Arsenal Masih Jadi Raja Bola Mati: Sulit Dihentikan Meski Lawan Tahu Polanya

Richard Andreas | 23 Januari 2026 10:47
Arsenal Masih Jadi Raja Bola Mati: Sulit Dihentikan Meski Lawan Tahu Polanya
Selebrasi Martin Zubimendi dalam laga Chelsea vs Arsenal di semifinal Carabao Cup 2025/2026, Kamis (15/1/2026). (c) AP Photo/Alastair Grant

Bola.net - Setiap musim baru Premier League berjalan, satu cerita lama kembali terulang, yaitu lawan Arsenal sibuk mencari cara menghentikan tendangan sudut mereka, dan sebagian besar tetap gagal. Situasi bola mati ini terus menjadi sumber keunggulan nyata bagi tim London Utara tersebut.

Data efektivitas sebenarnya hanya menguatkan kesan di lapangan. Arsenal kembali berada di papan atas liga dalam urusan gol dan expected goals dari corner, melanjutkan tren yang sudah terbentuk selama beberapa musim terakhir.

Advertisement

Pertanyaannya pun bergeser. Jika semua orang sudah tahu Arsenal sangat berbahaya dari tendangan sudut, bagaimana sebenarnya lawan-lawan mereka mencoba bertahan, dan mengapa upaya itu kerap tidak cukup?

1 dari 6 halaman

Upaya Lawan Mengubah Pola Bertahan

Upaya Lawan Mengubah Pola Bertahan

Penyerang Arsenal, Gabriel Jesus (dua dari kiri) merayakan golnya ke gawang Inter Milan bersama rekan setimnya di Liga Champions. (c) AP Photo/Luca Bruno

Dalam beberapa musim terakhir, Arsenal di bawah asuhan Mikel Arteta telah menunjukkan kemampuan mengeksploitasi hampir semua pendekatan bertahan di situasi corner. Baik skema zonal murni maupun penjagaan satu lawan satu sama-sama pernah menjadi korban.

Situasi itu mendorong banyak tim beralih ke pendekatan campuran, yaitu mengombinasikan zonal dan man-marking.

Salah satu variasi paling mencolok adalah meninggalkan satu atau dua penyerang di area tengah saat Arsenal mendapat corner, sebuah pendekatan yang sempat digunakan Monaco dan Brighton musim lalu, lalu diikuti Olympiacos dan Chelsea musim ini.

Secara teori, pendekatan tersebut memberi ancaman serangan balik dan memaksa Arsenal lebih berhati-hati. Namun, dengan jumlah pemain bertahan di kotak penalti yang berkurang, ruang justru terbuka lebih lebar bagi pemain Arsenal untuk menyerang bola.

2 dari 6 halaman

Risiko Ruang dan Presisi Umpan

Risiko Ruang dan Presisi Umpan

Pemain Arsenal, Viktor Gyoekeres (kiri), merayakan gol bersama Declan Rice dalam pertandingan Liga Champions melawan Inter Milan, Rabu (21/1/2026). (c) AP Photo/Luca Bruno

Masalah utama dari meninggalkan pemain di depan bukan hanya soal efektivitas yang sulit dibuktikan karena sampel terbatas. Risiko terbesar justru muncul di dalam kotak penalti sendiri, ketika Arsenal mendapat lebih banyak ruang untuk memaksimalkan pergerakan mereka.

Presisi pengiriman bola dari Declan Rice dan Bukayo Saka membuat setiap celah menjadi berbahaya. Arsenal juga piawai memanipulasi struktur lawan, memancing bek keluar dari zona lalu menyerang ruang yang ditinggalkan.

Dalam konteks ini, pertukaran risiko yang mungkin masuk akal saat menghadapi tim lain menjadi jauh lebih berbahaya ketika berhadapan dengan Arsenal. Detail kecil yang terlewat sering kali cukup untuk berujung peluang bersih.

