5 Pelajaran dari El Clasico Barcelona vs Real Madrid di Final Piala Super Spanyol: Dominasi Blaugrana atas Sang Rival Abadi

Ari Prayoga | 12 Januari 2026 09:50
5 Pelajaran dari El Clasico Barcelona vs Real Madrid di Final Piala Super Spanyol: Dominasi Blaugrana atas Sang Rival Abadi
Para pemain Barcelona merayakan kemenangan dalam laga final Piala Super Spanyol melawan Real Madrid di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, 12 Januari 2026 (c) AP Photo/Altaf Qadri

Bola.net - Barcelona kembali menegaskan dominasinya atas Real Madrid setelah menjuarai Piala Super Spanyol 2026, sekaligus memperpanjang rekor kemenangan mereka atas rival abadi tersebut.

Final yang digelar di Jeddah pada Senin (12/1/2026) dini hari WIB itu menjadi edisi keempat berturut-turut yang mempertemukan dua raksasa Spanyol, namun jalannya laga jauh dari kata mudah bagi kedua tim.

Advertisement

Barcelona melaju ke partai puncak dengan relatif mulus, sementara Real Madrid harus bersusah payah di semifinal meski sempat unggul cepat. Meski demikian, hasil laga semifinal nyatanya tak bisa dijadikan patokan.

Tiga final Piala Super Spanyol sebelumnya selalu menghadirkan setidaknya empat gol, dan menariknya, tim runner-up La Liga selalu keluar sebagai pemenang atas juara liga.

Dengan tren tersebut, Barcelona sadar mereka harus mematahkan pola jika tak ingin menelan kekalahan El Clasico kedua secara beruntun pada musim 2025/26. Modal kepercayaan diri sebenarnya sudah dimiliki, mengingat Blaugrana sukses mengalahkan Real Madrid di final Copa del Rey musim lalu.

Berikut lima catatan penting dari kemenangan Barcelona di final Piala Super Spanyol kali ini selengkapnya.

1 dari 6 halaman

Dominasi Penguasaan Bola ala Barcelona

Dominasi Penguasaan Bola ala Barcelona

Lamine Yamal berduel dengan Eduardo Camavinga dalam laga final Piala Super Spanyol di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, 12 Januari 2026 (c) AP Photo/Altaf Qadri

Terlepas dari skor akhir, Barcelona memberikan pelajaran berharga soal sepak bola berbasis penguasaan bola. Sepanjang laga, terutama di babak pertama, Blaugrana tampil sangat dominan dengan kontrol permainan yang nyaris sempurna.

Permainan bisa dipercepat atau diperlambat sesuai kebutuhan, dan hampir seluruh kualitas permainan datang dari kubu Barcelona. Pedri dan Frenkie de Jong menjadi motor utama yang mengatur ritme, membuat para pemain Real Madrid kesulitan mendekati bola.

Frustrasi jelas terlihat dari sejumlah pemain Los Blancos seperti Jude Bellingham hingga Alvaro Carreras, yang nyaris tak mendapat kesempatan berarti untuk menguasai bola sebelum turun minum.

2 dari 6 halaman

Kepemimpinan Raphinha yang Tak Tergantikan

Kepemimpinan Raphinha yang Tak Tergantikan

Selebrasi Raphinha setelah mencetak gol keduanya dalam laga final Piala Super Spanyol, Barcelona vs Real Madrid di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, 12 Januari 2026 (c) AP Photo/Altaf Qadri

Raphinha kembali membuktikan dirinya sebagai figur penting di skuad Barcelona. Winger asal Brasil itu tampil seperti seorang kapten di lapangan, tidak hanya lewat kontribusi gol penentu, tetapi juga kerja kerasnya membantu pertahanan.

Di bawah arahan Hansi Flick, etos kerja Raphinha menjadi contoh ideal bagi para pemain muda Barcelona. Pemain bernomor punggung 11 itu menunjukkan bahwa kesuksesan di Camp Nou bukan hanya soal talenta, tetapi juga soal konsistensi dan pengorbanan untuk tim.

3 dari 6 halaman

Masalah Lama di Lini Pertahanan

Masalah Lama di Lini Pertahanan

Selebrasi pemain Real Madrid usai Gonzalo Garcia mencetak gol ke gawang Barcelona di final Piala Super Spanyol, 12 Januari 2026. (c) AP Photo/Altaf Qadri

Di balik kemenangan ini, Barcelona masih menyisakan pekerjaan rumah besar, khususnya di sektor pertahanan. Unggul dua kali dalam laga yang mereka kuasai, namun selalu kebobolan, menjadi catatan yang sulit diabaikan.

Vinicius Junior, yang sebelumnya mandul dalam 16 laga, justru mampu mencetak gol saat berhadapan dengan Jules Kounde. Meski gol tersebut lahir dari aksi individu brilian, Kounde dinilai memiliki pengalaman cukup untuk mematikan ancaman lebih awal.

