Meksiko dan Piala Dunia: Negeri yang Mengabadikan Pele dan Maradona dalam Sejarah

Meksiko dan Piala Dunia: Negeri yang Mengabadikan Pele dan Maradona dalam Sejarah
Azteca Stadium di Mexico City akan menjadi tuan rumah pembukaan Piala Dunia 2026 FIFA. (c) AP Photo/Fernando Llano

Bola.net - Ketika dunia berbicara tentang Piala Dunia, ada beberapa negara yang identik dengan trofi juara seperti Brasil, Jerman, atau Argentina. Namun, ada satu negara yang memiliki hubungan berbeda dengan turnamen terbesar sepak bola tersebut. Negara itu adalah Meksiko.

Meksiko memang belum pernah menjuarai Piala Dunia. Namun, negara di Amerika Utara itu telah menjadi panggung bagi sejumlah momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola.

Di tanah Meksiko, dua legenda terbesar olahraga ini, Pele dan Diego Maradona, meninggalkan warisan yang masih dikenang hingga sekarang.

Pada tahun 2026 ini, Meksiko kembali mencatat sejarah dengan menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk ketiga kalinya.

Sebelumnya, mereka sukses menggelar turnamen pada 1970 dan 1986, dua edisi yang hingga kini dianggap sebagai salah satu yang paling berkesan dalam sejarah FIFA.

Awal Hubungan Panjang Meksiko dengan Piala Dunia

Awal Hubungan Panjang Meksiko dengan Piala Dunia

Stadion Azteca, salah satu venue Piala Dunia 2026 (c) AP Photo/Fernando Llano

Hubungan Meksiko dengan Piala Dunia sebenarnya sudah dimulai sejak turnamen perdana pada 1930. Tim nasional Meksiko termasuk salah satu peserta dalam edisi pertama yang digelar di Uruguay.

Meski prestasi mereka di lapangan tidak selalu gemilang, Meksiko secara perlahan membangun reputasi sebagai salah satu negara sepak bola terpenting di kawasan CONCACAF. Mereka menjadi peserta reguler Piala Dunia dan membangun budaya sepak bola yang sangat kuat.

Peran Meksiko semakin besar ketika FIFA memilih negara tersebut sebagai tuan rumah Piala Dunia 1970. Keputusan itu bersejarah karena untuk pertama kalinya turnamen digelar di luar Eropa dan Amerika Selatan.

Bagi FIFA, Meksiko menawarkan sesuatu yang berbeda. Negara tersebut memiliki stadion-stadion modern, basis penggemar yang fanatik, serta atmosfer yang mampu mengubah Piala Dunia menjadi sebuah perayaan budaya global.

Piala Dunia 1970: Saat Pele Menyentuh Keabadian

Piala Dunia 1970: Saat Pele Menyentuh Keabadian

Seorang pekerja sedang membawa perlengkapan kerja dalam proses renovasi Azteca Stadium jelang pembukaan Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Marco Ugarte

Piala Dunia 1970 sering disebut sebagai salah satu turnamen terbaik sepanjang masa. Turnamen ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan sepak bola modern.

Edisi tersebut merupakan Piala Dunia pertama yang disiarkan secara berwarna ke berbagai penjuru dunia. Selain itu, teknologi tayangan ulang gerak lambat semakin memperkaya pengalaman penonton yang menyaksikan pertandingan dari rumah.

Namun, daya tarik terbesar tentu datang dari Timnas Brasil yang dipimpin Pele. Di Stadion Azteca, Mexico City, Pele memimpin Brasil meraih gelar juara dunia ketiga setelah mengalahkan Italia 4-1 di final.

Itu menjadi penampilan terakhir sang legenda di Piala Dunia sekaligus momen yang mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa.

Turnamen tersebut juga melahirkan sejumlah pertandingan klasik, termasuk semifinal legendaris antara Italia dan Jerman Barat yang kemudian dikenal sebagai "Game of the Century".

Bagi banyak penggemar sepak bola, Meksiko 1970 bukan sekadar turnamen. Itu adalah titik ketika sepak bola berubah menjadi tontonan global yang benar-benar mendunia.

