Bung Ferry Ceritakan Kronologi Persija Tak Dapat Izin Kepolisian untuk Menjamu Persib di Jakarta, Sempat Pertimbangkan Surabaya dan Jepara

Bung Ferry Ceritakan Kronologi Persija Tak Dapat Izin Kepolisian untuk Menjamu Persib di Jakarta, Sempat Pertimbangkan Surabaya dan Jepara
Ketua Panpel Persija Jakarta, Ferry Indrasjarief (c) Bola.net/Fitri Apriani

Bola.net - Persija Jakarta dipastikan tidak bisa menjamu Persib Bandung di Jakarta dan harus memindahkan laga ke Stadion Segiri, Samarinda pada pekan ke-32 BRI Super League 2025/26. Pertandingan tetap digelar pada Minggu (10/6) pukul 15.30 WIB.

Keputusan tersebut muncul setelah adanya komunikasi antara Persija dengan pihak kepolisian yang tidak memberikan izin pertandingan digelar di ibu kota. Situasi itu membuat manajemen Macan Kemayoran harus segera mencari solusi agar laga tetap berlangsung tanpa perubahan jadwal.

Ketua panitia pelaksana (panpel) Persija, Ferry Indrasjarief menjelaskan bahwa pertemuan dengan aparat keamanan sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya bersama Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Dari hasil diskusi tersebut, diputuskan bahwa pertandingan tidak dapat dilaksanakan di Jakarta.

"Begini, Pak Kapolda, Wakapolda dengan segala macam timnya itu waktu beberapa hari yang lalu sempat datang ke Balaikota untuk berdiskusi berdialog dengan Gubernur," ujar Ferry kepada wartawan di Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Polri, Jakarta Selatan, Rabu (6/5).

"Dan dari situ akhirnya keluar keputusan bahwa kita tidak boleh menyelenggarakan pertandingan di Jakarta," katanya menambahkan.

Koordinasi dengan I.League

Setelah keputusan itu diterima, panpel langsung melaporkannya kepada I.League untuk mencari alternatif stadion yang tersedia. Beberapa opsi sempat muncul di Pulau Jawa sebelum akhirnya mengerucut pada dua pilihan lokasi.

"Nah, kemudian saya laporkan ini ke liga. Liga kemudian mencari stadion yang kosong dan mereka bilang bahwa ada dua tempat pilihan di Jepara atau di Surabaya," ungkap Ferry.

Pertimbangan teknis sempat mengarah ke Surabaya karena akses transportasi yang dinilai lebih mendukung kebutuhan tim. Koordinasi pun dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk tuan rumah setempat yang siap membantu penyelenggaraan pertandingan.

"Nah, dengan pertimbangan saya untuk kepentingan tim, karena kalau Surabaya dekat dengan bandara, saya pikir saya akan pilih Surabaya dan kemudian saya berkoordinasi di sana," katanya.

Di Pulau Jawa Tanpa Penonton

Namun, rencana tersebut tidak bisa dijalankan karena pertandingan di Pulau Jawa hanya diizinkan tanpa kehadiran penonton. Kondisi itu membuat panpel kembali mencari opsi lain yang memungkinkan laga tetap dihadiri suporter.

"Ketika kita sudah koordinasi di sana ternyata di sana semuanya siap, Panpel bahkan pihak Persebaya Bonek juga siap bantu gitu. Tapi ternyata kita boleh menggelar di sana tanpa penonton," ucap Ferry.

Upaya lain sempat dilakukan dengan mempertimbangkan Bali, tetapi jadwal pertandingan yang berdekatan membuat opsi tersebut tidak dapat digunakan. Regulasi kompetisi menjadi salah satu faktor yang menghambat penggunaan stadion di wilayah tersebut.

"Dan setelah saya komunikasi dengan liga, ternyata memang kalau kita masih di Pulau Jawa itu semuanya tanpa penonton, tidak akan mendapatkan izin dengan penonton," tandasnya.

Memilih Kaltim

Pilihan kemudian mengarah ke Kalimantan Timur setelah mempertimbangkan ketersediaan stadion dan peluang mendapatkan izin dengan penonton. Koordinasi dengan berbagai pihak dilakukan hingga akhirnya Samarinda dipastikan sebagai lokasi pertandingan.

"Nah, saya izin ke sana dan ternyata dari sana ya silakan saja kalau memang mau dipakai," tutur Ferry.

"Saya coba tanya ke pihak kepolisian, kalau memang kalian bisa menyelenggarakan di Samarinda dipersilakan saja, pihak kepolisian juga akan bantu perizinannya dengan penonton," imbuh sosok yang akrab dengan panggilan Bung Ferry itu.