
Bola.net - Harga minyak dunia tercatat kompak melemah secara signifikan pada sesi perdagangan hari Rabu, (6/8/2025). Pelemahan ini sekaligus membawa harga minyak mentah acuan Brent dan juga WTI ke level terendah dalam lima minggu terakhir.
Faktor utama yang menjadi pemicu tekanan pada harga adalah sinyal yang datang dari pemerintah Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengindikasikan akan segera adanya sebuah pengumuman penting terkait potensi sanksi terhadap Rusia.
Para pelaku pasar kini sedang mencermati dengan sangat saksama perkembangan dari tensi geopolitik ini. Sanksi tersebut diketahui berkaitan dengan perang yang hingga saat ini masih terus berlangsung di kawasan Ukraina.
Selain itu, pasar juga turut dibayangi oleh rencana peningkatan produksi dari aliansi negara-negara pengekspor minyak, OPEC+. Langkah ini berpotensi untuk bisa menambah jumlah pasokan minyak mentah di pasar global dan menekan harga.
Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, satu-satunya faktor yang menjadi penopang harga adalah penurunan stok minyak mentah di Amerika Serikat. Lantas, bagaimana sebenarnya dinamika lengkap dari pergerakan harga komoditas yang sangat vital ini?
Ketidakpastian Sanksi AS untuk Rusia
Harga minyak mentah Brent dilaporkan turun sebesar 40 sen atau 0,59% ke level USD 67,24 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga ikut terkoreksi sebesar 51 sen atau 0,78% ke level USD 64,65.
Pelemahan ini menandai penurunan selama lima hari berturut-turut untuk kedua jenis minyak mentah acuan tersebut. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang sangat ditunggu oleh pasar.
Ia mengindikasikan akan ada sebuah pengumuman penting pada hari Rabu malam waktu setempat. Pengumuman tersebut berkaitan dengan kelanjutan sanksi potensial terhadap Rusia.
"Kami akan memberikan keterangan lebih lanjut tentang hal itu nanti hari ini," ujar Rubio.
"Mungkin akan ada beberapa pengumuman kenegaraan. Mungkin positif, mungkin juga tidak," sambungnya.
Pernyataan ini sontak menciptakan sebuah ketidakpastian yang sangat tinggi di pasar. Para pedagang kini memilih untuk bersikap hati-hati sambil menunggu pengumuman resmi dari pemerintah AS.
Sentimen dari Sisi Pasokan dan Permintaan
Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari meningkatnya pasokan minyak dari aliansi OPEC+. Kelompok ini sepakat untuk bisa meningkatkan produksi minyak sebesar 547.000 barel per hari untuk bulan September mendatang.
Analis dari Rystad Energy, Janiv Shah, mengatakan bahwa rencana peningkatan pasokan dari kelompok OPEC+ ini akan mampu mengimbangi potensi penurunan pasokan yang mungkin terjadi dari minyak Rusia. Hal inilah yang membuat harga cenderung bergerak turun.
Selain itu, ancaman perlambatan ekonomi global juga turut menjadi sentimen negatif. Para analis memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan melambat pada paruh kedua tahun ini.
JPMorgan bahkan menyebut bahwa risiko terjadinya resesi di AS saat ini terbilang cukup tinggi. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh pada tingkat permintaan minyak global.
Sementara itu, dari sisi penopang harga, pasar sempat mendapat dukungan dari penurunan persediaan minyak mentah di AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) menyatakan bahwa stok minyak mentah mereka turun sebesar 3,0 juta barel.
Penarikan stok ini jauh lebih besar dari perkiraan para analis yang hanya sebesar 0,6 juta barel. Namun, data ini masih lebih kecil dibandingkan data dari American Petroleum Institute (API) yang mencapai 4,2 juta barel.
Ancaman Tarif AS untuk India
Sebelumnya, harga minyak sebenarnya sempat naik di awal sesi perdagangan. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasokan setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif.
Perintah tersebut berisi ancaman pengenaan tarif tambahan sebesar 25% untuk barang-barang yang berasal dari India. Kebijakan ini diambil dengan alasan bahwa India secara langsung maupun tidak langsung telah mengimpor minyak dari Rusia.
