
Bola.net - Bola.net - Prancis menjadi mayoritas yang dijagokan editor Bola.net dalam gelaran Euro kali ini. Alasannya beragam, tetapi ada satu kesamaan, Prancis diunggulkan karena tuan rumah.
Apa yang terjadi ketika Prancis menjadi tuan rumah? Di tahun 1984, mereka sukses menjadi juara Euro ketika turnamen ini digelar di Prancis. Tuah tuan rumah kembali terulang di tahun 1998 saat Tim Ayam Jantan keluar sebagai juara dunia.
Setelah Prancis, Jerman kemudian diikuti Inggris yang menjadi kandidat kuat berikutnya pilihan editor Bola.net. Tak berlebihan rasanya kedua nama tim tadi muncul mengingat kualitas skuat yang mereka miliki. Jerman masih saja perkasa pasca menjadi juara dunia, sedangkan Inggris punya skuat merata di berbagai posisi, skuat yang dinilai lebih baik dibandingkan Piala Dunia lalu.
Namun tak sedikit juga di antara editor Bola.net yang terinspirasi keberhasilan Denmark dan Yunani menjadi juara kejutan di ajang ini. Beberapa editor ada yang berkeyakinan teguh jika kuda hitam di ajang ini seperti Turki dan Belgia punya potensi besar untuk keluar sebagai juara.
Selebihnya, ada juga yang menjagokan tim unggulan Portugal atau tim yang punya sejarah juara seperti Italia. Apa yang menjadi alasan mereka? Simak ulasan menarik dari setiap editor di halaman selanjutnya. Untuk Bolaneters, silahkan berbagi opini dengan kami dan Bolaneters lainnya di kolom komentar.
Jadi siapa ulasan prediksi editor Bola.net yang menjadi favorit Bolaneters?
As'ad Arifin (asa)

Sudah menjadi sebuah keniscayaan jika banyak yang menjagokan Prancis, Jerman, Spanyol, Italia atau Inggris akan menjadi yang terbaik di Euro 2016. Tak bisa dipungkiri bahwa, jika bukan penggemar fanatik, menjadi pendukung tim besar adalah pilihan yang prakmatis dan sesuai dengan arus pada umumnya.
Namun, tidak ada salahnya jika saya melawan arus dengan memilih mendukung Turki di ajang Euro 2016.
Mengapa? Ingat, Turki akan dilatih oleh pelatih kharismatis (yang sempat menjadi kandidat pelatih timnas Indonesia) Fatih Terim. Selain itu, Turki juga memiliki beberapa pemain beken yang siap menggoyang negeri Napoleon Bonaparte dengan talenta berbakatnya seperti Emre Mor (18 tahun), Hakan Chalhanoglu (22 tahun), Oguzhan Ozyakup (23 tahun) dan Ahmet Yilmaz Calik (22 tahun).
Bakat muda tersebut akan berkolaborasi dengan Arda Turan, Nuri Sahin dan Burak Yilmaz yang sudah jauh lebih berpengalaman.
Jika mampu melumpuhkan Spanyol pada babak grup dan berhasil lolos dari penyisihan Grup D, saya rasa Turki layak untuk kembali mengenang kejayaan yang dahulu kala mereka rasakan pada era kejayaan pemerintahan Turki Utsmani.
Dimas Ardi (dim)

Jujur, jika mengabaikan prinsip objektivitas, maka saya akan memilih untuk mendukung Inggris. Saya memang selalu mendukung The Three Lions, dan hal itu tak lepas pada kecintaan saya pada Liverpool.
Inggris memang memiliki skuat yang bagus saat ini. Lini serang juga jempolan. Namun saya harus realistis dengan tradisi The Three Lions selama ini di turnamen-turnamen besar dan kemampuan seorang Roy Hodgson. Jadi saya lebih memilih Jerman.
Kekuatan Jerman saat ini tak banyak berubah ketimbang saat mengikuti turnamen Piala Dunia 2014 lalu. Mereka hanya tak akan diperkuat oleh Miroslav Klose dan Philipp Lahm yang sudah pensiun plus beberapa pemain senior lain. Namun sudah ada pemain yang menggantikannya yakni Mario Gomez, Emre Can, Jonas Hector maupun Joshua Kimmich dan Leory Sane. Jadi bisa dipastikan skuat asuhan Joachim Loew itu masih tetap kuat dan kompak saat ini.
