Arteta Pilih Kepa Demi Keadilan, Arsenal Justru Bayar Mahal di Final Carabao Cup

Richard Andreas | 23 Maret 2026 14:31
Arteta Pilih Kepa Demi Keadilan, Arsenal Justru Bayar Mahal di Final Carabao Cup
Aksi kiper Arsenal, Kepa Arrizabalaga saat melawan Manchester City di final Carabao Cup, 22 Maret 2026. (c) AP Photo/Maja Smiejkowska

Bola.net - Arsenal harus menelan kekecewaan setelah kalah 0-2 dari Manchester City pada final Carabao Cup di Wembley. Kekalahan itu langsung memunculkan satu pertanyaan besar, mengapa Mikel Arteta memilih Kepa Arrizabalaga sebagai starter di bawah mistar?

Keputusan tersebut dianggap tidak biasa bagi Arteta, manajer yang selama ini dikenal cukup tegas dalam membuat keputusan sulit. Namun kali ini, ia memilih pendekatan berbeda dengan memberi kesempatan kepada Kepa yang sebelumnya tampil di sepanjang perjalanan Arsenal di kompetisi tersebut.

Advertisement

Pada akhirnya, keputusan itu justru mendapat sorotan tajam setelah kesalahan Kepa berujung pada gol pembuka City. Meski demikian, Arteta tetap menegaskan bahwa pilihannya didasarkan pada prinsip keadilan.

1 dari 5 halaman

Alasan Arteta Memilih Kepa di Final

Alasan Arteta Memilih Kepa di Final

Jeremy Doku berduel dengan Martin Zubimendi dalam laga final Piala Liga Inggris antara Arsenal vs Manchester City di Wembley Stadium, 23 Maret 2026 (c) AP Photo/Richard Pelham

Memainkan Kepa di final sebenarnya bisa dianggap sebagai keputusan yang sentimental. Secara teknis, David Raya adalah kiper utama Arsenal musim ini dan tampil konsisten di berbagai kompetisi.

Biar begitu, Arteta merasa Kepa layak mendapatkan kesempatan bermain di partai puncak karena telah menjadi penjaga gawang utama Arsenal sepanjang perjalanan mereka di Carabao Cup musim ini.

Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena merasa hal itu adalah tindakan yang adil bagi sang pemain. Arteta mengatakan setelah pertandingan:

“Saya harus melakukan apa yang saya rasa benar, yang jujur dan adil. Kami punya pemahaman dengan Kepa, dia bermain di sepanjang kompetisi ini, dan menurut saya akan sangat tidak adil bagi dia dan bagi tim jika kami melakukan sesuatu yang berbeda.”

2 dari 5 halaman

Kesalahan Kepa yang Mengubah Jalannya Laga

Kesalahan Kepa yang Mengubah Jalannya Laga

Erling Haaland mencoba melewati William Saliba dalam laga final Piala Liga Inggris antara Arsenal vs Manchester City di Wembley Stadium, 23 Maret 2026 (c) AP Photo/Maja Smiejkowska

Masalahnya, keputusan itu kemudian menjadi sorotan setelah Arsenal kalah 0-2 dari Manchester City. Gol pembuka City lahir setelah Kepa gagal mengamankan umpan silang Rayan Cherki.

Kesalahan tersebut dimanfaatkan Nico O’Reilly yang dengan mudah menyundul bola dari jarak dekat pada menit ke-60.

Empat menit kemudian, O’Reilly kembali mencetak gol melalui sundulan lain yang memastikan kemenangan City di Wembley.

Meski demikian, kekalahan Arsenal tidak sepenuhnya bisa disalahkan pada Kepa. Banyak pemain Arsenal lainnya juga tampil di bawah standar, terutama pada babak kedua ketika City mampu mendominasi permainan.

Sayangnya tetap saja, kesalahan sang kiper menjadi momen krusial yang membuka jalan bagi City.

