Kontroversi VAR PSG vs Bayern Munchen, Penalti Gaib Rugikan Die Roten?

Kontroversi VAR PSG vs Bayern Munchen, Penalti Gaib Rugikan Die Roten?
Wasit Sandro Scharer menunjuk titik penalti di laga PSG vs Bayern Munchen pada leg pertama semifinal Liga Champions. (c) AP Photo/Christophe Ena

Bola.net - Kontroversi VAR dalam laga PSG melawan Bayern Munchen di leg pertama semifinal Liga Champions, Rabu (29/4/2026) dini hari menjadi bahan perdebatan. Keputusan wasit memberikan penalti kepada tuan rumah menjelang akhir babak pertama memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Banyak yang menilai keputusan tersebut merugikan tim tamu secara signifikan.

Insiden bermula saat Ousmane Dembele melepaskan umpan silang mendatar ke dalam kotak penalti. Bola yang dikirimnya kemudian mengenai lengan Alphonso Davies secara tidak sengaja.

Awalnya, wasit utama Sandro Scharer tidak menganggap kejadian itu sebagai pelanggaran. Ia membiarkan permainan berlanjut tanpa menunjuk titik putih. Namun, komunikasi dari ruang VAR akhirnya mengubah arah keputusan tersebut.

Petugas VAR, Carlos del Cerro Grande, meminta Scharer untuk meninjau ulang insiden melalui monitor. Setelah melihat tayangan ulang, wasit pun mengubah keputusannya dan memberikan penalti kepada PSG.

Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.

Alasan VAR Berikan Penalti

Alasan VAR Berikan Penalti

Selebrasi winger PSG, Ousmane Dembele usai mencetak gol ketiga timnya melawan Bayern Munchen di leg pertama semifinal Liga Champions, 29 April 2026. (c) AP Photo/Aurelien Morissard

Proses pengambilan keputusan ini melalui analisis yang cukup detail. VAR menilai lengan kiri Davies bergerak menjauh dari posisi alami tubuhnya.

Gerakan tersebut dianggap memperbesar bidang tubuh secara tidak wajar. Padahal, bola sempat mengenai bagian tubuh Davies lebih dulu sebelum menyentuh lengannya. Pantulan itu membuat arah bola berubah cepat dalam jarak yang sangat dekat.

Meski ada pantulan awal, wasit dan VAR tetap sepakat bahwa pelanggaran handball terjadi. Posisi tangan yang dinilai tidak natural menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.

Keputusan ini langsung memicu berbagai analisis dari para pakar. Mantan wasit Premier League, Andy Davies, turut memberikan pandangannya berdasarkan aturan yang berlaku saat ini.

"Keputusan ini akan dipandang sebagai hukuman yang sangat memberatkan bagi Bayern Munchen mengingat pendeknya jarak tembak bola dan pantulannya menuju lengan pemain," ujar mantan wasit Premier League, Andy Davies.

"Saya memiliki simpati yang sangat besar untuk mereka dalam insiden kontroversial kali ini," tambahnya.

Pertandingan Selanjutnya
Ligue 1 Ligue 1 | 2 Mei 2026
PSG PSG
22:00 WIB
Lorient Lorient

Keputusan yang Dinilai Sangat Merugikan

Keputusan yang Dinilai Sangat Merugikan

Selebrasi Ousmane Dembele dalam laga PSG vs Bayern Munchen di leg pertama semifinal Liga Champions 2025/2026, Rabu (29/4/2026). (c) AP Photo/Aurelien Morissard

Banyak pihak menilai penalti tersebut sebagai keputusan yang terlalu keras. Jarak bola yang sangat dekat membuat pemain bertahan hampir tidak memiliki waktu untuk bereaksi.

Arah bola juga berubah secara tiba-tiba setelah mengenai bagian tubuh Davies. Situasi ini membuatnya berada dalam posisi yang sulit untuk menghindari kontak dengan bola. Tak heran jika simpati mengalir kepada Bayern Munchen.

Di sisi lain, aturan handball saat ini memang masih membuka ruang interpretasi. Hal ini terutama berlaku ketika bola lebih dulu memantul sebelum mengenai tangan pemain.

Wasit biasanya harus mempertimbangkan posisi tangan dalam kaitannya dengan gerakan tubuh. Dalam kasus seperti ini, perubahan arah bola seharusnya menjadi faktor penting dalam penilaian. Namun, hal tersebut tidak cukup untuk mengubah keputusan di lapangan.

"Perasaan saya adalah UEFA tidak akan terlalu senang dengan pemberian penalti ini, terlepas dari batas rendah yang diterapkan untuk pelanggaran tangan di kompetisi mereka," kata Andy Davies.

Beda Standar UEFA dan Liga Inggris

Sentuhan bola pada bagian tubuh lain sebelum mengenai tangan tidak selalu menghapus kemungkinan pelanggaran. Dalam insiden ini, pergerakan lengan Davies tetap dianggap melanggar aturan.

Situasi seperti ini diyakini tidak sepenuhnya sejalan dengan pendekatan UEFA. Organisasi tersebut biasanya lebih berhati-hati dalam memberikan penalti untuk kasus serupa.

Menariknya, kejadian seperti ini kemungkinan besar tidak akan menghasilkan penalti di Premier League. Kompetisi Inggris cenderung lebih toleran terhadap situasi pantulan jarak dekat.

"Patut dicatat bahwa ini adalah situasi yang tidak akan berbuah penalti jika terjadi di Premier League," tegas Andy Davies.

"Dan pada akhirnya kejadian tersebut menjadi sebuah momen kunci dalam menentukan hasil akhir laga ini," tutupnya.

Kritik Tajam untuk VAR

Pakar wasit dari media The Athletic yakni Graham Scott turut memberikan analisis tajamnya. Mantan pengadil lapangan ini menilai sang wasit pertandingan telah melakukan kesalahan fatal.

Scott membandingkan standar ketat wasit Inggris dengan ofisial video yang memimpin laga. Gambar diam dari tayangan ulang diduga kuat menjadi biang kerok utama kesalahan interpretasi tersebut. Pendekatan ofisial La Liga ini dianggap sangat merugikan posisi tim tamu.

"Tidak ada pelanggaran handball di sini karena bola ditendang dari jarak dekat, posisi lengan Davies menempel di sisi tubuh, pergerakannya bisa dibenarkan, dan tidak ada bukti tindakan disengaja," tegas Graham Scott.

"Insiden ini pasti ditolak oleh VAR Premier League pada tayangan ulang pertama, tetapi ofisial Spanyol beroperasi dengan interpretasi berbeda layaknya di La Liga. Mereka kemungkinan besar terbujuk oleh gambar statis yang seolah menunjukkan Davies merentangkan lengannya, dan itu keputusan yang sangat buruk," paparnya tajam.

Keputusan kontroversial ini akhirnya menjadi titik penting dalam jalannya pertandingan. Bayern Munchen harus menerima konsekuensi dari interpretasi aturan tersebut. Sementara itu, PSG memanfaatkan peluang dari titik putih dengan baik untuk mengubah jalannya laga.