Ditambah lagi, para pemain yang pada Piala Dunia 2014 kemarin duduk di bangku cadangan permainannya juga sudah semakin matang. Contohnya saja Julian Draxler. Tim-tim lain memang pasti waspada dan mengantisipasi cara main Jerman, namun Loew juga pasti sudah menemukan cara untuk mengatasi hal tersebut setelah mempelajari rekaman kekalahan mereka dari Polandia dan Irlandia pada babak kualifikasi kemarin, plus kekalahan dari Inggris, Prancis, maupun Slovakia di ajang uji coba.
Afdholud Dzikry (dzi)

Memilih siapa yang bakal menjadi yang terbaik pada gelaran Euro 2016 memang gampang-gampang susah. Tuan rumah Prancis jelas menjadi salah satu favorit utama. Selain karena bermain di depan pendukung sendiri, skuat Les Bleus diisi pemain-pemain dengan nama besar dan pemain muda berkualitas.
Namun bagi saya, tim yang sangat menarik untuk dinanti kiprahnya dan juga layak untuk dijagokan adalah Belgia. Tim asuhan Marc Wilmots tersebut disebut-sebut sebagai generasi terbaik dalam sejarah sepakbola Belgia, dengan kombinasi nama besar dan pemain muda bertalenta.
Kombinasi nama besar dan talenta tercermin pada nama-nama seperti Eden Hazard, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Toby Alderweireld hingga Thibaut Courtois. Satu-satunya kehilangan besar bagi skuat Red Devils adalah fakta absennya benteng tangguh Vincent Kompany karena cedera.
Kekuatan utama Belgia terletak pada kualitas individu pemain yang menghiasi skuat mereka. Siapa yang tak bakal gentar menghadapi teror yang akan dilancarkan oleh nama-nama seperti Romelu Lukaku, Eden Hazard dan juga De Bruyne? Belum lagi sosok tangguh di bawah mistar gawang, Thibaut Coutois yang siaga menghalau semua serangan lawan. Siapa yang tak gentar?
Salah satu kunci utama Belgia untuk mengarungi turnamen kali ini dengan baik ada di pertandingan pertama mereka. Bila mampu mengalahkan salah satu tim besar Italia di laga perdana, Red Devils akan dipenuhi kepercayaan diri tinggi.
Tugas sulit telah menanti pelatih Marc Wilmots menyongsong laga ini. Bila Wilmots bisa mengkombinasikan dan menyatukan kualitas individu timnya dengan kolektivitas sebagai tim, bisa dipastikan Belgia bisa menjadi yang terbaik di gelaran Euro 2016 kali ini.
Rero Rivaldi (rer)

Gelaran turnamen Euro kali ini diawali dengan kesedihan bagi saya, lantaran tim jagoan Belanda gagal maju ke putaran final. Dengan tekad move on, Prancis pun kini menjadi gacoan untuk kompetisi edisi 2016, yang bakal digelar di rumah mereka sendiri.
Selepas kekisruhan memalukan yang diwarnai pemogokan para pemainnya di Piala Dunia 2010, Prancis sudah banyak berbenah. Di Euro 2012, Les Bleus menuai hasil bagus dengan lolos dari fase grup yang dihuni tuan rumah Ukraina, bersama dengan Inggris dan Swedia. Mereka masuk ke perempat final, sebelum akhirnya kandas 0-2 di tangan Spanyol, yang akhirnya menjadi juara.
Dua tahun berselang, Prancis mempertegas kebangkitan mereka dengan lolos dari Grup E Piala Dunia 2014 sebagai pemuncak klasemen, mengungguli Swiss, Ekuador, dan Honduras. Mereka akhirnya melaju hingga perempat final dan digentikan oleh Jerman, tim yang lagi-lagi keluar sebagai juara turnamen.
Berbekal hasil-hasil bagus di dua turnamen mayor tersebut, anak-anak asuh Didier Deschamps tentu bakal kian pede menghadapi Euro 2016 nanti. Apalagi di 20 laga uji coba yang mereka gelar pasca Piala Dunia 2014, tim hanya menelan kekalahan empat kali.
Memang, juara dunia 1998 sempat diguncang dengan video skandal Mathieu Valbuena, yang memaksa sang manajer untuk mencoret nama gelandang Lyon dan juga juru gedor Real Madrid, Karim Benzema. Namun sepertinya absennya dua bintang tersebut takkan mengganggu skema inti Prancis, yang masih punya sosok andalan seperti Antoine Griezmann, Paul Pogba. Jangan lupakan pula kehadiran tiga pemain yang namanya belakangan tengah naik daun, Anthony Martial, Dimitri Payet, dan N'Golo Kante.