3 dari 6 halaman

Manchester City dan Contoh Pertahanan Efektif

Manchester City dan Contoh Pertahanan Efektif

Pemain Arsenal, Martin Zubimendi (kiri), merayakan gol bersama rekan setimnya dalam laga Premier League kontra Aston Villa, Rabu (31/12/2025). (c) AP Photo/Alastair Grant

Salah satu tim yang relatif berhasil membatasi ancaman corner Arsenal musim ini adalah Manchester City. Dalam hasil imbang 1-1 di Emirates Stadium pada September, City menghadapi 11 tendangan sudut namun hanya kebobolan tiga tembakan.

Tim asuhan Pep Guardiola menggunakan struktur detail, dua pemain berjaga di sekitar titik penalti, tiga pemain melakukan man-marking terhadap target utama Arsenal, dan lima pemain lain menjaga area enam yard secara zonal.

Kehadiran kiper Gianluigi Donnarumma juga krusial. Dengan postur dan keberanian menguasai area enam yard, ia mampu mematahkan sejumlah umpan silang yang biasanya menjadi awal masalah bagi lawan Arsenal.

4 dari 6 halaman

Adaptasi Arsenal dan Respons City

Adaptasi Arsenal dan Respons City

Pemain Arsenal, Gabriel Jesus, merayakan gol keempat timnya pada laga Premier League/Liga Inggris antara Arsenal vs Aston Villa di London, Selasa, 30 Desember 2025 (c) AP Photo/Alastair Grant

Masalah bagi City muncul ketika Arteta melakukan penyesuaian di babak kedua. Masuknya Eberechi Eze mengubah pembagian peran Arsenal dalam situasi corner, dengan rotasi posisi yang memaksa City membaca ulang ancaman di dalam kotak.

Leandro Trossard menjadi salah satu titik kunci. Ancaman yang ia hadirkan bukan hanya lewat peluang tembakan, tetapi juga lewat blok terhadap bek lawan dan penempatan diri di tiang jauh. Pada satu momen, Arsenal hampir memetik hasil dari skema ini sebelum tembakan Trossard diblok.

Guardiola merespons dengan mengubah struktur menjadi lini belakang lima orang, memasukkan Nathan Ake dan memindahkan penjagaan di tiang jauh. Adaptasi ini membantu City menekan kembali ancaman Arsenal hingga akhir laga.

5 dari 6 halaman

Ketika Lawan Gagal Beradaptasi

Tidak semua tim mampu merespons secepat City. Newcastle misalnya, gagal menyesuaikan diri ketika Arsenal mengubah pendekatan corner mereka di St James Park.

Dua gol dari situasi tersebut menjadi penentu kemenangan 2-1 Arsenal. Perubahan dari isolasi di tiang jauh ke corner pendek berhasil memanipulasi penjagaan Newcastle, sementara pergerakan bebas Jurrien Timber memaksa lawan mengubah struktur bertahan secara reaktif.

Contoh ini menegaskan satu hal, bahwa menghadapi Arsenal, adaptasi di tengah pertandingan bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mutlak.

6 dari 6 halaman

Ancaman dari Pemain yang Kerap Terabaikan

Aspek lain yang sering luput dari perhatian lawan adalah kontribusi pemain Arsenal yang secara fisik tidak dominan. Trossard dan Timber mungkin tidak setinggi Gabriel atau William Saliba, tetapi peran mereka sangat vital dalam skema corner.

Gol kedua Arsenal saat menang 3-1 atas Inter, di mana Timber memblok Alessandro Bastoni untuk membuka ruang bagi Trossard di tiang jauh, menjadi bukti terbaru pentingnya detail peran tersebut.

Dalam laga lain melawan Bayern Munchen dan Fulham, pola serupa kembali terlihat. Pergerakan tanpa bola, blok yang sah, dan timing lari yang presisi menciptakan celah di struktur zonal lawan, cukup untuk menghasilkan gol penentu.

Seiring Premier League memperketat aturan soal blok terhadap kiper, Arsenal juga menyesuaikan pendekatan mereka. Fokus bergeser dari menghalangi posisi awal kiper ke mengganggu pergerakan dan ruang di depannya.

Semua contoh itu bermuara pada satu kesimpulan. Kekuatan utama Arsenal dalam situasi corner bukan sekadar variasi skema, melainkan pemahaman kolektif para pemain terhadap peran masing-masing dan kemampuan mengubah rutinitas secara kontekstual.

LATEST UPDATE