Bertahan di Lapangan, Bertepuk Tangan Saat Pemain Manchester City Menerima Trofi, Ini Penjelasan Arteta

Afdholud Dzikry | 23 Maret 2026 08:47
Bertahan di Lapangan, Bertepuk Tangan Saat Pemain Manchester City Menerima Trofi, Ini Penjelasan Arteta
Kapten Manchester City, Bernardo Silva mengangkat trofi Carabaao Cup di tribune Wembley usai mengalahkan Arsenal di Final. (c) AP Photo/Richard Pelham

Bola.net - Mikel Arteta memilih tetap berada di lapangan Stadion Wembley saat para pemain Manchester City menerima trofi Carabao Cupx, Minggu (22/3/2026) lalu. Meski kalah 0-2, pelatih asal Spanyol itu menunjukkan sikap ksatria di tengah perayaan lawan.

Gestur ini menjadi sorotan di tengah kekecewaan mendalam skuad The Gunners. Tak sedikit tim biasanya langsung masuk ke ruang ganti untuk menghindari momen pahit saat rival merayakan kemenangan.

Advertisement

Namun bagi Arteta, keputusan tersebut bukan sekadar soal emosi, melainkan bentuk profesionalisme dan penghormatan kepada lawan serta publik sepak bola.

Meski kekalahan terasa menyakitkan, Arteta tidak ingin timnya kehilangan perspektif atas pencapaian selama delapan bulan terakhir. Ia justru ingin menjadikan kekecewaan ini sebagai sumber motivasi untuk sisa musim.

1 dari 3 halaman

Penghormatan Arsenal

Tetap berada di lapangan saat lawan berpesta bukan hal mudah, terutama setelah pertandingan yang melelahkan. Namun Arteta memiliki pandangan jelas tentang sportivitas.

"Saya pikir itu adalah bentuk rasa hormat karena mereka memenangkan piala tersebut," ujarnya.

Menurutnya, menunggu hingga trofi diangkat adalah bentuk apresiasi. Namun, ia juga menegaskan pentingnya menjaga batas.

"Kita menunggu sampai mereka mengangkat trofi. Setelah itu, saat mereka mulai merayakan, barulah kita meninggalkan lapangan. Itulah yang kami lakukan," jelasnya.

2 dari 3 halaman

Mengubah Kekecewaan Menjadi Motivasi

Mengubah Kekecewaan Menjadi Motivasi

Dua bek Arsenal, Gabriel Magalhaes dan William Saliba bereaksi usai laga melawan Manchester City di Final Carabao Cup, 22 Maret 2026. (c) AP Photo/Richard Pelham

Arteta tidak menjadikan selebrasi lawan sebagai motivasi utama. Ia lebih fokus pada semangat yang lahir dari dalam timnya sendiri.

"Apa yang telah dilakukan tim ini dalam delapan bulan terakhir sungguh luar biasa," katanya dengan bangga.

Ia ingin rasa kecewa ini menjadi bahan bakar untuk menjalani dua bulan terakhir musim dengan maksimal.

"Kami akan menggunakan kekecewaan ini sebagai energi untuk menjalani dua bulan terbaik kami. Itu sepenuhnya bergantung pada kami," tegasnya.

3 dari 3 halaman

Ujian Mental Menuju Akhir Musim

Kekalahan di final sering dikhawatirkan berdampak pada mental tim. Namun Arteta menolak anggapan tersebut, mengingat timnya sudah memainkan 50 pertandingan musim ini.

"Jika setiap kekalahan berdampak besar, maka Anda tidak siap memainkan 70 pertandingan," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Arsenal telah berulang kali menunjukkan kemampuan bangkit setelah hasil buruk.

"Kami punya rekam jejak yang jelas dalam merespons situasi seperti ini, dan saya yakin kami akan melakukannya lagi," pungkas Arteta.

LATEST UPDATE