Satu-satunya kekhawatiran yang saya punya dari tim ini mungkin adalah soal kehadiran goal getter mumpuni. Saya yakin semua penggemar Prancis akan lebih tenang melihat Benzema hadir di lini depan, ketimbang Olivier Giroud. Namun dengan catatan 24 gol-nya bersama Arsenal musim lalu, tidak ada salahnya kita sedikit memberikan kepercayaan pada sosok bomber tampan, yang belakangan lebih sering dikecam oleh supporter-nya sendiri.
Heri Sisworo (hsw)

Mari kita mulai prediksi ini dengan membicarakan sisi negatifnya dulu. Timnas Prancis tidak pernah lepas dari masalah menjelang gelaran turnamen besar. Sepertinya Prancis memang tak pernah kehabisan akal untuk mempersulit perjuangan mereka sendiri di perhelatan akbar.
Yang pertama, Didier Deschamps harus kehilangan banyak pemain penting di sektor belakang. Raphael Varane, Jeremy Mathieu, Kurt Zouma dan Benoit Tremoulinas mengalami cedera. Sementara itu, Mamadou Sakho dituduh menggunakan doping sehingga statusnya dibekukan. Saat Sakho dinyatakan tak bersalah, Deschamps sudah terlanjur mendaftarkan skuatnya ke UEFA.
Masalah yang lebih khas bagi Prancis datang dari sektor non teknis. Biasanya Prancis memiliki pemain berkarakter ‘racun’ yang bakal merusak atmosfer internal tim. Yang terakhir adalah salah satu anggota Class of ‘87; Samir Nasri. Pacar Nasri bahkan ikut campur dalam perseteruan antara sang pemain dengan Deschamps.
Untuk kali ini, masalah non teknis justru datang dari luar. Musuh lama Deschamps, Eric Cantona, tiba-tiba muncul dan menuduh Deschamps tidak membawa Karim Benzema dan Hatem Ben Arfa karena alasan rasisme. Sejak masih aktif bermain, Cantona memang seperti tak pernah suka dengan Deschamps dan kerap melontarkan ejekan kepada kompatriotnya itu. Untungnya kali ini internal tim Prancis tengah solid. Semua pemain mengatakan bahwa tuduhan Cantona itu tidak memengaruhi situasi di dalam tim.
Sekarang kita masuk sisi positifnya. Prancis otomatis menjadi unggulan lantaran mereka adalah tuan rumah tunggal. Di stadion mana pun Prancis bermain, dapat dipastikan mereka akan mendapatkan dukungan lebih besar dari sang lawan. Memang tak ada jaminan bahwa tim yang mendapat dukungan lebih besar akan bisa menang, namun itu tetap faktorbesar. Selain itu, Prancis juga memiliki skuat berkualitas kelas wahid.
Dari posisi penjaga gawang sampai penyerang, skuat Prancis memiliki deretan nama tersohor. Yang paling menarik dicermati adalah banyaknya sosok bintang yang baru bersinar di level tinggi musim ini. Sebut saja Dimitri Payet, N’Golo Kante, Anthony Martial, atau Kingsley Coman. Banyaknya wajah baru itu akan diimbangi dengan para pemain berpengalaman seperti Patrice Evra, Hugo Lloris, Olivier Giroud, Bacary Sagna, Blaise Matuidi dan Paul Pogba.
Didier Deschamps juga sudah berpengalaman sebagai pelatih. Sederet prestasinya antara lain adalah mengantarkan AS Monaco ke final Liga Champions, mengantarkan Juventus menjadi juara Serie B, membawa Marseille juara Ligue 1 dan mencapai perempat final Liga Champions untuk kali pertama sejak 1993.
Singkatnya, Prancis layak diunggulkan untuk menjadi juara karena faktor tuan rumah, kualitas skuat dan pengalaman pelatih. Menurut hitungan statistik Goldman Sachs, Prancis juga diprediksi akan menjadi juara dengan mengalahkan Jerman di partai final. Secara keseluruhan, Prancis memiliki potensi juara sebesar 23 persen, terbesar dibanding kontestan lain. Namun Prancis juga wajib waspada karena perjuangan mereka berpotensi diganggu faktor non teknis.
