Kisah Shea Lacey: Berdarah Liverpool, Berhati Manchester, dan Cerita 10 Menit Mencuri Panggung di Turf Moor

Kisah Shea Lacey: Berdarah Liverpool, Berhati Manchester, dan Cerita 10 Menit Mencuri Panggung di Turf Moor
Pemain muda Manchester United, Shea Lacey. (c) dok.ManUtd.com

Bola.net - Hanya butuh 10 menit bagi Shea Lacey untuk mengubah rasa frustrasi menjadi decak kagum.

Dalam hasil imbang 2-2 melawan Burnley di Turf Moor, Rabu (8/1/2026) dini hari, Manchester United memang gagal membawa pulang tiga poin. Namun, masuknya remaja berusia 18 tahun ini di pengujung laga memberikan sinyal bahwa masa depan Setan Merah mungkin tidak segelap yang dibayangkan pasca-pergantian pelatih.

Masuk menggantikan pemain Manuel Ugarte saat tim sedang memburu gol kemenangan bukanlah tugas mudah bagi remaja yang baru mencicipi total 6 menit debut di laga kontra Aston Villa akhir Desember lalu. Namun, di bawah arahan pelatih interim Darren Fletcher, Lacey tampil tanpa beban.

Satu momen magis terjadi pada menit ke-84. Menerima bola dari belakang, alih-alih bermain aman dan mengoper bola ke seniornya, hal yang lumrah dilakukan pemain muda debutan, Lacey memilih jalan berbeda. Ia berani menahan bola, melakukan dribel, dan melepaskan tembakan melengkung.

Total, dua tembakan kaki kiri, satu membentur mistar gawang. Lacey tidak masuk lapangan sekadar untuk membuang waktu; ia masuk untuk memberi pernyataan.

1 dari 4 halaman

Di Mana Anak Ini Selama Ini?

Di Mana Anak Ini Selama Ini?

Pemain muda Manchester United, Shea Lacey. (c) dok.ManUtd.com

Penampilan Lacey di Turf Moor bukan sekadar soal statistik, melainkan dampak psikologis di lapangan. Masuk sebagai pemain pengganti, ia langsung mengubah ritme permainan yang sempat stagnan.

Mantan kapten MU, Gary Neville, tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat melihat keberanian bocah yang sebelumnya hanya bermain 6 menit saat Man United kalah dari Aston Villa itu.

"Lacey ada di mana saja selama ini?" ujar Neville, seolah tak percaya Man United menyimpan senjata rahasia ini terlalu lama di bangku cadangan.

Neville menyoroti mentalitas Lacey yang tidak diajarkan di buku teks akademi manapun. Menurutnya, kombinasi Lacey dengan kapten tim bisa menjadi mimpi buruk bagi lawan.

"Shea Lacey menembak dengan kekuatan penuh, memancarkan tekad yang tak bisa diajarkan lewat kurikulum latihan. Masukkan dia berpasangan dengan Bruno Fernandes, maka lini pertahanan lawan hanya bisa menyulitkan diri mereka sendiri. Bocah ini benar-benar tipe bintang yang memaksa penonton untuk terus memperhatikannya," tegas Neville.

Pertandingan Selanjutnya
Premier League Premier League | 17 Januari 2026
Man United Man United
19:30 WIB
Man City Man City
Premier League Premier League | 17 Januari 2026
Liverpool Liverpool
22:00 WIB
Burnley Burnley
2 dari 4 halaman

Ironi Liverpool dan Julukan Scouse Messi

Kisah Shea Lacey adalah sebuah anomali yang menarik. Ia lahir dan besar di Liverpool, dari keluarga pendukung fanatik The Reds.

Ayahnya, Paddy Lacey Sr., bahkan sempat khawatir ketika Shea kecil harus berlatih di Manchester. Namun, keputusan itu diambil karena Man United menawarkan kebebasan yang tidak ia temukan di tempat lain: kebebasan untuk menggiring bola.

Saat akademi lain meminta pemain muda untuk sering mengoper, pelatih di Carrington justru membiarkan Shea menari dengan bola. Mereka percaya, visi bermain bisa diajarkan nanti, tetapi insting dribel alami seperti itu adalah anugerah.

Tak heran jika ia dijuluki "Scouse Messi". Gaya mainnya yang mengandalkan kaki kiri, pusat gravitasi rendah, dan kemampuan one-on-one mengingatkan banyak orang pada Phil Foden atau Eden Hazard.

Kakaknya, Paddy Jr., sempat meniti karier di Liverpool sebelum beralih ke tinju profesional. Namun Shea, yang kini berusia 18 tahun, justru menemukan rumahnya di sisi merah Manchester, bahkan sempat memegang tiket musiman di Anfield sebelum hatinya sepenuhnya berbelok ke Old Trafford.

3 dari 4 halaman

Mentalitas Petinju di Lapangan Hijau

Ketangguhan mental Lacey di Turf Moor mungkin berakar dari disiplin olahraga lain yang ia geluti: tinju.

Selain sepak bola, Lacey kecil ditempa di Salisbury Boxing Club. Pada 2019, ia bahkan mencapai semifinal nasional kelas 36 kg. Sebuah fakta menarik terungkap: sehari sebelum pertarungan semifinal itu, ia harus mencabut gigi, namun tetap nekat naik ring meski akhirnya kalah poin.

Mentalitas petarung inilah yang ia bawa ke lapangan sepak bola. Cedera otot paha yang sempat membuatnya absen panjang dari Oktober 2023 hingga April 2024 tidak mematikan semangatnya.

Ia bangkit, menandatangani kontrak profesional lima tahun, dan kini mulai mengetuk pintu tim utama secara reguler.

4 dari 4 halaman

Aset Masa Depan MU di Era Baru

Di tengah ketidakpastian manajerial setelah kepergian Ruben Amorim, kehadiran talenta seperti Lacey adalah angin segar bagi Darren Fletcher dan fans Man United.

Ia bukan lagi sekadar bocah yang viral di media sosial karena gol jarak jauh atau skill 'Elastico' ala Ronaldinho di level U-18. Penampilannya melawan Burnley membuktikan ia siap bersaing di kerasnya Premier League.

Meskipun gagal mencetak gol kemenangan di Turf Moor, 10 menit cameo tersebut cukup untuk menegaskan satu hal: Manchester United memiliki permata yang siap dipoles, dan kali ini, ia tidak akan lagi terlupakan di bangku cadangan.