Seperti diketahui, India bersama dengan Tiongkok merupakan pembeli utama dari minyak mentah Rusia. India sendiri tercatat sebagai pembeli minyak mentah lintas laut terbesar dari Rusia dengan impor sekitar 1,75 juta barel per hari.
Ancaman dari Trump ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang permintaan minyak global. Namun, pergerakan harga yang terbatas menunjukkan bahwa para pedagang masih skeptis akan terjadinya gangguan pasokan.
"Harga melonjak karena potensi tarif yang lebih tinggi terhadap India, tetapi pasar masih menunggu semacam implementasi formal serta elemen mana di pasar yang akan terpengaruh," kata Analis di Rystad Energy, Janiv Shah.
“Saya menyebutnya pasar minyak yang stabil. Asumsikan hal ini kemungkinan akan berlanjut sampai kita mengetahui apa yang diumumkan presiden AS terkait Rusia akhir pekan ini dan bagaimana reaksi para pembeli tersebut," ungkap Analis di UBS, Giovanni Staunovo.
Advertisement
Berita Terkait
-
News 6 Januari 2026 21:54CPNS 2026: Syarat Pendaftaran dan Waspada Hoaks yang Mengintai
-
News 6 Januari 2026 21:46Stiker Presiden di WhatsApp, Bisa Dipidana? Ini Penjelasan Menteri Hukum
-
News 5 Januari 2026 09:11Panduan Lengkap Skrining BPJS Kesehatan 2026: Begini Caranya!
-
News 4 Januari 2026 15:41Waspada Superflu H3N2! Dinkes DKI Minta Warga Perketat Pertahanan Diri dengan PHBS
LATEST UPDATE
-
Liga Champions 4 November 2026 15:00Arsenal Menang Mudah di Kandang Slavia Praha? Kayaknya Enggak Deh!
-
Liga Champions 4 November 2026 14:40Tantang Fenerbahce, Liverpool Nostalgia Malam Magis di Istanbul
-
Bola Indonesia 4 November 2026 14:15Tempat Menonton Melbourne Victory vs Persib, 4 November 2026
-
Bola Indonesia 4 November 2026 14:09Link Streaming Melbourne Victory vs Persib, 4 November 2026
-
Liga Champions 4 November 2026 14:00Bocah Ajaib Manchester United itu Bernama Shea Lacey
BERITA LAINNYA
-
news 31 Oktober 2026 17:13BRI Tulungagung dan PWI Salurkan 250 Paket Sembako untuk Warga Kampung Pemulung
-
news 27 Oktober 2026 17:27BRI Kepanjen Salurkan KUR Rp496 Miliar kepada 10 Ribu Nasabah, Dorong UMKM Naik Kelas
-
news 26 Oktober 2026 05:39BRI Tegaskan Komitmen Zero Tolerance terhadap Fraud dalam Kasus KUR Fiktif BRI Kepanjen
SOROT
-
Liputan6 4 November 2026 14:09Perintah Prabowo ke Kapolri soal Kasus Penyadapan Presiden
-
Liputan6 4 November 2026 13:48Prabowo Titip Pesan Khusus ke Guru Besar dan Akademisi
-
Liputan6 4 November 2026 13:00Cek Fakta: Hoaks Presiden Prabowo Bakal Batasi Media Sosial
-
Liputan6 4 November 2026 12:18Jenderal Listyo Tersangka Penyadapan Presiden, Istana: Mengarah ke Makar
-
Liputan6 4 November 2026 12:043 Pati Jadi Tersangka Penyadapan Prabowo, Polri Pastikan Tetap Solid
-
Liputan6 4 November 2026 11:52Fakta-fakta Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...
















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382832/original/057071200_1793012315-Prabowo_Subianto_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389827/original/042023800_1793774716-Screenshot_20261104_112322_Instagram.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389747/original/012986700_1793772599-Screenshot_2026-11-04_130915.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428980/original/030072900_1764569990-Presiden_dan_Kapolri_1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383805/original/006884000_1793099058-147653.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389393/original/091576400_1793712915-c78527e7-754a-4d24-807e-5ed68e31d421.jpg)
