Setelah Pejabat PSSI-nya Jerman, Giliran Eks Presiden FIFA Serukan Boikot Piala Dunia 2026

Editor Bolanet | 27 Januari 2026 14:52
Setelah Pejabat PSSI-nya Jerman, Giliran Eks Presiden FIFA Serukan Boikot Piala Dunia 2026
Trofi Piala Dunia 2026 dipajang di kantor FIFA di Zurich, Swiss pada 13 Desember 2024 lalu. (c) Til Buergy/Keystone via AP, File

Bola.net - Gelombang seruan boikot Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat kini semakin tak terbendung dan militan. Isu panas ini mencuat keras akibat kebijakan luar negeri kontroversial dari Presiden Donald Trump.

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, secara mengejutkan muncul ke publik untuk memperkeruh suasana. Ia terang-terangan meminta suporter sepak bola dunia untuk menjauhi turnamen akbar tersebut.

Advertisement

Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa menjadi pemicu utama situasi ini. Kebijakan tarif dagang dan sengketa wilayah Greenland membuat atmosfer politik global memanas.

Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) bahkan mulai mempertimbangkan langkah ekstrem untuk menarik diri. Pesta bola dunia di Amerika Utara kini berada di ujung tanduk.

1 dari 4 halaman

Peringatan Keras Sepp Blatter

Blatter tidak main-main dalam memberikan peringatan kepada para fans yang berniat terbang ke AS. Sosok senior ini menilai situasi di sana tidak lagi kondusif bagi wisatawan olahraga.

Ia mendukung penuh pernyataan Mark Pieth, seorang pakar hukum asal Swiss, yang menyebut AS berbahaya. Blatter menggunakan platform media sosialnya untuk menyebarkan ketakutan tersebut.

"Hanya ada satu saran bagi para penggemar: Jauhi Amerika Serikat!" tegas Sepp Blatter.

Blatter menilai menonton dari layar kaca jauh lebih aman daripada mengambil risiko datang langsung. Ia khawatir fans akan diperlakukan buruk oleh otoritas imigrasi setempat.

"Anda akan melihat pertandingan lebih baik di TV," lanjutnya.

2 dari 4 halaman

Jerman Siapkan Opsi Boikot

Situasi semakin runyam ketika pejabat tinggi sepak bola Jerman mulai buka suara. Wakil Presiden DFB, Oke Gottlich, menilai langkah boikot bukan lagi sekadar wacana kosong.

Gottlich merasa kebijakan agresif Trump terhadap Eropa dan isu tarif dagang sudah melampaui batas. Ia mendesak adanya diskusi serius mengenai partisipasi Jerman di turnamen tersebut.

"Saya benar-benar bertanya kapan saatnya untuk berpikir dan berbicara tentang ini (boikot) secara konkret," ujar Oke Gottlich kepada Hamburger Morgenpost.

Ketegangan politik di Berlin, yang kini dipimpin kubu Friedrich Merz, turut memanaskan hubungan dengan Washington. Göttlich merasa sepak bola tidak bisa lagi menutup mata alias apolitical.

"Bagi saya, waktu itu sudah pasti tiba," tambah Gottlich dengan nada serius.

3 dari 4 halaman

Ancaman Deportasi untuk Fans

Kekhawatiran utama bukan hanya pada isu politik tingkat tinggi, melainkan nasib suporter biasa. Kebijakan imigrasi Trump yang ketat dinilai bisa menjadi mimpi buruk bagi fans.

Mark Pieth mengingatkan bahwa fans bisa saja langsung dipulangkan jika tidak sesuai dengan selera petugas. Hal ini berlaku bahkan bagi mereka yang sudah memegang tiket resmi.

"Saat kedatangan, penggemar harus bersiap bahwa jika mereka tidak menyenangkan petugas, mereka akan langsung dimasukkan ke penerbangan berikutnya untuk pulang," kata Pieth.

Nasib lebih tragis mungkin menimpa fans dari negara-negara tertentu. Kebijakan travel ban Trump menyasar negara seperti Iran, Senegal, hingga Pantai Gading.

"Itu pun jika mereka beruntung," sindir Pieth.

4 dari 4 halaman

Petisi Fans Mulai Menggila

Ketidakpuasan ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh para pejabat elit sepak bola. Di level akar rumput, suporter mulai bergerak secara organik untuk menolak Piala Dunia di AS.

Teun van de Keuken, seorang aktivis fans asal Belanda, telah menggalang petisi penolakan yang masif. Ratusan ribu tanda tangan telah terkumpul sebagai bentuk protes keras.

"Asosiasi olahraga hampir selalu mengatakan kami tidak ingin mencampuradukkan politik dan olahraga," ucap Van de Keuken.

Namun, ia menilai argumen tersebut sudah basi karena politik praktis sudah merusak esensi turnamen. Fans kini dituntut untuk berani mengambil sikap tegas.

"Masalahnya adalah politik sudah ada di sana dan Anda harus mengambil sikap," pungkasnya.

LATEST UPDATE