Kebobolan tak lama setelah Robert Lewandowski membawa Barcelona kembali unggul menjadi momen krusial yang hampir merugikan. Masalah ini disebut-sebut kerap muncul, namun sering tertutupi oleh hasil kemenangan yang terus diraih Barcelona.

Beruntung, pada 15 menit terakhir, Blaugrana mampu menunjukkan mentalitas kuat dengan bertahan total hingga peluit akhir.

4 dari 6 halaman

Vinicius Akhiri Paceklik Gol

Vinicius Akhiri Paceklik Gol

Winger Real Madrid, Vinicius Junior. (c) AP Photo/Manu Fernandez

Vinicius Junior akhirnya kembali tersenyum. Senyum itu bukan senyum biasa, melainkan ekspresi kelegaan setelah melewati periode sulit yang cukup panjang. Bintang asal Brasil tersebut sukses mengakhiri paceklik golnya setelah 18 pertandingan beruntun tanpa mencatatkan nama di papan skor, dan ia melakukannya di panggung yang nyaris sempurna: laga besar Real Madrid kontra Barcelona.

Momen itu kembali tercipta di Arab Saudi, kembali melawan Barcelona, dan kembali dalam partai final Piala Super Spanyol. Dua tahun setelah tampil luar biasa dengan trigol yang mengantarkan Real Madrid meraih trofi, Vinicius kembali hadir sebagai pembeda. Gol terbarunya bukan sekadar gol biasa, melainkan sinyal kebangkitan sang winger yang sempat meredup.

Di tengah tekanan besar dan situasi tim yang nyaris tersingkir sebelum jeda babak pertama, Vinicius mengambil alih panggung. Pemain bernomor punggung 7 itu melakukan aksi khasnya, menusuk dari sisi kiri, melewati hadangan bek lawan, dan menuntaskan peluang dengan dingin. Seluruh lini pertahanan Barcelona dibuat tak berdaya oleh akselerasi dan keberaniannya.

Gol tersebut terasa istimewa karena datang setelah periode penuh sorotan. Vinicius sebelumnya menjadi bahan perbincangan luas, termasuk akibat pernyataannya yang sempat memicu kontroversi. Namun alih-alih larut dalam tekanan, ia memilih menjawabnya di atas lapangan, dengan performa yang berbicara.

Skema pertahanan Barcelona di bawah arahan Hansi Flick yang kerap mengandalkan penjagaan ganda tak mampu sepenuhnya meredam pergerakan Vinicius. Dengan kecepatan dan kecerdikan membaca ruang, ia berhasil mematahkan strategi tersebut dan menghidupkan kembali permainan Madrid yang sempat tertekan.

5 dari 6 halaman

Gonzalo Garcia yang Semakin Tajam

Gonzalo Garcia yang Semakin Tajam

Selebrasi penyerang Real Madrid, Gonzalo Garcia usai mencetak gol ke gawang Barcelona di Piala Super Spanyol, 12 Januari 2026 yang digelar di King Abdullah Sports City. (c) AP Photo/Altaf Qadri

Keputusan Xabi Alonso menawarkan kontrak sementara kepada Gonzalo pada 4 Januari lalu kini terbukti jitu. Awalnya, striker jebolan akademi Real Madrid itu hanya diminta mengisi kekosongan lini depan selama Kylian Mbappé absen. Namun dalam waktu singkat, Gonzalo justru menjelma menjadi kejutan manis yang mengubah rencana sang pelatih.

Gonzalo menerima tantangan tersebut tanpa ragu. Ia dipercaya menjadi ujung tombak sementara dan bahkan mengenakan nomor punggung 9 yang ditinggalkan Mbappé. Kepercayaan itu dibayar lunas. Golnya ke gawang Barcelona jelang turun minum menjadi bukti terbaru ketajamannya. Total, Gonzalo telah mencetak empat gol dari tiga laga yang ia mulai sebagai starter selama Mbappé tidak tersedia.

Secara keseluruhan, Gonzalo telah mengoleksi sembilan gol bersama Real Madrid. Rinciannya, lima gol ia cetak musim lalu bersama Castilla, satu gol di Copa del Rey, serta empat gol di Piala Dunia Antarklub. Musim ini, setelah resmi menjadi bagian skuad utama, ia sudah menambah empat gol lagi ke dalam catatannya.

Catatan tersebut membuat Gonzalo sejajar dengan kontribusi Joselu pada musim 2023/2024 yang mencetak 17 gol meski tidak selalu menjadi pilihan utama. Tipikal penyerang seperti inilah yang kerap dirindukan Madrid, tajam, siap pakai, dan efektif ketika dibutuhkan.

Saat ini, Gonzalo bahkan telah menempati posisi sebagai pencetak gol terbanyak ke-10 di dalam skuad, unggul dari beberapa nama lain, termasuk Endrick.

LATEST UPDATE