Jejak Klasterku Hidupku BRI di Desa Wisata Sanankerto, Bantu Warga Akses Modal Usaha Tanpa Agunan

Jejak Klasterku Hidupku BRI di Desa Wisata Sanankerto, Bantu Warga Akses Modal Usaha Tanpa Agunan
Salah satu lapak di wisatan Boon Pring yang menerima program Klasterku Hidupku dari BRI (c) Asad Arifin

Bola.net - Di bawah rimbun bambu yang mengelilingi kawasan wisata Boon Pring, aktivitas ekonomi tumbuh perlahan namun konsisten. Di sisi danau utama yang menjadi pusat wisata Desa Sanankerto, deretan lapak kecil berdiri rapat, menawarkan bakso, cilok, mi ayam, es krim, hingga kerajinan tangan kepada para pengunjung.

Suasana siang itu, Kamis (14/5/2026), di Boon Pring, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, terasa teduh. Air danau yang berasal dari mata air alami memantulkan bayangan ratusan jenis bambu yang menjadi identitas utama kawasan wisata tersebut.

Namun, di balik ketenangan arboretum itu, ada cerita panjang tentang bagaimana desa wisata ini membangun denyut ekonominya. Salah satu jejak yang masih terlihat hingga hari ini datang dari program Klasterku Hidupku milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

Program pemberdayaan UMKM tersebut mulai hadir di Sanankerto sejak 2017, jauh sebelum desa itu dikenal luas sebagai salah satu desa wisata berkembang di Malang Raya.

Jejak program itu masih mudah ditemukan melalui papan bertuliskan “Klasterku Hidupku” yang terpampang di depan sejumlah lapak usaha di sisi kanan danau utama Boon Pring.

Dari Modal Tanpa Agunan bagi Pelaku Usaha di Boon Pring

Dari Modal Tanpa Agunan bagi Pelaku Usaha di Boon Pring

Desa Wisata Sanankerto berkembang lewat program Desan BRIlian pada 2021 lalu (c) Asad Arifin

Boon Pring kini menjadi salah satu wajah penting Desa Wisata Sanankerto. Kawasan itu bukan hanya menawarkan wisata alam berbasis konservasi bambu, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi warga yang menggantungkan ekonomi dari aktivitas wisata.

Pada 2021, Sanankerto masuk dalam program Desa BRIlian dan menerima bantuan senilai Rp1 miliar untuk pengembangan potensi desa. Bantuan tersebut digunakan untuk memperkuat daya saing desa wisata sekaligus mendorong dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.

Namun, hubungan antara Sanankerto dan BRI ternyata telah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Melalui Klasterku Hidupku, BRI mulai menyasar pelaku usaha kecil yang tumbuh di sekitar kawasan wisata Boon Pring.

Program itu fokus pada pengembangan kelompok usaha berdasarkan kesamaan sektor produksi, wilayah, dan karakter usaha. Pendekatan tersebut membuat para pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan akses modal, tetapi juga ruang untuk berkembang bersama dalam satu ekosistem.

Elen menjadi salah satu warga yang merasakan langsung dampak program tersebut. Perempuan yang kini masih berjualan di kawasan Boon Pring itu mengingat bagaimana BRI memberikan akses modal usaha tanpa meminta jaminan.

"Saat itu, saya ambil Rp20 juta. Tidak ada jaminan. Jangka waktu angsurannya selama dua tahun. Tapi setiap orang beda-beda, tergantung kebutuhan mereka dan jenis usahanya," kata Elen saat ditemui pada Kamis, 14 Mei 2026.

Modal itu kemudian dipakai Elen untuk membuka usaha bakso dan cilok. Usaha kecil tersebut bertahan hingga sekarang, meski ia mengaku sudah tidak lagi mengambil pinjaman setelah pandemi Covid-19 melanda.