Serafianus Sapto (dub)

Sejujurnya saya sedikit berada di persimpangan jalan saat ditanya siapa tim yang saya jagokan untuk menjadi juara Euro 2016. Kecintaan saya pada Manchester United sedikit banyak membuat saya memiliki afiliasi tersendiri dengan Timnas Inggris (Kendati hanya tiga pemain Manchester United yang memperkuat Timnas). Tampil sempurna selama babak kualifikasi berlangsung, menjadikan skuat The Three Lions menjadi salah satu unggulan di Euro nanti.
Dengan komposisi pemain berpengalaman dan bintang-bintang muda yang menjanjikan seperti Harry Kane, Raheem Sterling, Dele Alli dan tentu saja Marcus Rashford membuat saya sangat tergoda untuk menjagokan Timnas Inggris di Euro edisi kali ini. Namun apa daya, hati ini tidak bisa berbohong jika Jerman masih menjadi favorit saya untuk menjadi juara Euro 2016 nanti.
Keyakinan saya kepada Skuat Der Panzer ini tidak bisa dilepaskan dengan status Juara dunia yang mereka sandang saat ini. Belum lagi jika kita melihat sepak terjang Timnas Jerman di turnamen-turnamen besar selama satu dekade belakangan, bisa dilihat jika mereka adalah penantang gelar yang cukup serius, di mana pada dua edisi Euro terakhir mereka minimal menembus babak semifinal.
Secara komposisi pemain, Timnas Jerman sendiri bisa dikatakan sebagai salah satu tim dengan materi pemain terbaik. Diperkuat oleh Kiper terbaik dunia, Manuel Neuer ditambah dengan sejumlah bintang-bintang top Eropa seperti Mats Hummels, Jerome Boateng, Mesut Ozil, Thomas Muller, Toni Kroos, Mario Gotze dan Mario Gomez membuat tim ini begitu sexy di gelarang Euro mendatang.
Memang betul dalam beberapa ajang uji coba terakhir ini, anak asuh Joachim Loew tidak tampil maksimal, seperti saat mereka dikalahkan Slovakia dan Inggris pada dua partai uji coba sebelumnya. Namun dengan kembalinya Bastian Schweinsteiger ke tim, saya rasa akan mengembalikan kepercayaan diri tim mengingat pada partai uji coba kemarin Loew banyak memainkan pemain-pemain mudanya.
Eine Nation, Ein Team, Ein Traum!
Gia Yuda Pradana (gia)

Melihat skuatnya, Italia memang cukup mencemaskan. Tanpa Claudio Marchisio, Marco Verratti dan Andrea Pirlo di tengah maupun sosok 'nomor 10' seperti Francesco Totti dan Alessandro Del Piero, Azzurri jadi kurang diunggulkan. Belum lagi jika melihat lini depan mereka yang mungkin tidak bisa dibandingkan dengan milik Prancis, Jerman atau bahkan Inggris.
Namun, ada beberapa alasan yang membuat Italia layak dijagokan.
Pertama, versatility alias fleksibilitas.
Dari 23 pemain yang dibawa Antonio Conte ke Prancis, hampir semuanya mampu menempati dua atau lebih posisi berbeda. Conte pun bisa menerapkan 3-4-3 atau 3-5-2 sebagai struktur dasar permainan timnya. Selain itu, skemanya juga dapat bertransformasi menjadi 4-4-2 untuk bertahan atau 3-4-3 ketika menyerang. Semua pemain di skuat ini bisa jadi starter. Fondasinya sudah kuat.
Kedua, lini belakang Nyonya Tua.
Salah satu inti kekuatan Italia sekaligus fondasi tim ini adalah lini belakang yang solid yang sudah terjalin sejak level klub. Kiper dan kapten Gianluigi Buffon serta trio bek Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini adalah dasarnya.
Ketiga, status underdog.
Tidak difavoritkan justru menjadi kondisi ideal bagi Italia. Dengan begini, pressure-nya tidak terlalu besar.
Tidak sedikit yang memprediksi kalau EURO 2016 ini akan dimenangkan oleh tim kejutan, bukan tim unggulan. Salah satu yang berkata demikian adalah Zinedine Zidane. Zidane sendiri juga mengatakan bahwa Italia adalah tim yang harus selalu diperhitungkan di setiap turnamen besar.
Italia yang ini punya semua yang dibutuhkan untuk menyajikan kejutan di antara tim-tim unggulan yang lebih difavoritkan. Selain itu, Italia tetaplah Italia. Jangan pernah meremehkan mereka.
