Satu Dekade Pep Guardiola di Man City: Dominan di Inggris, Tumpul di Liga Champions

Satu Dekade Pep Guardiola di Man City: Dominan di Inggris, Tumpul di Liga Champions
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola di laga melawan Real Madrid pada duel 16 besar Liga Champions, 18 Maret 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson

Bola.net - Manchester City kembali tersingkir dari Liga Champions setelah kalah dari Real Madrid. Kekalahan ini menambah catatan panjang kegagalan mereka di kompetisi elite Eropa.

Pada laga tersebut, Real Madrid menang 2-1 dan memastikan agregat 5-1. Hasil ini memperlihatkan perbedaan kualitas dalam hal pengalaman dan mentalitas di Liga Champions.

Pep Guardiola tentu akan menyoroti kartu merah Bernardo Silva sebagai titik balik. Penalti dari Vinicius Junior setelah insiden tersebut membuat situasi semakin sulit bagi City.

Namun jika dilihat lebih luas, kegagalan ini bukan sekadar soal satu pertandingan. Ini menjadi bagian dari pola panjang yang mengiringi perjalanan Guardiola di kompetisi Eropa bersama City.

Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru seputar Liga Champions, kamu bisa join di Channel WA Bola.net dengan KLIK DI SINI.

Kekalahan dari Real Madrid Kembali Terulang

Kekalahan dari Real Madrid Kembali Terulang

Aksi Federico Valverde (kanan) di laga Man City vs Real Madrid di Liga Champions, Rabu (18/03/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Manchester City datang ke laga ini dengan beban berat setelah kalah 0-3 di leg pertama. Mereka membutuhkan penampilan sempurna untuk membalikkan keadaan.

Situasi semakin buruk ketika Bernardo Silva menerima kartu merah pada menit ke-20. Pelanggaran di garis gawang berujung penalti yang dimanfaatkan dengan baik oleh Vinicius Junior.

Meski bermain dengan 10 orang, City sempat memberikan perlawanan. Erling Haaland mencetak gol penyeimbang sebelum turun minum.

Namun Real Madrid kembali menunjukkan kualitas mereka. Gol kemenangan di masa injury time menegaskan keunggulan mental dan pengalaman mereka di Eropa.

Pertandingan Selanjutnya
Premier League Premier League | 12 April 2026
Chelsea Chelsea
22:30 WIB
Man City Man City

Investasi Besar, Hasil Minim di Eropa

Investasi Besar, Hasil Minim di Eropa

Momen Rayan Ait-Nouri mencetak gol tapi batal karena offside di laga Man City vs Real Madrid, Rabu (18/3/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Sejak datang pada 2016, Guardiola memiliki satu target utama. Ia diharapkan membawa Manchester City menjadi raja Eropa.

Untuk mencapai tujuan itu, klub mengeluarkan dana lebih dari 1 miliar pound atau sekitar Rp20 triliun. Investasi besar ini digunakan untuk membangun skuad bertabur bintang.

Guardiola mendapatkan hampir semua pemain yang diinginkannya. Dari lini belakang hingga penyerang kelas dunia seperti Erling Haaland, semuanya tersedia.

Namun hasilnya belum sebanding dengan investasi tersebut. City hanya mampu meraih satu gelar Liga Champions selama era Guardiola.

Satu Trofi di Tengah Rangkaian Kegagalan

Satu Trofi di Tengah Rangkaian Kegagalan

Winger Manchester City Jeremy Doku diapit dua pemain Real Madrid di Liga Champions, Rabu (18/3/2026). (c) AP Photo/Dave Thompson

Satu-satunya gelar Liga Champions City diraih pada 2023. Mereka mengalahkan Inter Milan di final yang berlangsung di Istanbul.

Kemenangan tersebut sempat dianggap sebagai awal dominasi baru di Eropa. Namun kenyataannya, itu menjadi satu-satunya pencapaian besar mereka sejauh ini.

Selebihnya, City justru sering tersingkir di fase gugur. Kekalahan demi kekalahan membentuk pola yang sulit diabaikan.

Hal ini membuat pencapaian tersebut terlihat seperti pengecualian. Bukan bagian dari konsistensi yang diharapkan dari tim sekelas City.

Dominasi Domestik Tak Berbanding Lurus

Dominasi Domestik Tak Berbanding Lurus

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola. (c) AP Photo/Dave Thompson

Di level domestik, Guardiola sangat sukses bersama Manchester City. Ia mengubah Premier League menjadi ajang yang sering mereka kuasai.

Gaya bermainnya juga membawa pengaruh besar bagi sepak bola Inggris. Banyak tim mulai meniru pendekatan taktik yang ia terapkan.

Namun Liga Champions menjadi ujian yang berbeda. Kompetisi ini menuntut konsistensi, mentalitas, dan keputusan taktis yang tepat di momen krusial.

Beberapa kegagalan sebelumnya menunjukkan masalah serupa. Dari kekalahan melawan Monaco, Lyon, hingga Real Madrid, City kerap gagal di saat penting.

Real Madrid dan Mental Juara Eropa

Real Madrid dan Mental Juara Eropa

Bernardo Silva dan Federico Valverde berebut bola dalam laga leg kedua babak 16 besar Liga Champions antara Manchester City vs Real Madrid di Etihad Stadium, 18 Maret 2026 (c) AP Photo/Dave Thompson

Real Madrid kembali menjadi momok bagi Manchester City. Ini adalah kali ketiga secara beruntun mereka menyingkirkan tim asuhan Guardiola.

Klub asal Spanyol tersebut memiliki sejarah panjang di Liga Champions. Mereka dikenal sebagai tim dengan mental juara yang kuat.

Ketika melihat celah, Real Madrid mampu memanfaatkannya dengan maksimal. Hal itu terlihat jelas setelah kartu merah Bernardo Silva.

Keunggulan ini tidak bisa dibeli hanya dengan uang. Pengalaman dan tradisi menjadi faktor pembeda yang masih dimiliki Real Madrid.

Klasemen Liga Champions 2025/2026