FOLLOW US:


EDITORIAL: Guardiola Tak Sadar Apa Yang Menghampirinya

30-04-2014 09:31

 | Josep Guardiola

EDITORIAL: Guardiola Tak Sadar Apa Yang Menghampirinya
Josep Guardiola © Bola.net

Bola.net - Oleh: Gia Yuda Pradana

Apa sebenarnya yang ada di benak Josep Guardiola? Itulah sekelumit pertanyaan yang menyeruak ketika menyaksikan laga Bayern Munich kontra Real Madrid di semifinal Liga Champions 2013/14 leg kedua.

Pelatih Bayern tersebut seolah tak sadar apa yang sedang menghampirinya dan itu membuat The Bavarians dipaksa membayar mahal oleh El Real yang bermain sempurna. Sang juara bertahan kalah empat gol tanpa balas di hadapan para pendukungnya sendiri lewat brace Sergio Ramos serta Cristiano Ronaldo dan tersingkir dengan agregat 0-5, Rabu (30/4).

Pada leg pertama di Santiago Bernabeu seminggu sebelumnya, dengan skema 4-2-3-1 dan possession football yang menjadi ciri khas sejak masih menangani Barcelona, Guardiola melihat Bayern besutannya takluk 0-1 oleh gol tunggal Karim Benzema.


Ganti menjamu sang pemburu La Decima di Allianz Arena, Guardiola kembali menyajikan skema dan metode permainan yang sama. Sementara itu, melihat susunan starting line-up Madrid, bisa ditebak bahwa Carlo Ancelotti menginstruksikan pasukannya untuk tampil menyerang alih-alih bermain ultra-defensif demi mempertahankan keunggulan yang mereka bawa dari Spanyol.

Meski ada sedikit perubahan dengan dikembalikannya kapten Philipp Lahm ke posisi aslinya sebagai bek kanan, permainan Bayern tak jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya, termasuk seperti ketika takluk di tanah Espana.


Bayern unggul penguasaan bola maupun jumlah tembakan, tapi Madrid lebih pandai memanfaatkan peluang. Kali ini, Madrid bahkan jauh lebih mematikan.

Ancelotti sepertinya paham sejak sebelum laga bahwa Bayern akan tetap setia mengusung possession football, atau sebut saja tiki-taka ala Guardiola, yang sudah mereka terapkan sejak berakhirnya era Jupp Heynckes. Ancelotti pun sedikit memodifikasi formasinya.

Dia memilih skema klasik 4-4-2, yang kalau didukung dengan komposisi pemain yang tepat, timnya bisa menampilkan permainan yang seimbang dalam bertahan maupun menyerang. Xabi Alonso serta Luka Modric jadi jangkar di lini tengah. Mereka menjalankan tugasnya dengan baik ketika masuk mode defensif maupun saat menguasai bola untuk menginiasiasi counter attack, salah satu senjata andalan Madrid untuk menaklukkan lawan-lawannya, tanpa bisa dicegah oleh Bastian Schweinsteiger dan rekan-rekannya di lapangan tengah.

Empat bek Madrid, terutama Pepe dan Ramos di poros pertahanan, juga menjadi kunci untuk meredam alur serangan Bayern dengan sederet tackle serta interception (masing-masing 11) yang mereka lancarkan. Hasilnya, Bayern pun 'cuma' menghasilkan 19 shots sepanjang laga. Dengan kedisiplinan yang diperagakan Madrid dalam bertahan, The Bavarians sulit masuk ke dalam kotak penalti dan bahkan hanya bisa mencatatkan empat tembakan ke arah gawang. Namun, ancaman-ancaman Franck Ribery, David Alaba, Toni Kroos dan Thomas Muller semuanya mentah di tangan Iker Casillas.

Madrid tahu cara memenangi laga ini, yaitu dengan mencetak gol terlebih dahulu. Itulah yang terjadi.

Berawal dari corner Modric, para pemain Bayern terlihat terlalu berkonsentrasi menjaga Ronaldo dan membiarkan Ramos cukup bebas untuk menyundul masuk gol pertama timnya di menit 16. Di sinilah awal bencana Bayern.

Terpukul oleh gol itu, yang berarti mereka harus mencetak tiga untuk lolos ke final, Bayern sedikit kehilangan ketenangan. Hanya empat menit berselang, diawali pelanggaran Toni Kroos terhadap Gareth Bale, Bayern kembali kebobolan dengan cara yang sama, yaitu set-piece. Sebuah headed pass dari Pepe dikonversi Ramos, yang lagi-lagi nyaris tak terjaga, menjadi gol kedua Madrid.

