Filosofi vs Hasil: Dari Jose Mourinho Hingga Ruben Amorim, Pelatih-Pelatih yang Keras Kepala
Richard Andreas | 18 September 2025 20:28
Bola.net - Jose Mourinho kembali melontarkan kritik tajam soal tren pelatih modern. Menurutnya, banyak manajer lebih rela "mati demi ide" ketimbang beradaptasi untuk meraih kemenangan. Sindiran itu ia lontarkan dalam wawancara dengan Canal 11, media milik Federasi Sepak Bola Portugal.
Meski tidak menyebut nama, komentarnya langsung mengingatkan publik pada banyak kasus nyata di sepak bola Eropa. Mourinho menilai ada perbedaan mencolok antara pelatih pragmatis yang fokus pada trofi dan pelatih "penyair" yang mengutamakan gaya main.
Pernyataan itu mengulang kembali kutipan terkenalnya usai membawa Manchester United juara Liga Europa 2017. Saat itu, Mourinho menyebut banyak "penyair di sepak bola" yang indah dalam permainan, tapi jarang angkat piala.
Fenomena ini kini semakin relevan, terutama dengan sorotan kepada pelatih seperti Ruben Amorim di Manchester United, Ange Postecoglou di Tottenham, hingga Andrea Pirlo di Juventus. Dari sini, diskusi soal filosofi, hasil, dan fleksibilitas kembali mencuat.
Mourinho: Kritik Terhadap Pelatih yang Mati Demi Ide

Mourinho menilai era sepak bola modern terlalu mengagungkan filosofi ketimbang hasil. "Kalau kamu mati karena ide, kamu bodoh," ujarnya lugas. Baginya, kemenangan tetap menjadi ukuran utama, bukan sekadar cara bermain.
Komentarnya menyinggung realitas di mana pelatih sering mempertahankan gaya main meski tidak efektif. Ruben Amorim, misalnya, kukuh dengan sistem 3-4-3 di United meski hanya meraih sedikit kemenangan. Ange Postecoglou juga menolak mengubah garis pertahanan tinggi Spurs meski dihukum berulang kali.
Andrea Pirlo bahkan mengaku lebih suka kalah dengan 90 persen penguasaan bola ketimbang bertahan total. Russell Martin pun menegaskan dirinya rela dipecat asal tetap setia pada gaya main. Semua contoh ini sesuai dengan "definisi kebodohan" Mourinho, meski mereka jelas bukan pelatih bodoh.
Filosofi vs Realita: Guardiola Hingga Postecoglou
Filosofi sepak bola memang bisa mengangkat reputasi pelatih. Guardiola, misalnya, membawa pendekatan baru di Inggris sejak 2016. Kini, dari Premier League hingga divisi bawah, banyak tim mengadopsi gaya "main dari belakang" ala City.
Namun, bahkan Guardiola pun melakukan penyesuaian. Dalam periode sulit di Manchester City, ia tetap setia pada prinsip utama, tapi menambahkan elemen transisi dan fleksibilitas untuk menjaga hasil. Postecoglou yang awalnya kaku, akhirnya juga harus lebih pragmatis saat membawa Spurs juara Liga Europa.
Kenyataannya, fleksibilitas menjadi kunci. Luis Enrique sempat dihujani kritik karena filosofi ekstrem di PSG, tapi keberanian tetap teguh dengan sedikit modifikasi akhirnya membawa keberhasilan di musim lalu. Hal ini menunjukkan bahwa "penyair" pun bisa menang bila tahu kapan harus beradaptasi.
Kasus Ruben Amorim: Filosofi yang Menjadi Beban

Di Manchester United, Ruben Amorim menghadapi dilema serupa. Sistem tiga bek yang sukses di Sporting CP justru gagal total di Premier League. Dalam 42 laga liga terakhir, United tercatat hanya melakukan tujuh kali perubahan formasi dalam pertandingan, terendah dibandingkan tim lain.
Keras kepalanya Amorim membuat publik bingung. Bahkan ketika United tertinggal, ia jarang menyesuaikan formasi untuk mengejar gol. Statistik Opta menunjukkan hasil minim: enam kemenangan Premier League dalam sembilan bulan, sebagian besar melawan tim papan bawah.
Masalah bukan hanya pada formasi tiga bek, tapi pada ketidakmauan untuk beradaptasi. Premier League menuntut fleksibilitas tinggi, terutama dengan tren serangan balik cepat yang makin dominan. Di sinilah kelemahan Amorim tampak jelas: terlalu kaku pada "filosofi" tanpa ruang improvisasi.
Adaptasi, Bukan Sekadar Ide
Pelajaran dari semua ini adalah bahwa filosofi hanyalah titik awal. Setiap pelatih memang butuh visi, tapi visi itu tidak boleh mengekang. Tanpa adaptasi, filosofi bisa berubah jadi jebakan.
