Sebuah Kisah Klasik AC Milan: 5 Penyebab Tenggelamnya I Rossoneri
Richard Andreas | 29 April 2020 14:00
Bola.net - AC Milan, salah satu klub (yang pernah) besar di dunia. Entah apa yang terjadi, Milan dalam satu dekade terakhir benar-benar buruk. Jangankan bicara soal gelar juara, mereka bahkan terseok-seok untuk menembus papan atas.
Milan memang pernah jadi salah satu tim yang paling ditakuti di Eropa. Misalnya kejayaan mereka pada tahun 1990-an, juga generasi emas mereka tahun 2003-2007. Namun, sejak musim 2010/11, hanya kesulitan yang dihadapi Milan.
Mereka terakhir kali menjuarai Serie A pada musim itu, 2010/11, dan terakhir kali bermain di Liga Champions pada musim 2013/14. Jelas itu catatan buruk bagi klub besar mana pun.
Rossoneri sudah mencoba bangkit berkali-kali, tapi berulang kali pula mereka terjatuh. Sejumlah pemain top datang dan pergi, hampir semua gagal. Investor datang silih berganti, Milan tetap jalan di tempat.
Sebenarnya apa yang terjadi pada AC Milan? Tentu ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, ada banyak alasan yang menyebabkan Milan terjatuh sedalam ini. Namun, setidaknya ada empat alasan utama yang disimpulkan oleh LatinAmerican Post.
Apa saja? Baca selengkapnya di bawah ini ya, Bolaneters!
1. Kurangnya konsolidasi proyek skuad
Milan sudah berganti-ganti pelatih, sebut saja Filippo Inzaghi, Clarence Seedorf, Sinisa Mihajlovic, Cristian Brocchi, Vincenzo Montella, Gennaro Gattuso, dan sekarang Stefano Pioli. Saking seringnya, pelatih-pelatih itu tidak sempat menanamkan filosofi yang mereka inginkan.
Pelatih mana pun butuh waktu, terlebih untuk membangkitkan tim yang telanjur terpuruk seperti Milan. Namun, karena hasil-hasil pertandingan yang tidak memuaskan, pada akhirnya mereka terpaksa pergi sebelum tuntas bekerja.
Mereka tidak punya waktu, tidak punya dukungan untuk menjalankan proyek yang sudah dirancang. Artinya, proyek itu pun terus berganti setiap pelatih berganti, jelas tidak iedal.
Hal ini berarti Milan tidak punya identitas yang jelas atau proyek yang jelas untuk mengembangkan tim.
2. Investasi jutaan tanpa megabintang
Milan telah menghabiskan banyak uang untuk membeli pemain. Bahkan mereka pernah mendatangkan 10 pemain sekaligus hanya dalam satu bursa transfer.
Kasus unik ini terjadi di era Montella, ketika Milan menghabiskan 160 juta poundsterling untuk merombak skuad. Mereka mendatangkan Musacchio, Frank Kessie, Ricardo Rodriguez, Andre Silva, Fabio Borini, Hakan Calhanoglu, Antonio Donnarumma, Andrea Conti, Lucas Biglia, bahkan Leonardo Bonucci.
Sekarang, hanya segelintir pemain-pemain itu yang masih membela Milan sampai sekarang. Megatransfer ini pun dipandang tidak tepat, karena Milan tidak mendatangkan satu pun megabintang.
Tidak ada transfer megah sekelas Kaka atau Shevchenko. Milan sudah tepat memilih berinvestasi pada pemain-pemain muda, tapi pemain muda itu pun tersesat karena tidak banyak pemain senior yang bisa membimbing mereka.
3. Kerugian besar-besaran
Transfer buruk berakibat pada tim yang buruk, yang ujung-ujungnya membuat Milan kian sengsara gagal memenangi pertandingan. Perlahan-lahan, Milan merosot jadi tim medioker.
Mereka terakhir kali tampil di Liga Champions pada musim 2013/14. Karena menjalani musim-musim buruk di Serie A, Milan benar-benar kesulitan mencari cara kembali ke turnamen prestisius tersebut.
Akibatnya, Adidas memutus kerja sama dengan Milan sejak beberapa tahun lalu. Hal ini berimbas pada hilangnya dana sponsor senilai 19 juta euro per tahun.
Perlahan-lahan Milan terus kehilangan sponsor karena kesulitan mereka di lapangan, apalagi bicara soal trofi. Kabarnya, Milan merugi sampai ratusan juta euro karena lama tidak juara dan lama tidak bermain di Liga Champions.