3 dari 5 halaman

Perbedaan Gaya Kepa dan David Raya

Perbedaan Gaya Kepa dan David Raya

Viktor Gyokeres mempertahankan bola dari gangguan Rodri dalam laga final Piala Liga Inggris antara Arsenal vs Manchester City di Wembley Stadium, 23 Maret 2026 (c) AP Photo/Maja Smiejkowska

Kesalahan tersebut juga menyoroti perbedaan karakter antara Kepa dan David Raya.

Salah satu kekuatan utama Raya adalah kemampuannya menguasai area udara, terutama dalam mengantisipasi umpan silang. Sementara kesalahan Kepa justru terjadi di area yang biasanya menjadi keunggulan Raya.

Selain itu, Arsenal juga kehilangan kualitas distribusi bola dari belakang. Raya dikenal memiliki ketenangan serta akurasi tinggi saat membangun serangan dari lini belakang.

Dalam laga final itu, Arsenal kesulitan keluar dari tekanan pressing ketat Manchester City. Kemampuan Raya memainkan bola kemungkinan bisa membantu tim melewati tekanan tersebut.

Kepa sendiri bahkan sempat menerima kartu kuning setelah keluar dari sarangnya dan salah membaca pantulan bola sebelum menahan Jeremy Doku.

4 dari 5 halaman

Arteta Biasanya Tidak Segan Mengambil Keputusan Keras

Yang membuat keputusan ini semakin menarik adalah rekam jejak Arteta sebelumnya. Ia dikenal tidak ragu mengambil keputusan tegas, bahkan terhadap pemain penting.

Pada musim 2021/2022, Arteta pernah mencadangkan Bernd Leno di semifinal Carabao Cup meskipun sang kiper memainkan tiga putaran sebelumnya. Saat itu ia lebih memilih Aaron Ramsdale sebagai penjaga gawang utama.

Hal serupa juga terjadi pada pemain outfield. Christian Norgaard sempat bermain penuh dalam tiga putaran awal Carabao Cup musim ini, tetapi kemudian tidak dimainkan lagi setelah semifinal.

Biar begitu, dalam kasus Kepa, Arteta tampaknya memilih pendekatan berbeda. Ia merasa posisi penjaga gawang memiliki dinamika tersendiri dalam sebuah tim.

5 dari 5 halaman

Kedalaman Skuad Arsenal di Posisi Kiper

Arsenal memang memiliki kedalaman yang cukup unik di posisi penjaga gawang.

Kepa bukanlah kiper sembarangan. Ia adalah mantan penjaga gawang termahal dunia ketika bergabung dengan Chelsea dari Athletic Club pada 2018.

Kiper asal Spanyol itu juga memiliki pengalaman internasional dengan 13 caps bersama tim nasional Spanyol. Musim lalu, ia bahkan tampil sebagai starter dalam 31 pertandingan Premier League bersama Bournemouth saat dipinjamkan oleh Chelsea.

Arteta juga menegaskan bahwa ia tidak pernah memberikan jaminan kepada pemain untuk bermain di kompetisi tertentu.

“Saya tidak pernah bisa menjanjikan kepada seorang pemain bahwa dia akan bermain di kompetisi tertentu, karena pada akhirnya mereka harus mendapatkannya. Kami dipandu oleh apa yang kami lihat dan apa yang telah dia lakukan," lanjut Arteta.

“Saya percaya ini adalah keputusan yang tepat. Kesalahan adalah bagian dari sepak bola, dan hari ini itu terjadi pada momen yang sangat krusial.”

Pada akhirnya, keputusan Arteta mungkin memiliki tujuan jangka panjang. Memberi kepercayaan kepada pemain pelapis bisa membantu menjaga kedalaman skuad dan loyalitas dalam tim. Sayangnya, di final Carabao Cup ini, keputusan tersebut terbukti membawa risiko besar.

LATEST UPDATE