BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem hingga 25 Agustus 2025

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem hingga 25 Agustus 2025
Warga menerjang hujan deras di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta. (c) Liputan6.com/Faizal Fanani

Bola.net - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga 25 Agustus 2025.

Peringatan ini dirilis meskipun sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau. Cuaca ekstrem yang dimaksud berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Hujan tersebut juga berpotensi disertai kilat atau petir dan angin kencang. Fenomena ini diprediksi masih akan terjadi bahkan setelah perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

Menurut BMKG, kondisi cuaca yang tidak lazim ini dipicu oleh sejumlah faktor atmosfer yang kompleks. Beberapa fenomena global dan regional terpantau aktif secara bersamaan.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa aktivitas ini mendukung pembentukan awan hujan secara signifikan. Hal ini menyebabkan peningkatan curah hujan di berbagai daerah.

Kombinasi berbagai fenomena inilah yang membuat kondisi atmosfer menjadi lebih dinamis. Akibatnya, sejumlah wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang ditimbulkan.

Situasi ini mendorong sejumlah pihak, termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, untuk mengambil langkah mitigasi. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dan mempersiapkan diri menghadapi potensi cuaca ekstrem.

Pemicu Kompleks di Balik Cuaca Tak Lazim

Menurut Andri Ramdhani, terdapat beberapa faktor utama yang memengaruhi dinamika cuaca saat ini. Salah satunya adalah keberadaan sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Indonesia.

Sirkulasi ini secara langsung memengaruhi pola pergerakan angin di atmosfer. Kondisi tersebut kemudian membentuk area perlambatan dan belokan angin yang signifikan.

"Keberadaan sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Indonesia memengaruhi pola angin yang membentuk perlambatan dan belokan angin sehingga memperkuat aktivitas pembentukan awan hujan signifikan," kata Andri.

Faktor lainnya adalah nilai Dipole Mode yang terpantau negatif (-0.84). Angka ini berkontribusi meningkatkan pasokan uap air dari Samudra Hindia di bagian barat Sumatera.

Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) juga terdeteksi aktif dan memengaruhi potensi hujan. Fenomena ini diperkirakan aktif di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

"Kondisi atmosfer yang masih aktif dan kompleks ini berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, angin kencang, serta gelombang laut tinggi di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan," terang Andri.

Rincian Wilayah Terdampak dan Imbauan Kewaspadaan

BMKG telah merilis rincian wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem dalam dua periode. Periode pertama berlangsung pada tanggal 19 hingga 21 Agustus 2025.

Pada rentang waktu tersebut, cuaca secara umum akan didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan ringan. Namun, potensi hujan dengan intensitas lebih tinggi tetap perlu diwaspadai di sejumlah daerah.

"Meski begitu, hujan sedang hingga sangat lebat dan angin kencang masih akan berpotensi melanda sebagian besar wilayah di Indonesia, seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Bali, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, hingga Papua Selatan," papar dia.

Selanjutnya, untuk periode 22 hingga 25 Agustus 2025, prediksi cuaca menunjukkan pola yang serupa. Cuaca diperkirakan didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan.

"Rinciannya, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua, Sumatera Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan," ucap dia.

"Oleh sebab itu, selama periode tersebut BMKG mengimbau masyarakat agar siaga terhadap hujan lebat yang disertai angin kencang, petir, menjauhi wilayah terbuka, serta menjauhi pohon, bangunan dan infrastruktur yang sudah rapuh ketika terjadi hujan yang disertai petir dan angin kencang," tandas Andri.

Langkah Mitigasi dan Fenomena Kemarau Basah

Menyikapi potensi cuaca ekstrem, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah proaktif. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tahap keempat dilaksanakan untuk memitigasi risiko.

Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai 17 hingga 21 Agustus 2025. OMC merupakan hasil kolaborasi antara BPBD DKI Jakarta, BMKG, serta TNI Angkatan Udara.

"Langkah ini ditempuh sebagai bentuk mitigasi terhadap potensi peningkatan curah hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya pada periode 18-21 Agustus 2025," kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji.

Sementara itu, Peneliti Ahli Utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edvin Aldrian, menjelaskan fenomena yang terjadi. Menurutnya, Indonesia saat ini tengah mengalami periode kemarau basah.

"Istilah kami itu kemarau basah, bukan kemarau kering, basah," kata Edvin.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menegaskan bahwa OMC bertujuan mengatur distribusi hujan. Upaya ini dilakukan agar hujan tidak terkonsentrasi di wilayah yang rawan genangan dan banjir.