Pentingnya Kesehatan Mental di MotoGP: Kisah Honda Bantu Jorge Lorenzo Lepas dari Depresi

Anindhya Danartikanya | 5 Januari 2022 13:15
Jorge Lorenzo saat membela Repsol Honda di MotoGP 2019. (c) HRC

Bola.net - Jorge Lorenzo diketahui berkali-kali menyatakan dirinya sempat mengalami depresi usai terdepak dari Ducati Team pada awal musim MotoGP 2018 lalu. Kepada DAZN, seperti yang dikutip Speedweek pada Selasa (4/1/2022), ia pun mengaku itu adalah salah satu masa-masa terkelam dalam kariernya di ajang balap motor.

Lorenzo memang hengkang dari Yamaha ke Ducati pada 2017 dan diharapkan langsung jadi juara. Sayang, ia malah puasa kemenangan selama 1,5 tahun dan sulit adaptasi dengan Desmosedici. Melihat Lorenzo tak kunjung menang, Ducati pun pada awal 2018 mengambil keputusan menggantinya dengan Danilo Petrucci untuk 2019.

Sang lima kali juara dunia pun pontang-panting mencari tim pabrikan lain untuk 2019, namun opsi terbaiknya adalah Petronas Yamaha SRT yang justru berstatus tim satelit. Jika bergabung dengan tim itu, Lorenzo juga dipastikan takkan dapat motor pabrikan teranyar. Situasi ini pun membuatnya sangat sedih dan kehilangan motivasi.

"Saya agak depresi, karena kala itu saya memahami bahwa saya takkan punya motor pabrikan pada 2019. Padahal, saya merasa pada momen terbaik dalam karier saya. Saya melihat segalanya secara negatif dan hanya ingin tidur. Entah apakah itu depresi ringan atau sekadar momen yang kelam. Tapi yang jelas saya sangat sedih," kisah Lorenzo.

1 dari 2 halaman

Sempat Ogah-ogahan Latihan karena Galau

Jorge Lorenzo saat membela Ducati Team di MotoGP 2018. (c) AFP

Namun, semua berubah ketika Dani Pedrosa memutuskan pensiun, hingga satu tempat di Repsol Honda kosong untuk 2019. Honda Racing Corporation (HRC) mempertimbangkan kans untuk menggaet Lorenzo, dan meminta Manajer Tim Repsol Honda, Alberto Puig, meneleponnya. Puig pun membeberkan kisah versinya mengenai momen itu.

"Kala itu Jorge mengalami momen berat di Ducati. Situasinya tak sesuai rencana dan ia mengalami beberapa masalah. Honda pun memutuskan bicara dengannya, dan saya ingat ketika saya meneleponnya. Kami tak langsung menyepakati apa pun, namun kami sama-sama punya ide soal apa yang harus dilakukan," ujar Puig.

Hilangnya motivasi Lorenzo juga dikonfirmasi oleh pelatih fisiknya kala itu, Ivan Lopez. Lopez menyebut Lorenzo malas-malasan berlatih sebelum Puig menelepon. "Kala itu kami berada di sebuah hotel di Barcelona. Saya pun membawakan sepeda untuk latihan di kamarnya, karena ia tak mau latihan," tuturnya.

2 dari 2 halaman

Motivasi Langsung Kembali Usai Sepakat dengan Honda

Jorge Lorenzo saat memenangi MotoGP Italia 2018 di Mugello. (c) Ducati

Lopez pun mengaku sampai harus memaksa Lorenzo untuk latihan. "Jorge sangat ragu untuk mengayuh sepedanya, sampai Alberto meneleponnya. Ketika mereka selesai bicara, Jorge memeluk saya dan melompat-lompat di atas kasur, 'Aku dapat tempat! Aku dapat!' Momen itu mengubah perilakunya," lanjut Lopez.

Usai kesepakatan dengan Honda akhirnya tercapai, Lorenzo pun kembali menemukan motivasi, dan bahkan menggebrak dengan kemenangan besar di Mugello dan Catalunya di atas Ducati. Peristiwa itu membuat Ducati banjir kritik karena terlalu dini ambil keputusan mendepak Lorenzo dan menggantinya dengan Petrucci.

"Pembalap yang sama bisa ada di posisi terbaik jika punya kepercayaan diri dan mental yang baik, begitu pula jika fisiknya bugar, serta nyaman dengan motor dan timnya. Saat semuanya bersatu, seorang rider bisa tampil jauh lebih superior dari lainnya," tutup Lorenzo, yang sayangnya dirundung cedera punggung pada 2019 dan harus pensiun.

Sumber: DAZN, Speedweek

Berita Terkait

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR