Bola Beli: Polygon MTB Fulsus vs Hardtrail, Mana yang Paling Oke untuk Cross Country?
Anindhya Danartikanya | 19 Januari 2021 10:56
Bola.net - Seperti diketahui, ada dua tipe sepeda yang biasa dipakai dalam pergowesan off road, terutama dalam cross country. Arena cross country biasanya menyajikan jalan tanpa aspal dengan kontur tanjakan yang beragam, serta turunan yang tak kelewat ekstrem.
Yang pertama adalah 'fulsus', atau sepeda full suspension. Sesuai namanya, sepeda ini dilengkapi suspensi depan dan belakang. Pemakai sepeda ini biasanya mengincar kenyamanan saat melaju di atas jalan yang tak rata. Sepeda yang dilengkapi dengan suspensi belakang akan membuat getaran dari ban belakang bisa diredam.
Pada kondisi jalan menurun dan off road, pengendara akan merasakan manfaat suspensi belakang. Jika dilengkapi dengan suspensi belakang yang mumpuni, bagian belakang sepeda terasa lebih stabil meski melewati jalanan berbatu. Efeknya, goweser tipikal pemuja kecepatan dan adrenalin bisa menggeber sepeda lebih maksimal, meski menghadapi medan tak rata dan menurun.
Namun, tipe fulsus ini punya kelemahan di tanjakan. Jika peredam kejut belakang tak memiliki fungsi pengunci, sepeda terasa memantul saat digowes. Hal ini kerap disebut 'efek bobbing', yang terjadi saat rantai mengendor dan juga mengencang karena adanya gerakan suspensi belakang. Hal ini akan berakibat pada kayuhan yang semakin berat dan tentunya menguras lebih banyak energi.
Adanya fitur suspensi belakang dan rancang bangun sepeda fulsus yang lebih rumit biasanya juga akan memiliki efek berat total sepeda yang makin bertambah. Hanya saja, biasanya goweser mengakali soal berat total ini dengan memakai bagian sepeda seperti setang, transmisi, rem, wheelset (ban dan velg) hingga perlengkapan lain yang memiliki berat ringan.
Sepeda Hardtail

Jenis kedua dari sepeda cross country alias XC adalah sepeda hardtail yang biasanya hanya memiliki suspensi depan. Sepeda ini sudah pasti tak dilengkapi suspensi belakang. Jika dibuat dari material yang sama, bobot total rangka sepeda hardtail pasti akan lebih ringan dari sepeda fulsus.
Faktor bobot yang lebih ringan ini menjadi kelebihan sepeda hardtail. Sepeda ini tak akan menemui masalah efek bobbing yang dialami sepeda fulsus. Faktor bobot yang lebih ringan dan tak punya masalah bobbing ini membuat sepeda hardtail lebih cocok dipakai jika medan yang akan dilalui didominasi tanjakan.
Kebalikan dengan sepeda fulsus yang nyaman jika dipakai di medan turunan berbatu atau tidak rata, sepeda hardtail akan terasa lebih sulit. Tanpa suspensi belakang, pemakai sepeda hardtail pasti akan merasakan bagian belakang sepedanya terpental-pental jika melalui medan tak rata. Jenis ban yang dipilih juga menentukan pengalaman berkendara sepeda dan akan mempengaruhi harga sepeda. Cek harga ban dalam sepeda sebelum membeli.
Sebagai produsen sepeda merk lokal, Polygon menyediakan dua jenis sepeda cross country dalam line up jualan. Buat cross country fulsus, Polygon memiliki seri Siskiu D5, D7, T7, dan T8. Tiga sepeda tersebut dijual di rentang harga Rp. 9 hingga 28 jutaan.
Sementara buat jenis hardtail, Polygon punya varian Premier, XTrada, dan Syncline di rentang harga Rp 4 hingga 20 jutaan. Dengan pilihan dan ketersediaan jenis, sekarang tinggal tergantung Anda, mau pilih sepeda fulsus atau hardtail?
Disadur dari: Bolacom (Erwin Fitriansyah) | Dipublikasi: 14 Januari 2021
Video: 5 Pemain Bintang di Liga Spanyol dengan Harga Tertinggi Termasuk Lionel Messi
Baca Juga:
Bola Beli: Mengenal Perlengkapan yang Harus Dipakai Kiper Futsal
Bola Beli: Menciptakan identitas Diri dengan Sepatu Sepak Bola Adidas
Bola Beli: Sepatu Puma Ultra Cocok Bagi Kamu yang Ingin Seperti Aguero dan Griezmann
Bola Beli: Menelisik Sisi Unik Diadora di Antara Banyak Pilihan Sepatu Sepak Bola di Pasar Indonesia
Bola Beli: Sebelum Nike dan Adidas, Mikasa Sudah Lebih Dulu Memproduksi Bola Voli
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Timnas Indonesia Juara, Anggun C Sasmi Terharu Nyanyikan Tanah Airku
Tim Nasional 6 Oktober 2026, 06:21
-
Rapor Timnas Indonesia vs Thailand: Mental Baja Sang Juara!
Tim Nasional 6 Oktober 2026, 06:16
LATEST UPDATE
-
Man of the Match Le Havre vs PSG: Achraf Hakimi
Liga Eropa Lain 31 Oktober 2026, 06:27
-
Hasil Le Havre vs PSG: Hakimi Cetak Hat-Trick, Luis Enrique Cetak Sejarah
Liga Eropa Lain 31 Oktober 2026, 06:20
-
Pemain Juventus Muak, Luciano Spalletti Dianggap Terlalu Banyak Bicara!
Liga Italia 30 Oktober 2026, 22:58
-
Dominic Calvert-Lewin Diincar MU, Leeds: Maaf, Gak Dulu!
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:57
-
Hitung Mundur Menuju 1000 Gol Cristiano Ronaldo, Kurang Berapa?
Piala Dunia 30 Oktober 2026, 22:20
-
Youri Tielemans Lega Michael Carrick Selamat dari Pemecatan di MU
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 22:07
-
Tidak Takut, Michael Carrick Justru Tidak Sabar MU Hadapi Chelsea
Liga Inggris 30 Oktober 2026, 21:46
-
Prediksi BRI Super League: PSM vs Madura United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:10
-
Prediksi BRI Super League: Persik vs Persita 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:05
-
Prediksi BRI Super League: Arema FC vs Bali United 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 20:00
-
Prediksi BRI Super League: Dewa United vs Persija 31 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 19:55
-
Tempat Menonton Persebaya vs Persijap di BRI Super League, 30 Oktober 2026
Bola Indonesia 30 Oktober 2026, 18:05
LATEST EDITORIAL
-
4 Pemain Inggris yang Meraih Ballon d'Or sebelum Harry Kane
Editorial 27 Oktober 2026, 13:52
-
Kursi Panas Pelatih Premier League: 4 Manajer yang Berisiko Dipecat Lebih Dulu
Editorial 26 Oktober 2026, 23:49
-
7 Pelatih Gratis yang Bisa Gantikan Michael Carrick di Manchester United
Editorial 26 Oktober 2026, 16:03
-
5 Pemain Argentina yang Bisa Mewarisi Nomor 10 Lionel Messi
Editorial 8 Oktober 2026, 11:18





