AC Milan Rugi Besar: Belanja Rp10 Triliun dan Gagal ke Liga Champions

Gia Yuda Pradana | 27 Mei 2026 01:19
AC Milan Rugi Besar: Belanja Rp10 Triliun dan Gagal ke Liga Champions
Ekspresi skuad AC Milan usai dikalahkan Cagliari di Liga Italia 2025/26, Senin (25/05/2026). (c) AP Photo/Antonio Calanni

Bola.net - AC Milan masih berada dalam kondisi finansial yang stabil meski performa tim belum konsisten dalam beberapa musim terakhir. Klub asal Italia itu tetap mampu menggelontorkan dana besar untuk membangun skuad sejak diambil alih RedBird Capital.

Masalah utama muncul pada efektivitas belanja pemain yang belum menghasilkan pencapaian sesuai target klub. Total pengeluaran transfer mencapai €515 juta atau sekitar Rp10,7 triliun, tetapi Milan justru kehilangan potensi pemasukan Liga Champions senilai €70 juta atau sekitar Rp1,45 triliun.

Advertisement

Dalam empat musim terakhir, Milan hanya meraih satu trofi, yakni Supercoppa Italiana. Rossoneri juga gagal tampil di Liga Champions selama dua musim beruntun setelah finis kedelapan dan kelima di Serie A.

1 dari 3 halaman

Pendapatan Klub Tetap Tumbuh

La Gazzetta dello Sport melaporkan pendapatan Milan di luar penjualan pemain naik hingga 66 persen selama era RedBird. Klub juga mencatat tiga laporan keuangan positif secara beruntun sejak musim 2022-2023.

Model bisnis Milan dibangun dengan pendekatan pertumbuhan berkelanjutan tanpa terlalu bergantung pada dana pemilik. Pendapatan komersial, kontrol gaji, dan aktivitas transfer menjadi fondasi utama proyek Gerry Cardinale.

Suntikan dana pemilik senilai €55 juta atau sekitar Rp1,14 triliun hanya dialokasikan untuk proyek stadion baru. Namun, laba dalam dua musim terakhir sangat terbantu oleh penjualan Sandro Tonali dan Tijjani Reijnders.

2 dari 3 halaman

Belanja Besar Belum Tepat Sasaran

Milan mengeluarkan €108 juta pada musim 2022-2023 tanpa melakukan penjualan pemain dalam jumlah besar. Charles De Ketelaere dan Ruben Loftus-Cheek menjadi investasi utama pada periode tersebut.

Semusim berikutnya, Milan kembali aktif dengan belanja €124 juta untuk Christian Pulisic, Yunus Musah, dan Samuel Chukwueze. Penjualan pemain memang mencapai €84 juta, tetapi performa tim tetap belum stabil sepanjang kompetisi.

Pada musim 2024-2025, Milan kembali menghabiskan €123 juta untuk Santiago Gimenez dan Youssouf Fofana. Aktivitas transfer terus berlanjut pada 2025-2026 dengan nilai sekitar €160 juta untuk Christopher Nkunku dan Ardon Jashari.

Jika ditotal, Milan memutar dana €515 juta dengan pengeluaran bersih sekitar €250 juta atau hampir Rp5,2 triliun. Nilai besar itu belum mampu membawa klub kembali menjadi penantang utama di Italia maupun Eropa.

3 dari 3 halaman

Beban Skuad Meningkat Tajam

Milan memang berhasil menjaga struktur gaji agar tidak melonjak drastis sejak awal era RedBird. Meski begitu, biaya skuad yang mencakup gaji dan amortisasi kini mencapai €250 juta atau sekitar Rp5,2 triliun per musim.

Angka tersebut sudah melampaui AS Roma dan Atalanta yang berada di kisaran €200 juta. Milan bahkan mulai mendekati Inter Milan yang memiliki biaya skuad sekitar €260 juta.

Data itu memperlihatkan ada persoalan besar dalam proses perekrutan pemain selama beberapa tahun terakhir. Pengeluaran besar belum menghasilkan kualitas tim yang mampu menjaga posisi di papan atas Serie A secara konsisten.

Sumber: Sempre Milan