Inggris vs Kroasia: 4 Pelajaran Penting dari Kemenangan Tak Biasa Tim Tiga Singa
Gia Yuda Pradana | 18 Juni 2026 06:59
Bola.net - Pertandingan Inggris vs Kroasia pada matchday 1 Grup L Piala Dunia 2026 menghadirkan wajah baru Tim Tiga Singa yang jarang terlihat dalam turnamen besar. Di bawah arahan Thomas Tuchel, Inggris tampil agresif, berani, dan jauh lebih menghibur dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Selama perjalanan ke final Euro 2024, Inggris kerap dikritik karena permainan yang terlalu hati-hati. Namun, dalam laga Inggris vs Kroasia, pendekatan tersebut berubah total dengan tekanan konstan ke pertahanan lawan.
Kemenangan 4-2 atas Kroasia juga menjadi sinyal bahwa Inggris tidak lagi hanya mengandalkan efisiensi. Mereka mampu menciptakan banyak peluang sekaligus menjaga intensitas serangan sepanjang pertandingan.
Tuchel membawa sudut pandang berbeda sebagai pelatih asing yang tidak dibebani sejarah panjang kegagalan Inggris di Piala Dunia. Pendekatan itu terlihat jelas dari cara timnya menyerang sejak menit pertama.
Hasil laga Inggris vs Kroasia tidak hanya menghasilkan tiga poin penting di Grup L. Laga ini juga memberikan sejumlah gambaran mengenai identitas baru Inggris dan tantangan yang masih harus mereka benahi.
Formula Bola Mati Tuchel Kembali Berhasil

Salah satu aspek paling menarik dalam laga ini adalah penggunaan bola mati oleh Inggris. Tuchel tetap mempertahankan skema yang sudah beberapa kali digunakan sebelumnya.
Declan Rice kembali dipercaya mengambil tendangan sudut dengan variasi yang tidak lazim. Beberapa umpan keluar dari area gawang justru menciptakan ruang bagi rekan-rekannya untuk menyerang bola.
Gol kedua Harry Kane lahir dari pola yang sangat mirip dengan skema yang pernah digunakan Inggris saat menghadapi Serbia pada kualifikasi Piala Dunia. Pergerakan pemain Inggris menciptakan blok yang membuka jalur lari Kane menuju titik pertemuan bola.
Kroasia sebenarnya memiliki kesempatan mempelajari pola tersebut dari pertandingan pemanasan sebelum turnamen. Namun, mereka tetap kesulitan menghentikan eksekusi bola mati yang telah dipersiapkan dengan matang.
Jude Bellingham Tegaskan Status Pemimpin Lini Tengah

Sebelum pertandingan, perhatian banyak tertuju pada perdebatan mengenai komposisi lini tengah Inggris. Jude Bellingham dan Morgan Rogers menjadi nama yang paling sering dibandingkan.
Bellingham menjawab semua keraguan melalui penampilan penuh pengaruh. Gelandang berusia 22 tahun itu kembali menunjukkan kematangan yang melampaui usianya.
Pemain Real Madrid tersebut mencetak gol hanya dua menit setelah babak kedua dimulai. Aksi itu diawali pergerakan cepat di sisi kanan sebelum menyelesaikan peluang dengan tenang.
Di balik performa Bellingham, Elliot Anderson juga memainkan peran penting. Distribusi bolanya membantu Inggris mempercepat transisi dan menghindari permainan lambat yang sering muncul dalam laga-laga sebelumnya.
Kelemahan Pertahanan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Meski tampil sangat tajam, Inggris belum sepenuhnya sempurna. Dua gol Kroasia memperlihatkan masih adanya celah yang dapat dimanfaatkan lawan.
Saat menguasai bola, Nico O'Reilly kerap bergerak ke area tengah. Konsekuensinya, ruang di sisi kiri pertahanan menjadi lebih terbuka ketika terjadi pergantian penguasaan bola.
Situasi tersebut dimanfaatkan Kroasia untuk mencetak gol penyama kedudukan melalui Martin Baturina. Petar Sucic berhasil bergerak di area yang ditinggalkan O'Reilly sebelum mengirim umpan penentu.
Masalah lain muncul ketika Inggris memilih bertahan terlalu dalam menjelang akhir babak pertama. Keputusan itu memberikan ruang luas bagi Kroasia untuk membangun serangan.
Gol kedua Kroasia berawal dari kurangnya tekanan terhadap Mario Pasalic. Komunikasi yang belum sempurna di lini belakang membuat Petar Musa berada dalam posisi ideal untuk menyamakan skor.
Teknik Penalti Harry Kane Kembali Jadi Perbincangan

Harry Kane turut mencuri perhatian melalui situasi penalti yang dramatis. Kapten Inggris itu sempat gagal menaklukkan Dominik Livakovic pada percobaan pertama.
Kegagalan penalti Kane di perempat final Piala Dunia 2022 melawan Prancis membuatnya mengubah teknik eksekusi dalam beberapa tahun terakhir. Ia menambahkan jeda kecil dalam awalan untuk memancing pergerakan kiper.
Metode tersebut sebenarnya cukup efektif karena menghasilkan banyak gol setelahnya. Namun, sejumlah penjaga gawang mulai mampu membaca pola yang digunakan striker Bayern Munchen tersebut.
Dalam laga Inggris vs Kroasia, tayangan ulang video menunjukkan Livakovic bergerak meninggalkan garis gawang lebih cepat. Keputusan itu membuat penalti harus diulang.
Pada kesempatan kedua, Kane menggunakan awalan yang lebih sederhana. Hasilnya, bola berhasil masuk ke gawang dan menutup malam yang produktif bagi Inggris.
Kemenangan di laga Inggris vs Kroasia menunjukkan bahwa era Thomas Tuchel berpotensi menghadirkan perubahan besar bagi Tim Tiga Singa. Meski masih memiliki masalah di sektor pertahanan, Inggris kini tampil lebih berani, lebih tajam, dan lebih siap bersaing dalam perebutan gelar Piala Dunia.
Sumber: Sports Illustrated
Klasemen Piala Dunia 2026
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Man of the Match Skotlandia vs Maroko: Ismael Saibari
Piala Dunia 20 Juni 2026, 07:06
-
Como Bergerak di Bursa Transfer: Kaiki Mendekat, Sergi Roberto Pergi
Liga Italia 20 Juni 2026, 05:12
-
Man of the Match Amerika Serikat vs Australia: Folarin Balogun
Piala Dunia 20 Juni 2026, 04:30
LATEST EDITORIAL
-
6 Kemenangan Terbesar dalam Sejarah Piala Dunia
Editorial 15 Juni 2026, 16:55
-
10 Target Transfer Arsenal yang Patut Dipantau di Piala Dunia 2026
Editorial 12 Juni 2026, 14:41
-
10 Negara dengan Koleksi Trofi Mayor Terbanyak, Argentina Ungguli Brasil
Editorial 11 Juni 2026, 14:28