Ari Prayoga (pra)

Secara umum, Portugal bukanlah negara yang menjadi langganan unggulan untuk memenangi turnamen akbar, baik Euro maupun Piala Dunia. Paling banter mereka hanya akan difavoritkan melaju hingga semifinal, atau paling bagus masuk final.
Namun semua itu berubah ketika saya membaca komentar Menteri Pemuda dan Olahraga negeri kita tercinta, Imam Nahrawi. Beliau memilih untuk menjagokan Portugal bisa menjuarai gelaran Euro 2016 kali ini. Lebih menarik lagi jika kita menyimak alasannya.
"Saya lihat Portugal ini secara historis banyak melahirkan negara-negara besar, termasuk indonesia." Demikian kira-kira alasan Menpora mendukung negaranya Eusebio. Wow, sebuah alasan yang masuk akal tentunya jika kita melihat salah satu negara bekas jajahan bangsa Portugis, Brasil bisa disebut sebagai raja sepakbola dunia.
Ok, mungkin Pak Imam sedang berdelusi karena jelas-jelas tidak pernah ada hubungannya antara pernah menjajah satu negara dengan peluang menjuarai sebuah turnamen. Mari kita lupakan saja tentang komentar tidak penting pria asli Bangkalan ini.
Tapi yang jelas, berkat komentar Bapak Menpora kita satu ini, saya jadi membuka mata terhadap kekuatan Portugal di Euro 2016. Ya, mereka tak bisa dipandang sebelah mata dan paling penting, layak dikedepankan menjadi favorit peraih trofi Henry Delauney.
Seleccao kini ditangani Fernando Santos, sosok yang lebih banyak menghabiskan karier kepelatihannya di Yunani ketimbang di kampung halamannya sendiri. Ia pun tak terlalu mentereng dari sisi prestasi sebagai pelatih. Saya juga tak mengerti mengapa Federasi Sepakbola Portugal menunjuknya mengisi pos pelatih.
Meski demikian, Santos tetap menjanjikan harapan dengan penunjukan pemain untuk mengisi skuat Portugal, setidaknya untuk ajang Euro 2016 kali ini. Ya, melihat komposisi skuat Seleccao kali ini, saya berani menyebut ini adalah skuat terbaik Portugal semenjak edisi 2004 di mana mereka menjadi runner-up di rumah sendiri.
Nama-nama senior macam Ricardo Carvalho berpadu dengan daun muda seperti Andre Gomes hingga Renato Sanches. Keseimbangan antara pengalaman pemain gaek dan determinasi pemain muda di skuat Portugal terasa pas. Inilah salah satu hal penting yang dibutuhkan sebuah tim untuk memenangi turnamen.
Salah satu nama yang mungkin bisa mencuri perhatian -jika tidak bisa disebut bersinar- di Euro 2016 ini adalah Ricardo Quaresma. Kapan lagi kita bisa melihat sosok Quaresma yang dulu dianggap menjadi calon bintang Portugal namun kariernya malah menurun drastis karena sifat labil yang dimilikinya kini menjelma menjadi sosok yang bisa bersikap dewasa dan bekerja keras di lapangan.
Dari semua alasan di atas, satu alasan paling utama mengapa saja menjagokan Portugal tentu saja keberadaan sang kapten Cristiano Ronaldo. Merasa sukses dari sisi karier di klub dan gelar pribadi, CR7 tentu akan mati-matian memimpin timnya untuk merengkuh trofi di Saint-Denis 11 Juli mendatang.
Ronaldo tentu ingin membawa negaranya meraih gelar juara di Euro 2016 ini untuk bisa mengejek rival beratnya, Lionel Messi yang belum sekalipun meraih gelar juara turnamen major bersama tim senior Argentina. "Hai Messi, saya sudah juara bersama timnas, kamu kapan?" Begitu kira-kira omongan Ronaldo terhadap Messi nantinya.
M Syafarudin (faw)

Ketika Markas Besar (Mabes) Bola.net mengirimkan maklumat bahwa membikin prediksi juara Euro 2016 hukumnya sunnah muakkad, saya tak terlalu susah untuk menentukan pilihan. Sebab, sejak tahun 1998, bersamaan dengan momen jatuh cinta dengan Manchester United, saya sudah menjatuhkan pilihan untuk mendukung Timnas Inggris. Bagi saya, kedua kesebelasan ini adalah satu paket untuk didukung.
Saya mendukung Inggris sejak era David Beckham diganjar kartu merah gara-gara terprovokasi oleh Diego Simeone, Alan Shearer masih memiliki rambut, Michael Owen masih unyu-unyu, dan Rio Ferdinand bermain satu lapangan dengan sepupunya, Les Ferdinand. Sedari itu, tepatnya 18 tahun yang lalu, saya menbaiat diri sebagai abdi Tiga Singa, julukan Inggris.
