FOLLOW US:


Inter Milan dan Kemenangan Besar Yang Menjadi Awal Petaka

05-02-2018 12:00
Inter Milan dan Kemenangan Besar Yang Menjadi Awal Petaka
Kemenangan besar jadi pertanda buruk bagi Inter Milan © ist

Bola.net - Kemenangan besar seharusnya menjadi sebuah awal dari sesuatu yang menyenangkan. Namun tidak demikian halnya jika bicara tentang Inter Milan.

Setidaknya itulah yang terjadi musim ini, juga musim sebelumnya.

Pada satu titik, ketika Inter meraih kemenangan telak dengan margin lima gol atau lebih, mereka lantas kesulitan mencetak gol dan berulang kali gagal menang. Yang terjadi kemudian adalah sebuah petaka, sebuah puasa kemenangan yang cukup panjang.


Inter menjamu tim papan bawah Crotone pada giornata 23 Serie A 2017/18, Minggu (04/2). Di atas kertas, Inter harusnya menang. Namun pasukan Luciano Spalletti dipaksa bermain imbang 1-1 dan harus puas dengan satu angka.

Kehilangan Mauro Icardi yang mengalami masalah otot, Spalletti memasang Eder sebagai ujung tombak. Itu adalah pertama kalinya di Serie A musin ini Eder bermain dari menit awal. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut dan memecah kebuntuan dengan sundulan memanfaatkan corner Marcelo Brozovic pada menit 23.

Namun Crotone tidak menyerah. Tim yang diasuh eks Inter Walter Zenga itu mendapatkan gol penyama kedudukan lewat Andrea Barberis di menit 60, dan Inter pun goyah.

Kepercayaan diri Inter perlahan namun pasti mulai memudar. Di menit-menit akhir, beberapa pemainnya bahkan tampak sudah kehilangan semangat juang. Spalletti berusaha sebisa mungkin memompa motivasi dari pinggir lapangan, tapi sia-sia. Hingga peluit panjang, skor 1-1 tak berubah. Inter lagi-lagi gagal menang.

Lagi-lagi? Ya, dengan hasil tersebut, berarti Inter sudah melalui delapan laga beruntun di Serie A tanpa satupun kemenangan. Catatannya adalah enam kali imbang dan dua kali kalah.

Delapan laga beruntun tanpa kemenangan adalah winless streak terpanjang dalam sejarah Inter di Serie A. Dengan musim ini, Inter sudah lima kali mengalaminya.

Yang terakhir sebelum ini adalah pada Mei 2017, musim 2016/17.


Dua puasa kemenangan Inter itu punya satu kesamaan. Keduanya sama-sama diawali dengan sebuah kemenangan besar.


Serie A 2016/17, giornata 28, Inter menjamu Atalanta. Inter yang waktu itu dilatih Stefano Pioli menang telak 7-1 lewat hat-trick Icardi dan Ever Banega, serta satu gol Roberto Gagliardini.

Kepercayaan diri Inter jelas melambung ke titik optimal. Namun yang terjadi kemudian justru sebuah antiklimaks. Dalam delapan laga beruntun setelah itu, Inter selalu gagal menang.

Inter imbang di kandang Torino, kalah lawan Sampdoria dan Crotone, lalu imbang dalam derby kontra AC Milan. Inter lalu dikalahkan Fiorentina, Napoli dan Genoa. Kekalahan lawan Genoa bahkan membuat Pioli kehilangan pekerjaan.


Pioli, yang diangkat pada November 2016 menggantikan Frank de Boer, menjadi pelatih kedua yang dipecat Inter musim itu. Pioli dipecat ketika Serie A hanya menyisakan tiga giornata. Posisinya kemudian digantikan caretaker Stefano Vecchi.

Laga pertama Inter bersama Vecchi adalah menjamu Sassuolo di giornata 36 pada 14 Mei 2017. Inter kalah 1-2. Pada titik itu, Inter sudah beberapa pekan berturut-turut berada di luar zona Eropa.

Vecchi akhirnya bisa mengeluarkan Inter dari periode negatif tersebut. Pada dua giornata pemungkas, Inter menang 3-1 di kandang Lazio serta 5-2 saat menjamu Udinese, dan finis peringkat tujuh dengan selisih satu poin di bawah Milan.

Inter Milan di Serie A 2016/17
Giornata 28: Inter 7-1 Atalanta
Giornata 29: Torino 2-2 Inter
Giornata 30: Inter 1-2 Sampdoria
Giornata 31: Crotone 2-1 Inter
Giornata 32: Inter 2-2 Milan
Giornata 33: Fiorentina 5-4 Inter
Giornata 34: Inter 0-1 Napoli
Giornata 35: Genoa 1-0 Inter
Giornata 36: Inter 1-2 Sassuolo
Giornata 37: Lazio 1-3 Inter
Giornata 38: Inter 5-2 Udinese.

