Para Wakil Italia Melempem di Liga Champions, Alarm Bahaya untuk Serie A Sudah Berbunyi?

Para Wakil Italia Melempem di Liga Champions, Alarm Bahaya untuk Serie A Sudah Berbunyi?
Pemain Inter Milan Marcus Thuram bereaksi saat laga Liga Champions antara Inter vs Bodo/Glimt di Milan, Italia, Selasa, 24 Februari 2026 (c) Spada/LaPresse via AP

Bola.net - Musim ini menjadi panggung pahit bagi wakil Italia di Liga Champions. Satu per satu, mereka tersandung saat publik berharap Serie A kembali menunjukkan taringnya di Eropa.

Kegagalan demi kegagalan itu bukan sekadar hasil buruk biasa. Ada pola yang mulai mengkhawatirkan dan memunculkan pertanyaan tentang daya saing klub-klub Italia.

Ironisnya, tim-tim yang tampil melempem justru berstatus unggulan di kompetisi domestik. Dari juara bertahan hingga pemuncak klasemen, semuanya tak mampu berbicara banyak.

Apakah ini hanya anomali satu musim atau pertanda kualitas Serie A memang sedang menurun. Fakta-fakta di bawah ini memberi gambaran yang sulit diabaikan.

Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.

Napoli Tersingkir Cepat, Status Juara Tak Berarti di Eropa

Napoli Tersingkir Cepat, Status Juara Tak Berarti di Eropa

Pemain Chelsea Pedro Neto berebut bola dengan pemain Napoli Mathias Olivera pada laga fase liga Liga Champions antara Napoli vs Chelsea di Naples, Italia, Rabu, 28 Januari 2026 (c) AP Photo/Gregorio Borgia

Juara Scudetto musim lalu, Napoli, datang ke Liga Champions dengan ekspektasi tinggi. Namun perjalanan mereka justru terhenti lebih cepat dari yang diprediksi banyak pihak.

Napoli gagal melewati fase penyisihan grup setelah tampil inkonsisten sepanjang fase tersebut. Lini pertahanan yang rapuh dan efektivitas serangan yang menurun menjadi masalah utama.

Kegagalan ini terasa kontras mengingat dominasi mereka di Serie A musim lalu. Status juara domestik ternyata tak cukup untuk menjamin ketangguhan di level Eropa.

Tersingkirnya Napoli di fase awal mempertegas bahwa jarak antara kompetisi domestik dan Liga Champions masih terasa lebar. Hal ini memunculkan pertanyaan serius terkait berbagai aspek khususnya di atas lapangan.

Pertandingan Selanjutnya
Serie A Serie A | 1 Maret 2026
Inter Milan Inter Milan
02:45 WIB
Genoa Genoa
UEFA Champions League UEFA Champions League | 26 Februari 2026
Juventus Juventus
03:00 WIB
Galatasaray Galatasaray

Inter Milan Didominasi Bodo/Glimt, Tanda Bahaya yang Nyata

Inter Milan Didominasi Bodo/Glimt, Tanda Bahaya yang Nyata

Pemain Bodo/Glimt Hakon Evjen merayakan gol pada laga play-off Liga Champions antara Inter vs Bodo/Glimt di San Siro, Milan, Italia, Selasa, 24 Februari 2026 (c) AP Photo/Luca Bruno

Situasi tak kalah memprihatinkan dialami Inter Milan. Pemuncak klasemen sementara Serie A itu justru terlihat kewalahan saat menghadapi Bodo/Glimt.

Dalam dua leg, Inter gagal menunjukkan nama besarnya. Di leg pertama di Norwegia mereka dibekuk 3-1 dan di leg kedua di Italia mereka dijegal dengan skor 1-2.

Dominasi Bodo/Glimt atas Inter menjadi sorotan besar karena perbedaan reputasi dan pengalaman Eropa kedua tim. Secara historis dan finansial, Inter jelas lebih unggul.

Fakta bahwa pemimpin klasemen Serie A bisa didikte oleh klub Norwegia memperlihatkan adanya celah kualitas. Ini bukan sekadar kekalahan, melainkan gambaran betapa kerasnya persaingan Eropa bagi wakil Italia musim ini.

Atalanta dan Juventus Terpuruk di Playoff

Atalanta dan Juventus Terpuruk di Playoff

Pemain Galatasaray Sacha Boey (kanan) mencetak gol pada laga leg pertama play-off Liga Champions antara Galatasaray vs Juventus di Istanbul, Turki, Selasa, 17 Februari 2026 (c) AP Photo/Khalil Hamra

Dua wakil lain, Atalanta dan Juventus, juga tak mampu menjaga reputasi Serie A. Keduanya kalah di leg pertama playoff dengan selisih dua gol atau lebih.

Juventus dibekuk Galatasaray dengan skor 2-5 sementara Atalanta dikalahkan Borussia Dortmund 0-2. Hasil tersebut membuat posisi mereka berada di ambang eliminasi.

Atalanta yang dikenal agresif justru tumpul di lini depan dan rapuh saat transisi bertahan. Sementara Juventus kembali menunjukkan inkonsistensi yang menjadi masalah mereka dalam beberapa musim terakhir.

Kekalahan dengan margin besar di fase krusial memperlihatkan bahwa wakil Italia belum cukup kompetitif. Situasi ini semakin mempertegas kesenjangan performa antara Serie A dan level tertinggi Eropa musim ini.

15 Tahun Tanpa Trofi, Rekam Jejak yang Sulit Dibantah

15 Tahun Tanpa Trofi, Rekam Jejak yang Sulit Dibantah

Trofi Liga Champions diletakkan di atas dudukan sebelum final antara PSG dan Inter Milan di Allianz Arena, Munich, Jerman, Sabtu, 31 Mei 2025 (c) AP Photo/Matthias Schrader

Catatan paling mencolok adalah fakta bahwa klub Italia belum lagi menjuarai Liga Champions sejak musim 2009-10. Saat itu, Inter Milan menjadi yang terakhir mengangkat trofi.

Sudah lebih dari satu dekade berlalu tanpa wakil Serie A berdiri di puncak Eropa. Inter memang sempat mencapai final (2022/23 & 2024/25), plus Juventus (2014/15 & 2016/17), tetapi selalu gagal menyelesaikan misi.

Dalam periode yang sama, klub-klub dari Inggris dan Spanyol jauh lebih konsisten meraih gelar. Dominasi mereka memperlihatkan stabilitas finansial dan kedalaman skuad yang sulit disaingi.

Rangkaian kegagalan musim ini seakan memperpanjang tren negatif tersebut. Pertanyaannya kini bukan hanya soal hasil, tetapi apakah Serie A benar-benar sedang kehilangan daya saingnya di panggung terbesar Eropa.