Sama seperti hubungan saya dengan Manchester United, ikatan batin dengan Timnas Inggris sudah melebur hingga tingkat blind love. Tak peduli bagaimana catatan statistik mereka, bagaimana kiprah mereka sepanjang pertandingan, bagaimana baik dan buruknya mereka di lapangan maupun luar lapangan, saya akan menjadikan Inggris sebagai pilihan utama dan satu-satunya di setiap pertandingan, atau major event yang diikuti Wayne Rooney dan kawan-kawan.
Karena yang dituntut adalah sebuah prediksi, okelah saya akan menyebut tentang plus dan minus dari Inggris. Tapi sedikit saja ya, hehehe. Untuk gelaran Euro 2016 ini, Inggris memiliki skuat yang sangat lengkap. Mereka memiliki pemain yang sudah senior macam Rooney dan Gary Cahill, hingga daun muda macam Marcus Rashford dan Dele Alli. Juga ada pemain-pemain yang mulai memasuki usia matang. Sebut saja nama Chris Smalling, Jordan Henderson dan Kyle Walker.
Satu-satunya pemain yang tidak saya kehendaki di tim ini hanya Jack Wilshere. Maaf untuk pecinta Arsenal. Menit bermain Wilshere bersama The Gunners sangat minim selama musim 2015-2016. Jadi, saya menganggap dia tidak pantas untuk mengenakan lambang tiga singa di dadanya. Danny Drinkwater jauh lebih layak dibanding pesolek macam Wilshere. Saat ini, saya berdoa agar Roy Hodgson sebagai tukang racik strategi Inggris, hanya menjadikan Wilshere penghias bangku cadangan.
Dengan komposisi skuat yang dipilih oleh Hodgson, kecuali Wilshere, saya cukup optimistis dengan performa Inggris di Euro 2016. Sebab Inggris memenuhi syarat untuk menjadi juara. Yakni keseimbangan dan kedalaman skuat. Paling tidak, jika bermain konsisten dan tak diganggu cedera atau akumulasi, Inggris bisa menembus minimal semifinal Euro.
Lalu, apa yang membuat Inggris bisa tampil memble di Perancis? Tak lain dan tak bukan adalah media massa. Bagi saya, media Inggris adalah salah satu yang terkejam di dunia. Mereka bisa menyanjung bak lagu-lagu romantisnya Bebi Romeo. Tapi, mereka juga bisa berperangai kejam, laiknya Hulk saat menjatuhkan martabat kedewaan Loki, adik angkat Thor. Ketika Euro belum dimulai saja, media Inggris justru menggelindingkan isu kepindahan Jamie Vardy dari Leicester City ke Arsenal. Sebuah gosip yang sangat tidak tepat waktu dan bisa mengganggu konsentrasi Vardy selama membela Inggris.
Saat Rashford tampil sensasional bersama Manchester United selama paruh musim, media Inggris langsung menyandingkannya dengan Cristiano Ronaldo. Duh kawan, kalian terlalu heboh. Level Rashford dan Ronaldo bak bumi dan kahyangan. Jauh, pake banget. Kasihan Rashford. Belum waktunya ia dibanding-bandingkan dengan siapapun. Sebab jika tak kuat dengan rombalan-gombalan media Inggris, bukan tidak mungkin kariernya akan padam lebih awal.
Saya tak mau berpanjang lebar lagi ya. Saya takut semakin panjang artikel ini, semakin kental pula subjektivitas saya di tulisan ini. Sebab, saya terlalu rapuh untuk bersikap objektif saat menulis Manchester United dan Timnas Inggris. Itulah mengapa, ketika masih bekerja di tempat lama, saya selalu menolak untuk menulis tentang dua kesebelasan ini. Saya dukung Inggris. Anda dukung siapa?
Aga Deta (ada)

Dalam turnamen Euro 2016 kali ini saya menjatuhkan pilihan kepada Inggris. Ini merupakan keputusan yang tidak biasa mengingat saya sama sekali tidak pernah menjagokan Inggris di turnamen besar dan bukan berasal dari pecinta sepakbola Premier League. Namun The Three Lions di Euro 2016 menawarkan sesuatu yang berbeda.
