Kisah Johan Cruyff dan Dream Team Barcelona 1990-an yang legendaris
Asad Arifin | 29 Mei 2020 14:42
Bola.net - Sang legenda Johan Cruyff menandai sejarah 'sebelum dan sesudah' FC Barcelona, dengan warisan yang masih dikenang hingga saat ini baik di Camp Nou serta jutaan penggemar La Liga di seluruh dunia.
Prestasi unik Cruyff sebagai pemain dan pelatih di Barcelona menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah LaLiga, berkat gagasan revolusionernya terhadap permainan dan kekuatan kepribadiannya dalam mengendalikan perubahan itu.
Terlihat perkasa saat ini, Barca dahulu pernah mengalami puasa gelar LaLiga selama 13 tahun saat ia datang ke Camp Nou sebagai pemain di saat musim 1973/1974 sudah berjalan.
Blaugrana telah memulai musim dengan catatan buruk dan terdampar di zona degradasi. Namun, mantan penyerang Ajax tersebut menggembleng tim hingga menjuarai gelar LaLiga dengan jarak sepuluh poin.
Setelah lima musim di Katalonia ia pindah ke Liga Sepak Bola Amerika Utara (NASL), dengan Los Angeles Aztecs sebagai klub perdananya kemudian Washington Diplomats, sebelum kembali LaLiga bersama Levante.
Kembali ke Camp Nou Sebagai Pelatih

Tawaran dari Camp Nou selalu sulit ditolak oleh Cruyff, dan ia kemudian kembali sebagai pelatih pada tahun 1990.
Barcelona kembali berada di posisi sulit, hanya memenangkan satu gelar LaLiga selama dua dekade semenjak musim perdana Cruyff dan di saat bersamaan, Tim Quinta del Buitre Real Madrid yang legendaris — berisikan Emilio Butragueno, Michel, dan Hugo Sanchez telah memenangkan lima gelar liga secara beruntun.
Pelatih asal Belanda itu mulai bekerja dan dengan cepat membangun kembali tim, menggabungkan talenta yang dikembangkan melalui akademi seperti Pep Guardiola dan Guillermo Amor dengan pemain internasional Spanyol Andoni Zubizarreta dan Txiki Begiristain dan talenta internasional seperti Ronald Koeman, Michael Laudrup dan Hristo Stoichkov.
Tim baru tersebut naik ke puncak klasemen pada minggu kedua, dan tetap di sana sepanjang tahun, mengakhiri musim dengan jarak sepuluh poin di depan Atletico de Madrid yang berada di posisi kedua untuk mengklaim trofi LaLiga musim 1 990/91.
Tiga musim selanjutnya selalu lebih dramatis dari sebelumnya, dengan gelar liga yang harus ditentukan di akhir pertandingan setiap musimnya. Menuju akhir musim 1991/92 serta 1992/93, Real Madrid memimpin klasemen, tapi secara mengejutkan terjungkal oleh klub Tenerife yang dilatih oleh mantan penyerang tengah Los Blancos, Jorge Valdano. Tim Barca asuhan Cruyff selalu menyimpan rasa tegang sebelum akhirnya unggul dan merebut trofi.
Namun, penghujung musim 1993/94 mungkin menjadi yang paling dramatis. Saat iłu, RC Deportivo hanya perlu menyamai hasil Baręa vs Sevilla di kandang mereka melawan Valencia untuk mengamankan gelar LaLiga perdana setelah memimpin klasmen selama beberapa bulan.
Dengan Barcelona berhasil menang 5-2 melawan Sevilla pada perpanjangan waktu, Depor hanya mampu imbang 0-0, sebelum akhirnya dihadiahi pinalti pada waktu tambahan. Penendang penalti Depor saat itu, Bebeto, telah gagal mengeksekusi dan meminta untuk melepas tugasnya. Dengan penggantinya, Donato sudah ditarik keluar lapangan, tanggung jawab tersebut jatuh kepada bek tengah Miroslav Djukic dan ia gagal mengeksekusi pinalti, memungkinkan Barcelona mengamankan gelar LaLiga empat kali beruntun dengan cara paling dramatis.
Tahun 1992 juga menjadi saat di mana tim Barca asuhan Cruyff mendapatkan julukan 'Dream Team' dengan memenangkan gelar Eropa perdana yang sudah lama dinantikan, berkat gol tendangan bebas legendaris yang dieksekusi Koeman pada babak perpanjangan waktu dan mengalahkan Sampdoria pada final di Wembley serta menghilangkan memori buruk kekalahan mereka dari Steaua Bucharest di Seville enam tahun sebelumya.
