Maroko dan Magi yang Tak Pernah Hilang

Gia Yuda Pradana | 30 Juni 2026 16:00
Maroko dan Magi yang Tak Pernah Hilang
Para pemain Maroko merayakan kemenangan dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Belanda vs Maroko di Guadalupe, dekat Monterrey, Meksiko, Senin, 29 Juni 2026 (c) AP Photo/Dolores Ochoa

Bola.net - Maroko kembali membuat dunia sepak bola menoleh ke arah mereka. Di Philadelphia, Atlas Lions menyingkirkan Belanda melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit.

Bagi banyak orang, hasil itu terasa seperti pengulangan cerita dari empat tahun lalu. Maroko kembali lolos lewat adu penalti, kembali menumbangkan negara besar, dan kembali menghadirkan perayaan yang dipenuhi air mata kebahagiaan.

Advertisement

Namun, ada satu hal yang berbeda dari tim ini. Maroko yang melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 bukan lagi tim yang hidup dari pertahanan rapat dan serangan balik cepat seperti di Qatar 2022.

Mereka kini tampil dengan keberanian baru. Mereka tidak lagi menunggu permainan datang kepada mereka, tetapi mengambil alih kendali sejak peluit pertama berbunyi.

1 dari 3 halaman

Dari Tim Bertahan Menjadi Penguasa Lapangan

Dari Tim Bertahan Menjadi Penguasa Lapangan

Pemain Belanda Denzel Dumfries (22) dan pemain Maroko Anass Salah Eddine (26) berebut bola dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Belanda vs Maroko di Guadalupe, dekat Monterrey, Meksiko, Senin, 29 Juni 2026 (c) AP Photo/Dolores Ochoa

Empat tahun lalu, Maroko membuat sejarah dengan disiplin bertahan yang luar biasa. Di bawah Walid Regragui, mereka bertahan dalam blok rendah dan menghukum lawan lewat transisi cepat.

Kini, di tangan Mohamed Ouahbi, wajah Atlas Lions berubah total. Saat menghadapi Belanda, mereka menguasai 70 persen bola dan memaksa lawan bermain di bawah tekanan hampir sepanjang pertandingan.

Statistik hanya mempertegas cerita yang terjadi di lapangan. Maroko menciptakan lima peluang besar, sedangkan Belanda hanya memiliki satu peluang berbahaya.

Ronald Koeman bahkan sampai menambah pemain bertahan demi membendung gelombang serangan lawan. Itu menjadi gambaran betapa besar rasa hormat yang diberikan Belanda kepada permainan Maroko.

Seandainya Bart Verbruggen tidak tampil luar biasa di bawah mistar gawang, pertandingan mungkin sudah selesai jauh sebelum adu penalti. Kiper Belanda itu berkali-kali menggagalkan peluang emas yang diciptakan Atlas Lions.

2 dari 3 halaman

Saat Karakter Lama Kembali Muncul

Saat Karakter Lama Kembali Muncul

Pemain Maroko Issa Diop (14) merayakan gol bersama rekan-rekan setimnya dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Belanda vs Maroko di Guadalupe, dekat Monterrey, Meksiko, Senin, 29 Juni 2026 (c) AP Photo/Dolores Ochoa

Ironisnya, Belanda justru unggul lebih dahulu melalui serangan langsung yang sangat efisien. Hanya dalam beberapa sentuhan, bola bergerak dari Bart Verbruggen menuju Wout Weghorst sebelum akhirnya diselesaikan Cody Gakpo.

Gol itu terasa seperti kilas balik dari identitas lama Maroko. Cepat, sederhana, dan mematikan.

Ketika waktu terus berjalan dan papan skor masih menunjukkan keunggulan Belanda, ancaman eliminasi mulai terasa nyata. Akan tetapi, di momen seperti itulah karakter terbaik Maroko kembali muncul.

Tim ini tidak panik. Mereka tetap bermain dengan keyakinan yang sama hingga akhirnya menemukan celah pada masa tambahan waktu.

Umpan silang Chemsdine Talbi disambut sundulan Issa Diop untuk mengubah skor menjadi 1-1. Gol tersebut bukan hanya menyelamatkan Maroko, tetapi juga menghidupkan kembali harapan seluruh pendukung mereka.

3 dari 3 halaman

Bounou, Air Mata, dan Kenangan 2022

Bounou, Air Mata, dan Kenangan 2022

Para pemain Maroko bersujud syukur untuk merayakan kemenangan dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Belanda vs Maroko di Guadalupe, dekat Monterrey, Meksiko, Senin, 29 Juni 2026 (c) AP Photo/Dolores Ochoa

Adu penalti menghadirkan panggung yang sudah sangat akrab bagi Maroko. Di sinilah mereka pernah menyingkirkan Spanyol pada 2022, dan di sinilah mereka kembali menemukan pahlawan.

Yassine Bounou sekali lagi tampil sebagai tokoh utama. Penyelamatan penentunya mengunci kemenangan dan mengirim Atlas Lions ke babak berikutnya.

“Kami merasa sudah mempersiapkan diri untuk situasi ini. Kami sepenuhnya mendominasi tim ini,” ujar Mohamed Ouahbi kepada beIN Sports.

Setelah kemenangan dipastikan, yang tersisa hanyalah luapan emosi. Para pemain berhamburan ke lapangan, memeluk keluarga mereka, dan menikmati malam yang akan lama dikenang.

Ismael Saibari menjadi salah satu gambaran paling menyentuh dari momen itu. Ia berlari menuju tribune untuk memeluk ibunya di tengah perayaan yang berlangsung meriah.

Kanada kini menanti di babak 16 besar. Jika perjalanan mereka berlanjut, kemungkinan pertemuan dengan Prancis di perempat final dapat membuka kembali kenangan dari kisah hebat Maroko pada 2022.

Bedanya, kali ini, mereka datang dengan wajah baru. Maroko mungkin telah berubah cara bermain, tetapi magi yang membuat mereka begitu berbahaya ternyata masih tetap hidup.

Sumber: Sports Mole