Keputusan Roy Hodgson memanggil para pemain muda memang pantas diacungi jempol. Meski mengundang banyak kritik, Hodgson mampu meracik skuatnya menjadi salah satu kekuatan yang menakutkan.
Terlepas dari penampilan di Piala Dunia 2014, Inggris tampil sempurna di babak kualifikasi Euro 2016 dengan menyapu bersih semua kemenangan. Selain itu gawang mereka paling sedikit kebobolan dengan tiga gol.
Setelah itu, Inggris masih mampu mempertahankan konsistensi mengingat hanya kalah dua kali dari tujuh pertandingan persahabatan. Lima sisanya diselesaikan dengan kemenangan.
Selain itu Inggris juga mempunyai skuat yang cukup menjanjikan terutama di barisan depan. Dua bomber haus gol Harry Kane dan Jamie Vardy sepanjang musim lalu mencuri perhatian dengan lesakan gol yang seakan tidak ada habisnya.
Ditambah, Hodgson masih punya senjata rahasia bernama Marcus Rashford. Wonderkid Manchester United itu kerap mencetak gol di laga debutnya dan bisa memberikan kejutan di Prancis.
Tahun ini bisa menjadi tahun yang sempurna bagi Inggris untuk menghapus dahaga gelar internasional sejak Piala Dunia 1966. Orang bijak mengatakan, tidak ada alasan untuk tidak menjagokan Inggris di Euro 2016.
M Rachmatullah (mac)

Butuh alasan sederhana untuk menjagokan Prancis menjuarai gelaran Euro 2016, tim berjuluk Les Bleus ini punya skuat komplit. Pemainnya cepat dengan skil tinggi, seperti Antoine Griezmann serta Paul Pogba yang bisa menjadi penentu pertandingan. Ditambah lagi deretan bintang baru yang namanya meroket naik di musim lalu seperti Anthony Martial, Dimitri Payet dan N'Golo Kante yang memberikan tambahan kualitas bagi tim asuhan Didier Deschamp ini.
Yang tak kalah penting dari kualitas skuat Prancis adalah keberuntungan mereka kala menjadi tuan rumah turnamen. Di tahun 1984, Prancis menjuarai Euro yang digelar di rumah mereka sendiri. Tuah tuan rumah bagi ayam jantan kembali berulang di tahun 1998 ketika mereka tampil sebagai juara dunia di depan pendukungnya sendiri.
Tanpa bermaksud menyepelekan tim lain, Prancis kemungkinan tanpa hambatan berarti untuk bisa lolos dari fase penyisihan grup. Kontestan grup A lainnya, Albania, Rumania maupun Swiss di atas kertas kekuatannya masih berada di bawah Prancis.
Menarik melihat lawan Prancis di babak 16 besar. Jika lolos sebagai juara grup, bukan berarti langkah Prancis bakal menjadi semakin mudah. Karena sesuai drawing mereka akan dihadapkan dengan peringkat tiga terbaik dari grup C, D dan E. Jika melihat kemungkinan ini, banyak kuda hitam yang siap menjegal, terutama dari Grup D.
Melewati babak 16 besar sepenuhnya masalah mental yang akan lebih banyak berbicara. Dengan waktu turnamen yang mepet, pertandingan padat maka sudah pasti setiap tim tidak bisa tampil maksimal di babak ini. Nah jika berbicara mental juara, maka Prancis masih layak dijagokan.
Mental juara Prancis sudah teruji, pasca kekisruhan memalukan di Piala Dunia 2010, Prancis berhasil bangkit di dua turnamen berikutnya dengan hanya dikalahkan tim yang keluar sebagai juara. Di Euro 2012, Les Bleus kandas di tangan Spanyol yang akhirnya keluar sebagai juara. Demikian juga di Piala Dunia 2014 langkah mereka dihentikan oleh Jerman, tim yang lagi-lagi keluar sebagai juara turnamen.
Yang menjadi masalah bagi Prancis justru terjadi di luar faktor teknis. Mulai dari perseteruan Valbuena dan Benzema hingga hantaman kasus doping Mamadou Sakho. Namun jika skuat Les Bleus masih tetap solid, mereka punya potensi besar memenuhi ekspektasi fansnya dengan keluar sebagai juara Euro setelah terakhir kali tahun 2000 silam, saat golden goal David Trezeguet membuat Italia tertunduk di final.
Haris Suhud (shd)

Siapa yang akan jadi juara Euro 2016? Jawabnya mudah, tim yang menang di final. Dan praduga saya mengatakan, Jerman yang bisa melakukan itu. Mereka unggul dalam segala hal dibanding dengan kontestan lain.