Mourinho sendiri mengaku pragmatis, tapi rekam jejaknya dalam satu dekade terakhir juga menunjukkan kebuntuan. Ia sering dipecat meski berpegang pada pendekatan lama. Sementara Guardiola tetap jadi contoh bahwa adaptasi dalam kerangka filosofi bisa menghasilkan dominasi jangka panjang.
Akhirnya, sepak bola modern adalah tentang bertahan hidup. Pelatih yang mampu menyeimbangkan ide dengan hasil punya peluang lebih besar untuk sukses. Seperti kata Mourinho, "Mati demi ide itu bodoh", tapi tetap hidup tanpa ide juga bukan jalan keluar.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Melihat Kobbie Mainoo Bersinar, Jadi Ruben Amorim Keliru?
Liga Inggris 8 Februari 2026, 19:44
-
Arteta Tegaskan Jarak 9 Poin Tak Berarti Apa-Apa bagi Arsenal
Liga Inggris 8 Februari 2026, 19:31
-
4 Laga, 4 Kemenangan: Awal Sempurna Liam Rosenior Bersama Chelsea
Liga Inggris 8 Februari 2026, 19:14
-
Tempat Menonton Liverpool vs Man City: Premier League Live Streaming di Vidio
Liga Inggris 8 Februari 2026, 19:04
-
Agen Bruno Beraksi: Terang-terangan Lempar Pujian untuk Cole Palmer
Liga Inggris 8 Februari 2026, 18:31
LATEST UPDATE
-
Hasil Atletico Madrid vs Betis: Gol Antony Bungkam Metropolitano
Liga Spanyol 9 Februari 2026, 02:56
-
Hasil Bayern vs Hoffeinheim: Hat-trick Luis Diaz Bawa Die Roten Pesta Gol di Kandang
Bundesliga 9 Februari 2026, 02:39
-
Hasil Sassuolo vs Inter: Jay Idzes dkk. Tak Kuasa Bendung Keganasan Sang Capolista
Liga Italia 9 Februari 2026, 02:15
-
Man of the Match Liverpool vs Man City: Erling Haaland
Liga Inggris 9 Februari 2026, 02:00
-
Hasil Liverpool vs Man City: Kena Come Back, The Reds Keok 1-2 di Anfield
Liga Inggris 9 Februari 2026, 01:46
-
Hasil Pertandingan: Timnas Indonesia U-17 Kalah 0-7 dari China U-17
Tim Nasional 9 Februari 2026, 00:44
-
Tempat Menonton Valencia vs Real Madrid: Live Streaming La Liga di Vidio
Liga Spanyol 8 Februari 2026, 20:47
-
Gokil! Bintang NBA Kucurkan Uang untuk Jadi Jajaran Pemilik Chelsea
Liga Inggris 8 Februari 2026, 20:29
-
Proliga 2026: Jalan Bandung BJB Tandamata Makin Berat, Empat Laga Jadi Penentuan Final Four
Voli 8 Februari 2026, 20:27
-
Livin Mandiri Tampil Ganas, Paksa Gresik Phonska Plus Telan Kekalahan Kedua di GOR Ken Arok
Voli 8 Februari 2026, 20:25
-
Tempat Menonton Juventus vs Lazio: Live Streaming Serie A di Vidio
Liga Italia 8 Februari 2026, 20:17
-
Tempat Menonton Sassuolo vs Inter: Live Streaming Serie A di Vidio
Liga Italia 8 Februari 2026, 20:01
-
Live Streaming Valencia vs Real Madrid - Link Nonton La Liga/Liga Spanyol di Vidio
Liga Spanyol 8 Februari 2026, 20:00
-
Live Streaming Juventus vs Lazio - Link Nonton Serie A/Liga Italia di Vidio
Liga Italia 8 Februari 2026, 19:45
LATEST EDITORIAL
-
Gelimang Uang Tak Menjamin Bahagia, 4 Bintang Saudi Pro League Ini Katanya Tak Kerasan
Editorial 5 Februari 2026, 11:49
-
8 Kandidat Klub Baru Cristiano Ronaldo Jika Berpisah dengan Al Nassr, Balik ke MU?
Editorial 4 Februari 2026, 15:31
-
10 Pemain Bebas Transfer yang Masih Bisa Direkrut Klub-Klub Top Eropa
Editorial 4 Februari 2026, 14:57
-
Dari Jeremy Jacquet hingga Alisson: 7 Pemain yang Menolak Chelsea untuk Liverpool
Editorial 3 Februari 2026, 14:14
-
10 Transfer Termahal Januari 2026
Editorial 3 Februari 2026, 11:42
