FOLLOW US:


Allardyce: Saya Hanya Bisa Latih Manchester United Kalau Bernama 'Allardicio'

26-11-2019 10:47

 | Yaumil Azis

Allardyce: Saya Hanya Bisa Latih Manchester United Kalau Bernama 'Allardicio'
Sam Allardyce © AFP

Bola.net - Sam Allardyce merasa bahwa ada satu hal yang menghalangi dirinya menukangi Manchester United. Bukan kualitas apalagi pengalaman, melainkan namanya yang tidak terdengar asing.

Sosok yang dikenal dengan panggilan 'Big Sam' tersebut sudah malang melintang di dunia kepelatihan sejak tahun 1991. Ada banyak klub yang diperkuat olehnya, seperti Newcaslte United dan West Ham United.

Bahkan ia pernah dipercaya menukangi Timnas Inggris. Sayang, ia hanya bertahan selama dua bulan karena masalah skandal yang sempat ramai dibicarakan di the Three Lions. Posisinya digantikan oleh Gareth Southgate.

Sekarang pria berumur 65 tahun itu sedang menganggur. Ia memutuskan untuk meninggalkan klub asuhannya, Everton, pada akhir musim 2017/18 lalu.

Scroll ke bawah untuk membaca informasi selengkapnya.

1 dari 2

Masalah Nama

Allardye memiliki segudang pengalaman serta rasa hormat dari pelatih lain pada saat ini. Tetapi, sampai sekarang, tak pernah ada nama klub besar seperti Manchester United yang nangkring dalam CV-nya.

Ia sendiri percaya bahwa dirinya sebenarnya bisa menukangi klub yang sekarang diasuh Ole Gunnar Solskjaer tersebut. Tapi karena masalah nama, hal tersebut tak kunjung terwujud.

"Cara terbaik untuk mendapatkan pekerjaan di Premier League, jika anda adalah seorang pelatih berkebangsaan Inggris, adalah dengan mengubah nama jadi nama asing," ungkap Allardyce kepada talkSPORT.

"Saya selalu berkata bahwa andai nama saya 'Allardicio', saya bisa saja melatih Manchester United," lanjutnya.

2 dari 2

Pelatih Lokal Cenderung Dianaktirikan

Ia juga menyinggung klub Inggris yang cenderung menganak-tirikan pelatih lokal. Dalam kasus ini adalah pelatih Burnley, Sean Dyche. "Sean Dyche telah membawa Burnley dari ketidakjelasan ke Eropa."

"[Tempat] di Eropa, usai melewati pertandingan dengan level yang konsisten, lebih sulit untuk dicapai ketimbang meraih gelar, di mana anda bisa bermain enam atau tujuh laga dan lolos ke final kejuaraan," tambahnya.

"Saya tidak paham dengan logikanya. Anda tak bisa bekerja pada sebuah klub kecil dan mengharapkan pekerjaan yang lebih besar dengan memenangkan trofi... itu adalah omong kosong yang absolut," tutupnya.

(Talksport)