4. Pencarian direktur teknik
Singkatnya, karena terus berganti pelatih, Milan seharusnya mengangkat direktur teknik untuk menjaga proyek besar pembangunan skuad. Dengan demikian, siapa pun pelatih yang datang, dia harus mengikuti proyek yang sudah direncanakan tersebut.
Milan terlambat bergerak. Bermusim-musim berlalu, mereka tidak punya proyek yang jelas, tidak punya direktur teknik. Milan sempat memercayai Leonardo, yang ternyata gagal total.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Milan akhirnya mulai berbenah beberapa tahun terakhir. Mereka mendatangkan Ivan Gazidis sebagai CEO, lalu menunjuk Paolo Maldini sebagai direktur teknik.
Sayangnya, kabarnya Maldini pun tidak bisa bekerja bebas karena otoritasnya benar-benar dibatasi.
5. Konflik internal
Masalah yang dialami Maldini terbukti pada kasus pemecatan Zvonimir Boban beberapa waktu lalu. Boban menjabat sebagai CFO, tapi berseteru dengan Gazidis.
Boban menjalin kerja sama apik dengan Maldini. Mereka bertanggung jawab atas pemecatan Marco Giampaolo dan penunjukan Stefano Pioli dewasa ini.
Namun, kabarnya Gazidis tidak terlalu suka dengan perkembangan Milan di bawah Pioli. Dia ngotot menunjuk Ralf Rangnick untuk menangani Milan musim depan tanpa berkonsultasi dengan Maldini atau Boban.
Boban jelas berang, dia mengkritik Gazidis di depan media. Pada akhirnya, justru Boban yang harus meninggalkan Milan.
Sumber: LatinAmerican Post
Baca ini juga ya!
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Hasil BRI Super League: Brian Rubio Borong Dua Gol, Garudayaksa FC Taklukkan PSS
Bola Indonesia 1 November 2026, 20:57
-
Hasil Como vs Venezia: Pasukan Cesc Fabregas Amankan Tiga Poin dan Posisi Empat
Liga Italia 1 November 2026, 20:29
-
Live Streaming Juventus vs Napoli: Jadwal dan Link Nonton
Liga Italia 1 November 2026, 14:30
-
Rating Pemain Inter Milan usai Kalah 1-3 dari AC Milan: Kebanyakan 6
Liga Italia 1 November 2026, 08:28
-
Rating Pemain AC Milan usai Hajar Inter Milan: Moreira Tertinggi, Maignan Krusial
Liga Italia 1 November 2026, 08:21
LATEST UPDATE
-
Tantang Fenerbahce, Liverpool Nostalgia Malam Magis di Istanbul
Liga Champions 4 November 2026, 14:40
-
Jose Mourinho Peringatkan Real Madrid untuk Tidak Jemawa ketika Hadapi AEK Athens
Liga Champions 4 November 2026, 14:20
-
Tempat Menonton Melbourne Victory vs Persib, 4 November 2026
Bola Indonesia 4 November 2026, 14:15
-
Link Streaming Melbourne Victory vs Persib, 4 November 2026
Bola Indonesia 4 November 2026, 14:09
-
Bocah Ajaib Manchester United itu Bernama Shea Lacey
Liga Champions 4 November 2026, 14:00
-
Tumbang Lawan AS Roma, Seberapa Parah Cedera Carlos Baleba?
Liga Inggris 4 November 2026, 13:20
-
Prediksi Celta vs Union Saint-Gilloise 6 November 2026
Liga Eropa UEFA 4 November 2026, 13:10
-
Prediksi Real Sociedad vs Lyon 6 November 2026
Liga Eropa UEFA 4 November 2026, 12:04
-
Gabriel Batistuta dan Kisah Cinta Abadi di Balik Selebrasi Ikonik 'Te Amo, Irina!'
Liga Italia 4 November 2026, 11:21
-
Prediksi AZ vs Juventus 6 November 2026
Liga Eropa UEFA 4 November 2026, 10:09
-
Prediksi Milan vs Ferencvaros 6 November 2026
Liga Eropa UEFA 4 November 2026, 09:50
-
Di Balik Penalti Bruno Fernandes yang Diulang
Liga Champions 4 November 2026, 08:20
-
Mengungkap Penyebab Roma Gagal Bendung Kebangkitan Manchester United
Liga Champions 4 November 2026, 08:14
-
Selalu Ada Keyakinan di Old Trafford
Liga Champions 4 November 2026, 08:03
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18