Kisah serupa kembali dialami Inter pada musim 2017/18 ini. Dari segi produktivitas gol, yang ini lebih parah.

Yang satu ini pun datangnya jauh lebih awal.

Yang ini diawali dengan kemenangan telak lima gol tanpa balas ketika menjamu Chievo pada giornata 15. Kemenangan yang didapatkan lewat hat-trick Ivan Perisic serta masing-masing satu gol dari Icardi dan Milan Skriniar tersebut membawa Inter ke pucuk klasemen sementara, menggeser Napoli yang dikalahkan Juventus 0-1 di San Paolo.


Moral Inter terangkat. Namun Inter mungkin tak mengira kalau kemenangan besar atas Chievo bakal menjadi awal dari puasa panjang mereka, sama seperti musim sebelumnya.

Setelah itu, Inter bermain imbang tanpa gol melawan Juventus di Turin. Inter tetap memimpin klasemen karena pada saat yang sama Napoli cuma imbang 0-0 menjamu Fiorentina.

Berikutnya, Inter terjun bebas. Inter berturut-turut dikalahkan Udinese 1-3 di kandang sendiri dan Sassuolo 0-1 di Mapei Stadium. Inter terlempar ke posisi tiga, disalip Napoli dan Juventus.

Inter menutup tahun dengan hasil seri tanpa gol melawan Lazio di Meazza. Tahun berganti, awan gelap masih menyelubungi La Beneamata.

Empat laga beruntun mereka lalui dengan skor identik 1-1. Melawan Fiorentina di Artemio Franchi, juga melawan AS Roma, hasil tersebut mungkin bisa dibilang tak terlalu buruk.

Namun jika melawan tim papan bawah seperti SPAL dan Crotone mereka juga tak bisa menang, maka kemungkinan memang ada yang salah dengan Inter, terutama mentalnya.

Inter pada titik ini bahkan telah turun satu peringkat lagi ke posisi empat di bawah Napoli, Juventus dan Lazio.

Usai imbang lawan Crotone, dan melalui delapan laga beruntun tanpa satupun kemenangan, Spalletti berkata: "Begitu ada yang salah, kami kehilangan kepercayaan diri dan terlihat memiliki karakter lemah," kata Spalletti seperti dikutip Football Italia. "Kami kembali jadi tim yang memiliki rasa takut, padahal itu harusnya sudah lama berlalu."


Inter Milan di Serie A 2017/18
Giornata 15: Inter 5-0 Chievo
Giornata 16: Juventus 0-0 Inter
Giornata 17: Inter 1-3 Udinese
Giornata 18: Sassuolo 1-0 Inter
Giornata 19: Inter 0-0 Lazio
Giornata 20: Fiorentina 1-1 Inter
Giornata 21: Inter 1-1 Roma
Giornata 22: SPAL 1-1 Inter
Giornata 23: Inter 1-1 Crotone
Giornata 24: Inter vs Bologna.

Dibandingkan musim 2016/17, winless streak Inter yang musim ini lebih parah. Pasalnya, di tiap laga dalam delapan laga beruntun tersebut, Inter hanya mampu mencetak maksimal satu gol ke gawang lawan-lawannya.


Jika kita lihat lebih jauh ke belakang, Inter juga pernah berada di situasi yang hampir sama pada musim 2014/15. Waktu itu, 'pemicunya' adalah kemenangan 7-0 menjamu Sassuolo pada giornata 2.

Dalam 12 laga setelah itu, Inter hampir selalu cuma bisa mencetak maksimal satu gol di tiap laga. Selama periode itu, Inter memang sempat puasa kemenangan, tapi tidak sampai delapan laga seperti musim ini dan musim lalu. Menang pun hanya dengan skor tipis 1-0. Situasi berangsur membaik setelah pelatih Walter Mazzarri dipecat dan digantikan Roberto Mancini.

Mancini sendiri melatih Inter sampai 2016, sebelum digantikan de Boer hanya beberapa hari jelang bergulirnya musim kompetisi 2016/17.


Inter saat ini masih berada di empat besar hanya karena performa Roma sama-sama mengecewakannya. Namun Inter tak bisa terpuruk lebih lama. Pasalnya, Roma sudah mulai kembali ke jalur kemenangan.

Pada giornata 23, Roma menang 1-0 di kandang Verona lewat gol kilat Cengiz Under dan sekarang hanya terpaut satu poin di belakang Inter.


Berikutnya, Inter akan menjamu Bologna. Inter tak mau puasa kemenangan mereka bertambah panjang jadi sembilan.

Jika itu sampai terjadi, Inter sepertinya benar-benar akan terlempar dari empat besar. Itu bakal jadi sebuah petaka bagi Inter, yang sebelumnya sempat digadang-gadang sebagai salah satu kandidat juara untuk mengakhiri dominasi enam musim sang rival Juventus di Serie A. (bola/gia)