Periode empat musim berturut-turut menjadi yang paling sukses dalam sejarah Baręa dalam hal trofi yang dimenangkan, serta paling berpengaruh dalam hal filosofi serta gaya bermain. Ide Cruyff yang dipengaruhi Ajax ditanamkan di tim Ibukota Catalonia tersebut, dengan filosofi gaya sepak bola penuh operan istimewa dan membentuk mentalitas juara yang sesungguhnya dalam klub.
Warisan Johan Cruyff

Setelah pensiun melatih pada tahun 1996, Cruyff tetap berada di Camp Nou, dan terkadang memberi saran kepada para direktur dan pelatih dalam keputusan penting.
Setiap pelatih pemenang Liga Champions - Frank Rijkaard, Pep Guardiola, dan Luis Enrique - memiliki hubungan langsung serta bermakna dengan legenda Belanda tersebut. "Cruyff membangun sebuah katedral di sini, di Stadion Camp Nou,” ujar Guardiola.
"Kami hanya perlu menjaganya," kata pria yang kini melatih Bayern Munchen.
Dunia sepak bola dunia berkabung pada tanggal 24 Maret 2016 ketika Cruyff meninggal pada usia 68 setelah berjuang menghadapi kanker. Namanya masih diingat dengan hormat di BarceloBarcelona dan di LaLiga sampai hari ini.
Sumber: LaLiga
Baca Ini Juga:
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Prediksi Susunan Pemain Brentford vs Chelsea: Welbeck Berpeluang Jadi Starter
Liga Inggris 18 September 2026, 15:02
-
Jadwal Lengkap La Liga 2026/2027
Liga Spanyol 18 September 2026, 14:51
-
Prediksi Sevilla vs Barcelona 20 September 2026
Liga Spanyol 18 September 2026, 13:13
-
Link Streaming Man City vs Norwich di Carabao Cup, 18 September 2026
Liga Inggris 17 September 2026, 23:49
LATEST UPDATE
-
Prediksi BRI Super League: Bhayangkara FC vs Isenmulang 19 September 2026
Bola Indonesia 18 September 2026, 21:14
-
Hasil Madura United vs PSIM: Laskar Sape Kerrab Comeback dan Menang 2-1
Bola Indonesia 18 September 2026, 21:02
-
Wajah Baru Timnas Belanda di Era Xavi Hernandez, Memphis Depay Tidak Dipanggil
Piala Eropa 18 September 2026, 20:34
-
Cristiano Ronaldo Kembali Dipanggil Portugal untuk Nations League
Piala Eropa 18 September 2026, 20:26
-
Daftar Pemain Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Jay Idzes Absen
Tim Nasional 18 September 2026, 20:18
-
Link Live Streaming Opening Ceremony Asian Games 2026 di Vidio
Olahraga Lain-Lain 18 September 2026, 19:42
-
Hasil Voli Putri Asian Games 2026: Indonesia Tunduk dari Jepang, Lolos sebagai Runner-up
Voli 18 September 2026, 19:33
-
Cole Palmer Bangkit di Bawah Xabi Alonso, Kini Kembali ke Timnas Inggris
Liga Inggris 18 September 2026, 19:07
-
Prediksi BRI Super League: Persija vs Java United 19 September 2026
Bola Indonesia 18 September 2026, 18:48
-
Timnas Spanyol Umumkan Skuad Nations League, Josep Martinez dan Dean Huijsen Kembali
Piala Eropa 18 September 2026, 18:45
-
Hasil BRI Super League: Persik Tahan Imbang Arema FC di Kanjuruhan
Bola Indonesia 18 September 2026, 17:35
-
Skuad Timnas Inggris untuk Nations League: Cole Palmer dan Trent Alexander-Arnold Kembali
Piala Dunia 18 September 2026, 17:23
-
Xabi Alonso Yakin Cole Palmer Masih Bisa Tampil Lebih Baik
Liga Inggris 18 September 2026, 17:22
-
Todd Boehly Lepas Saham Chelsea, Begini Reaksi Xabi Alonso
Liga Inggris 18 September 2026, 16:47
-
Jadwal Liga Inggris di SCTV Pekan Ini, 19-20 September 2026
Liga Inggris 18 September 2026, 16:33
LATEST EDITORIAL
-
Bukan Cuma Ronaldo, 3 Pemain Ini Juga Pernah Membela Real Madrid dan Inter Milan
Editorial 8 September 2026, 20:58
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33

