Kritik Ruud Gullit pada Sepak Bola Italia: DNA Italia Itu Bertahan, Bukan Tiki Taka!

Afdholud Dzikry | 21 April 2026 06:20
Kritik Ruud Gullit pada Sepak Bola Italia: DNA Italia Itu Bertahan, Bukan Tiki Taka!
Pemain Italia berkumpul di tengah lapangan saat adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina di playoff Piala Dunia 2026, 1 April 2026. (c) AP Photo/Armin Durgut

Bola.net - Legenda AC Milan, Ruud Gullit, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi sepak bola Italia saat ini. Ia menilai Tim nasional Italia mulai kehilangan identitas karena terlalu jauh meninggalkan karakter permainan yang dulu menjadi kekuatan utama.

Sorotan itu tidak lepas dari kegagalan Italia menembus putaran final Piala Dunia FIFA dalam tiga edisi beruntun. Menurut Gullit, ada kekeliruan mendasar dalam pendekatan taktik yang membuat tim terlihat kehilangan arah. Perubahan gaya bermain dinilai tidak diimbangi dengan pemahaman terhadap karakter pemain.

Advertisement

Pengalaman Gullit di Serie A membuat pandangannya cukup relevan. Ia pernah menjadi bagian dari era sukses bersama Marco van Basten dan Frank Rijkaard di AC Milan, sehingga memahami betul kekuatan tradisional sepak bola Italia.

Karena itu, ia melihat tren bermain dari lini belakang yang kini marak justru tidak selalu cocok diterapkan. Dalam pandangannya, Italia perlu kembali menekankan kekuatan defensif yang selama ini menjadi ciri khas mereka.

1 dari 2 halaman

Lupakan Tiki-Taka

Gullit menilai gaya tiki-taka tidak bisa diterapkan secara seragam oleh semua tim. Ia melihat Italia terlalu memaksakan membangun serangan dari area sendiri, padahal kekuatan utama mereka bukan di aspek tersebut.

Ia kemudian mengingatkan kembali keberhasilan Italia yang ditopang lini belakang solid. Duet Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini disebut sebagai contoh nyata fondasi keberhasilan tim dalam beberapa tahun terakhir.

"Anda harus kembali ke DNA Italia, yaitu bek yang bagus, kiper yang bagus, dan striker yang bagus," ujar Gullit kepada Sky Sport Italia.

"Trofi terakhir yang dimenangkan Italia sebagian besar berkat Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Itulah DNA Anda, bek-bek terbaik," tegasnya.

2 dari 2 halaman

Belajar dari Masa Lalu

Gullit menegaskan bahwa fokus pada pertahanan bukan berarti bermain pasif. Ia mencontohkan sosok seperti Paolo Maldini dan Fabio Cannavaro sebagai standar kualitas bertahan yang tetap efektif tanpa mengorbankan permainan tim.

Menurutnya, tradisi bertahan adalah kekuatan yang seharusnya tetap dijaga. Ia melihat upaya bermain terlalu terbuka justru kerap merugikan Italia dalam beberapa tahun terakhir.

"Saya tidak bermaksud Anda perlu parkir bus, tetapi dulu ada Paolo Maldini di pertahanan, sementara Fabio Cannavaro memenangkan Ballon d’Or untuk Italia. Bertahan itu penting," jelas mantan pemain UC Sampdoria tersebut.

"Sekarang semua orang ingin melakukan sepak bola tiki-taka dengan bermain keluar dari area penalti sendiri, tapi itu bukan untuk semua orang," tambah Gullit.

LATEST UPDATE