betul tingginya ekspektasi publik yang gagal terwujud.

"Sulit rasanya karena semua pemain dan suporter sangat menginginkan trofi ini hari ini," ungkap Mikel Arteta.

"Kenyataan bahwa kami gagal mewujudkannya terasa sangat amat menyakitkan," tambahnya dengan nada kecewa.

Sang pelatih tidak ingin pasukannya larut dalam duka mendalam. Masih ada sisa kompetisi yang sangat krusial di Premier League dan Liga Champions.

"Kami akan membawa perasaan hancur ini selama jeda internasional," ujar manajer asal Spanyol tersebut.

"Namun, kami akan mengubah rasa sakit itu menjadi bahan bakar untuk dua bulan ke depan," tegas Arteta.

2 dari 3 halaman

Momentum Krusial yang Hilang di Wembley

Momentum Krusial yang Hilang di Wembley

Erling Haaland mencoba melewati William Saliba dalam laga final Piala Liga Inggris antara Arsenal vs Manchester City di Wembley Stadium, 23 Maret 2026 (c) AP Photo/Maja Smiejkowska

Jalannya pertandingan babak pertama sejatinya dikuasai penuh oleh kubu Arsenal. Mereka sukses menciptakan sejumlah peluang emas di area pertahanan lawan.

Sayangnya, ketajaman Kai Havertz dan Bukayo Saka berhasil diredam. Penampilan heroik kiper James Trafford menjadi tembok tebal yang sulit ditembus.

"Pada babak pertama, saya pikir kami tampil sebagai tim yang jauh lebih baik," jelas sang pelatih.

"Kami mendapat dua peluang terbaik untuk mengunci momentum yang sangat dibutuhkan dalam sebuah final," katanya lagi.

Petaka kemudian datang menghampiri Arsenal usai turun minum. Taktik Manchester City terbukti jauh lebih efektif dalam mengeksploitasi celah pertahanan lewat transisi cepat.

"Tanpa melepaskan satu pun tembakan sebelumnya, mereka mencetak gol pertama yang sangat janggal," keluh pelatih berusia 41 tahun itu.

"Lalu dari tembakan kedua mereka sepanjang laga, tercipta gol tambahan yang membuat situasi menjadi sangat berat," rincinya.

3 dari 3 halaman

Menolak Menyerah Demi Trofi Tersisa

Dominasi penguasaan bola mutlak tidak menjamin hadirnya kemenangan. Blunder kecil atau hilangnya fokus sesaat langsung dibayar dengan harga mahal.

Sang manajer mengakui keunggulan mental bertanding sang lawan pada fase tersebut. Skuad asuhan Pep Guardiola dinilai tampil lebih tenang saat mengeksekusi peluang mematikan.

"Anda bisa saja memegang kendali momentum, tetapi hal itu akan berbalik arah jika tidak dimanfaatkan," papar Arteta.

"Lawan sukses memanfaatkannya, dan itulah hal yang wajib Anda lakukan jika ingin memenangkan gelar," tuturnya mengakui keunggulan taktik lawan.

Arsenal kini wajib segera melupakan malam kelabu di rumput Wembley. Mereka masih memiliki asa nyata untuk memburu gelar Premier League pertama dalam dua puluh dua tahun terakhir.

"Sungguh menyakitkan tidak bisa memberikan apa yang selalu suporter harapkan dan sorakkan," ucap mantan kapten Arsenal ini.

"Akan tetapi, kami pasti akan pulih dari pukulan keras ini dan bangkit kembali berjuang," tutupnya.

LATEST UPDATE