Jerman (421,5 juta pounds) merupakan tim termahal dalam kontes nanti. Juara bertahan, Spanyol (418,1 juta pounds), di posisi dua. Mungkin ada yang beranggapan bahwa nilai uang tak berarti apa-apa. Tapi saya sendiri cenderung percaya dengan kata-kata penyanyi dangdut Lusy Rahmawati: “Ada uang abang sayang. Tak ada uang abang kutendang,” Nah, hal ini menegaskan bahwa uang punya peran besar di dunia seperti sekarang ini di semua aspek kehidupan, termasuk dalam sepakbola.
Kemudian, armada yang akan dibawa Joachim Low ke Prancis nanti sudah tak perlu diragukan lagi. Perlu ditegaskan lagi, mereka adalah tim termahal. Mereka adalah tim juara dunia 2014 kemarin di Brasil. Hanya ada beberapa nama baru dalam skuat Jerman 2016, yang saya rasa untuk sekedar kaderisasi. Selebihnya, mereka ada pemain yang sudah tergembleng. Para pemain penuh pengalaman di berbagai turnamen seperti Manuel Neuer, Bastian Schweinsteiger, Thomas Muller, Mario Gotze, tetap menghiasi skuat Jerman.
Mayoritas pemain Jerman juga merupakan pemain juara bersama timnya masing-masing di level klub musim lalu, sebut saja Ter Stegen (Barcelona), Semi Khedira (Juventus), Toni Kroos (Real Madrid). Ada nama Ozil, meski pun timnya tak juara di Premier League, namun ia adalah raja pengumpan di liga terbaik dunia bersama Arsenal.
Letak geografis negara juga menjadi keuntungan tersendiri bagi Jerman dalam pagelaran Euro kali ini. Prancis adalah tetangga terdekat Jerman. Cuaca dan lingkungan barangkali cenderung sama yang tak akan banyak mempengaruhi kondisi fisik dan kejiwaan pemain selama jauh dari rumah. Selain itu, masyarakat Jerman tak perlu keluar biaya mahal jika ingin mengerahkan massa untuk memberi dukungan pada tim kebanggaannya.
Eh tapi Jerman tampak bukan tim juara dalam laga uji coba akhir-akhir ini. Dalam lima pertandingan terakhir, Der Panzer kalah tiga kali termasuk menghadapi tim favorit juara Euro 2016, Inggris dan Prancis. Namun kenyataan itu tak meruntuhkan keyakinan saya bahwa Jerman akan tetap tampil bagus sepanjang turnamen nanti. Karena saya percaya, orang yang banyak melakukan kesalahan punya kesempatan lebih banyak untuk belajar dan bangkit!
Advertisement
Berita Terkait
-
Piala Dunia 30 Maret 2026 18:41 -
Piala Dunia 30 Maret 2026 17:04 -
Piala Dunia 30 Maret 2026 16:45 -
Tim Nasional 29 Maret 2026 16:44 -
Tim Nasional 26 Maret 2026 19:22Prediksi Timnas Indonesia vs St. Kitts and Nevis 27 Maret 2026
LATEST UPDATE
-
Piala Dunia 1 April 2026 18:57 -
Piala Dunia 1 April 2026 18:20 -
Piala Dunia 1 April 2026 17:58 -
Bola Indonesia 1 April 2026 17:43 -
Bola Indonesia 1 April 2026 17:39 -
Piala Dunia 1 April 2026 17:24
HIGHLIGHT
- 6 Pencetak Gol Termuda Premier League: Dari Magis ...
- 5 Wonderkid Italia yang Bisa Selamatkan Azzurri da...
- 10 Rekor Liga Champions yang Mungkin Tak Akan Pern...
- 5 Pemain Gratis yang Bisa Direkrut Manchester Unit...
- 5 Pemain yang Pernah Membela Galatasaray dan Liver...
- 4 Pemain yang Pernah Membela Arsenal dan Bayer Lev...
- 3 Alasan Malick Diouf Layak Jadi Target MU di 2026...
















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5543348/original/099612300_1775022690-Menteri_Ketenagakerjaan_Yassierli-1_April_2026.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5544028/original/089844600_1775043833-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_18.36.08.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5544012/original/025013300_1775043109-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_18.29.33.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5543240/original/053671500_1775019895-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5544011/original/043556400_1775043057-1000839171.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5543970/original/090340300_1775041507-1000864785.jpg)