Estadio Azteca, Panggung Para Dewa Sepak Bola

Jika ada satu tempat yang paling identik dengan sejarah Piala Dunia di Meksiko, maka jawabannya adalah Estadio Azteca.

Stadion yang dibuka pada 1966 itu menjadi salah satu arena paling bersejarah dalam dunia sepak bola. Di sinilah Pele mengangkat trofi Jules Rimet pada 1970.

Enam belas tahun kemudian, stadion yang sama kembali menjadi pusat perhatian dunia.

Hingga saat ini, Azteca tetap menjadi satu-satunya stadion yang pernah menggelar dua final Piala Dunia pria, yakni pada 1970 dan 1986. Pada 2026, stadion tersebut kembali digunakan sehingga menjadi venue pertama yang menjadi bagian dari tiga edisi Piala Dunia berbeda.

Bagi penggemar sepak bola, Azteca bukan hanya bangunan beton raksasa. Stadion ini merupakan saksi hidup perjalanan sejarah olahraga paling populer di dunia.

Piala Dunia 1986: Ketika Maradona Menulis Takdirnya

Meksiko sebenarnya tidak direncanakan menjadi tuan rumah Piala Dunia 1986. Kolombia yang semula ditunjuk FIFA mengundurkan diri karena masalah ekonomi.

Dalam situasi tersebut, Meksiko maju dan mengambil alih penyelenggaraan turnamen. Hasilnya justru luar biasa.

Jika 1970 adalah panggung milik Pele, maka 1986 menjadi milik Diego Maradona. Legenda Argentina itu menghasilkan salah satu penampilan individu terbaik dalam sejarah olahraga.

Di perempat final melawan Inggris, Maradona mencetak dua gol yang sama-sama abadi. Gol pertama dikenal sebagai "Hand of God" karena tercipta melalui sentuhan tangan yang luput dari pengamatan wasit.

Beberapa menit kemudian, ia mencetak gol yang dianggap banyak pihak sebagai gol terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia setelah menggiring bola melewati sejumlah pemain Inggris dari tengah lapangan.

Dua momen tersebut terjadi di Estadio Azteca dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas stadion tersebut.

Maradona kemudian membawa Argentina menjadi juara dunia setelah mengalahkan Jerman Barat di final.

Sejak saat itu, nama Meksiko selalu muncul setiap kali dunia mengenang kisah terbesar dalam sejarah Piala Dunia.

Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Kekuatan Meksiko sebagai tuan rumah tidak hanya terletak pada stadion atau infrastruktur. Sepak bola telah menjadi bagian penting dari identitas budaya negara tersebut.

Jauh sebelum sepak bola modern diperkenalkan oleh para pekerja dan penambang Inggris pada akhir abad ke-19, masyarakat Mesoamerika telah mengenal permainan bola ritual yang menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan mereka.

Ketika sepak bola modern masuk ke kota-kota seperti Pachuca, Orizaba, dan Mexico City, olahraga itu dengan cepat berakar kuat di masyarakat.

Hasilnya adalah budaya sepak bola yang unik, penuh gairah, emosional, dan melintasi batas kelas sosial maupun wilayah geografis.

Tak heran jika setiap Piala Dunia yang digelar di Meksiko selalu memiliki nuansa berbeda dibandingkan negara lain.

Menatap Babak Baru pada 2026

Piala Dunia 2026 akan menjadi yang terbesar dalam sejarah dengan melibatkan 48 tim dan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko.

Meski hanya menjadi salah satu dari tiga tuan rumah, Meksiko tetap memegang peran simbolis yang sangat kuat. Estadio Azteca akan menggelar laga pembuka dan kembali menjadi pusat perhatian dunia sepak bola.

Lebih dari setengah abad setelah Pele mengangkat trofi dan empat dekade sejak Maradona menciptakan keajaiban, dunia kembali datang ke Meksiko.

Bukan hanya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola, tetapi juga untuk mengunjungi sebuah negeri yang telah menjadi bagian dari mitologi Piala Dunia itu sendiri.