"Saya sekarang sudah tidak ambil pinjaman lagi. Terakhir tahun 2017 karena setelah itu kan ada Covid-19 jadi kita tidak berani ambil pinjaman. Tapi, banyak warga lain yang masih lanjut jadi nasabah BRI," ucapnya.

BRI Bangun Ekosistem Usaha Desa

BRI Bangun Ekosistem Usaha Desa

Tito Witarnawan, Regional Micro Banking Head BRI Region Malang (c) Dok. Asad Arifin

Cerita seperti Elen bukan satu-satunya di Boon Pring. Banyak pelaku usaha lain memanfaatkan program tersebut untuk mengembangkan usaha kecil mereka, mulai dari kuliner hingga penjualan suvenir wisata.

Bagi warga, akses modal tanpa agunan menjadi faktor penting yang membuat program itu diminati. Terlebih, sebagian besar pelaku usaha di kawasan wisata merupakan usaha mikro yang sebelumnya sulit menjangkau layanan pembiayaan formal.

Regional Micro Business Head BRI Malang, Tito Witarnawan, mengatakan BRI memang memiliki perhatian khusus terhadap pengembangan potensi ekonomi desa. Menurutnya, desa wisata seperti Sanankerto memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.

"Desa-desa yang memiliki potensi, baik dari sisi usaha maupun pengembangan BUMDes, akan terus didorong. Dari situ, peluang akses pembiayaan juga terbuka, sehingga tercipta ekosistem yang saling terhubung," ucapnya.

Tito menjelaskan, konsep Klasterku Hidupku tidak terbatas pada satu jenis usaha tertentu. Program itu dirancang untuk mengelompokkan pelaku usaha sejenis dalam satu wilayah agar lebih mudah berkembang melalui pendampingan dan pembinaan bersama.

"Ini merupakan pengelompokan pelaku usaha sejenis dalam satu wilayah. Misalnya, delapan pelaku usaha buah naga dapat dibentuk menjadi satu klaster. Hingga April, jumlah klaster usaha telah mencapai sekitar 7.300," ucapnya.

Menurut Tito, bantuan yang diberikan BRI juga tidak berhenti pada akses modal usaha. Para pelaku UMKM mendapatkan pelatihan, pendampingan, hingga dukungan sarana produksi agar usaha mereka bisa naik kelas.

"Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas usaha mereka. Setelah berkembang dan mulai bank-able, mereka diarahkan untuk mengakses layanan perbankan, termasuk pengajuan KUR," ucapnya.

Tentang Klasterku Hidupku

Tentang Klasterku Hidupku

Salah satu lapak di wisatan Boon Pring yang menerima program Klasterku Hidupku dari BRI (c) Asad Arifin

Program Klasterku Hidupku merupakan program pemberdayaan UMKM dari BRI yang berfokus pada pelatihan dan pendampingan kelompok usaha yang sama dalam satu wilayah.

Selain itu, pelaku usaha juga dapat memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk memperoleh modal tanpa agunan tambahan hingga Rp100 juta.

Persyaratan utama pengajuan Klasterku Hidupku, pastikan dokumen berikut lengkap agar proses survei dan pengajuan berjalan lancar:

  • WNI berusia minimal 21 tahun atau sudah menikah.
  • Usaha produktif telah berjalan minimal enam bulan.
  • Melampirkan KTP elektronik, Kartu Keluarga (KK), dan Surat Keterangan Usaha (SKU) dari desa atau kelurahan setempat.
  • Tidak sedang menerima kredit produktif dari bank lain, kecuali KPR atau KKB, serta memiliki riwayat kredit yang lancar.

Pengurusan Izin Usaha

Untuk mempermudah legalitas usaha, pelaku UMKM disarankan mendaftarkan usahanya melalui sistem Online Single Submission (OSS). Melalui layanan tersebut, pelaku usaha dapat mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) dan perizinan lainnya agar usaha lebih mudah berkembang dan diakui secara resmi.