Berjarak 14 menit dari gol kedua, counter attack Madrid beraksi. Lewat sebuah fast break, Bale melepas through ball matang yang dituntaskan oleh Ronaldo tanpa kesalahan. Skor 3-0 untuk Madrid bertahan hingga jeda. Suasana di kamar ganti Bayern saat istirahat pasti diliputi nuansa suram. Pertanyaan para penggawa Bayern mungkin sama: Bagaimana keluar dari situasi seperti ini? Sampai di sini sajakah perjalanan kita?

Guardiola perlu sebuah perubahan signifikan di babak kedua. Mereka butuh lima gol. Jadi, serangan harus ditingkatkan. Perkiraan banyak orang, Guardiola bakal menambah penyerang. Ternyata, mereka salah. Guardiola justru menarik Mario Mandzukic dan memasukkan seorang gelandang dalam diri Javi Martinez. Apa sebenarnya yang dia rencanakan?

Hampir setengah jam setelah restart, tak ada perkembangan berarti. Bayern tetap kesulitan memaksa Casillas berkeringat. Masuknya Mario Gotze untuk Ribery dan Claudio Pizarro untuk Muller pun sepertinya kurang cepat. Pasalnya, mesin para pengawal pertahanan Madrid sudah terlanjur panas dan mereka juga telah menemukan ritmenya.

Ancelotti lebih paham situasi. Dia tahu Ramos akan absen di final kalau mendapatkan kartu kuning di laga ini, seperti yang sudah terjadi pada Alonso di penghujung babak pertama. Ancelotti lantas menarik Ramos dan memasukkan bek lain yang lebih segar, Raphael Varane. Setelah itu, dia mengganti Benzema dengan Isco dan Casemiro ditugasi mengisi pos Angel Di Maria serta meninggalkan Ronaldo sendirian di depan sebagai target-man untuk counter timnya.

Di menit 89, ketika Bayern sudah kehilangan harapan, Ronaldo menambah derita mereka dengan eksekusi free kick yang memaksa Manuel Neuer memungut bola dari gawang untuk kali keempat. Ronaldo pun mendapatkan golnya yang ke-16 dan tercatat sebagai pemain dengan torehan gol terbanyak dalam satu musim Liga Champions melewati rekor sebelumnya milik ace barcelona Lionel Messi (14 gol).

Di titik ini, Bayern benar-benar game over. Untuk kali pertama sepanjang sejarah, Bayern kalah di kandang sendiri di kompetisi Eropa dengan empat gol mengoyak gawang mereka. Bagi Madrid, ini merupakan kemenangan perdana di kandang The Bavarians dan meloloskan mereka ke final di Lisbon, final Liga Champions pertama El Real dalam 12 tahun terakhir. Mereka tinggal selangkah lagi meraih gelar kesepuluh di kompetisi elit ini.



Bagi Bayern, ini sungguh ironis. Musim lalu, diarsiteki Heynckes, Bayern mencabik-cabik sang master tiki-taka Barcelona asuhan almarhum Tito Vilanova, mantan asisten Guardiola, dengan agregat telak 7-0 di fase yang sama menggunakan strategi set-piece, keunggulan fisik dan counter kilat nan mematikan, persis seperti yang diperagakan Madrid untuk memukul mereka dalam laga ini.

Hal itu mungkin takkan terjadi jika Guardiola lebih cermat membaca situasi dan memiliki berlapis rencana cadangan di sakunya.

Menambah gelandang justru saat ketinggalan 0-3 jelas jadi pertanyaan besar. Para substitute yang dipilihnya juga tidak memberi dampak signifikan. Tiga kali kebobolan lewat set-piece dan sekali melalui serangan balik, sedangkan Bayern sendiri gagal merusak skema Madrid yang berubah-ubah dengan fleksibel sesuai kondisi sepanjang laga, merupakan bukti bahwa Guardiola sudah terperangkap dalam jerat strategi Ancelotti yang diaplikasikan secara sempurna oleh Casillas dan kawan-kawan di atas lapangan.

Andai Guardiola mau bermain sedikit lebih direct atau paling tidak mencoba berbagai variasi demi menemukan celah di lini belakang Madrid, kisahnya mungkin berbeda. Kalah pun, mungkin tidak sampai setelak ini. Namun, itu tak pernah terjadi. Dia mengulangi kesalahan seperti di leg pertama, tapi yang ini jauh lebih fatal.

Guardiola seolah tak sadar apa yang sedang menghampirinya. Saat dia sadar, semua sudah terlambat. (bola/gia)