Kolom: Saya Menjagokan Italia di Euro 2020

Asad Arifin | 11 Juni 2021 12:56
Giacomo Raspadori akan tampil habis-habisan untuk membayar kepercayaan Roberto Mancini yang memanggilnya ke skuad Italia menuju Euro 2020 (c) AFP/Jure Makovec

Bola.net - Bicara soal kejuaraan sepak bola antarnegara di Eropa yang satu ini, UEFA Euro Championship, selalu menggugah memori pahit-manis secara bersama-sama. Lebih dari dua dekade lalu, saya mengawali ulasan-ulasan resmi saya di ranah media sebagai wartawan olahraga pada Euro 2000. Pada panggung besar di Belanda-Belgia itulah saya menangisi kekalahan Italia dari Prancis di final lewat tragedi gol emas yang menyesakkan dada.

Aturan gol emas di mana pencetak gol pemecah skor imbang di babak extra time dinyatakan keluar sebagai pemenang memang bertujuan mulia yaitu memancing kedua tim bermain ofensif ketimbang sekadar berjuang mempertahankan status quo guna menguji keberuntungan di fase adu tendangan penalti. Namun, dalam dua praktiknya di dua final Piala Eropa berturutan justru membuat laga pemuncak berujung hambar.

Antiklimaks pertama terjadi pada Euro 96 di Inggris kala Jerman menaklukkan Republik Ceska 2-1 lewat gol penentuan yang lahir dari kaki Oliver Bierhoff di menit ke-5 babak extra time. Sedangkan tangis saya pecah ketika empat tahun berikutnya Gli Azzurri takluk 1-2 akibat gol pamungkas David Trezeguet di menit ke-13 fase perpanjangan waktu.

Hati saya yang berbunga-bunga saat Marco Delvecchio membawa Italia unggul pada menit ke-55 langsung berkerut ketika Sylvain Wiltord menyamakan kedudukan di injury time dan bak luka yang digarami akhirnya Azzurri terbunuh sebuah gol emas. Alih-alih semua sepakat bahwa tim dengan determinasi kuat hingga akhir memang layak jadi pemenang, justru FIFA dan UEFA pun mengamini bahwa setiap tim seharusnya mendapatkan kesempatan untuk membalas gol hingga pertandingan berjalan penuh ---dan tidak dihentikan ketiga gol emas tercipta.

1 dari 3 halaman

Euro 88 Masih yang Terbaik

Sebagian besar, karena alasan itu jugalah kemudian aturan gol emas dihapus dan kembali ke format klasik dengan babak extra time berjalan penuh plus adu tendangan penalti bila skor tetap imbang. Jadi, perubahan diambil atas alasan sportivitas dan semangat bersaing hingga akhir, bukan sekadar lantaran protes dari pihak yang kalah semata.

Nah, bukan lantaran ingin mengobati luka lama juga jika penulis di Euro 2020 yang digelar pada 2021 ini menjagokan Italia. Bila sekadar ingin mengikuti intuisi tanpa logika, saya akan menjagokan Belanda yang tampil sangat penuh greget dalam kejuaraan Eropa terbaik versi saya sendiri hingga kini, Euro 88.

Italia hanya pernah menang sekali di kancah ini, yaitu pada 1968 dengan cara yang tidak terlalu mengesankan pula. Kala itu Azzurri unggul 2-0 atas Yugoslavia (yang kini pecah menjadi Serbia, Montenegro, Kosovo, Kroasia, dan Slovenia) dalam sebuah laga final ulangan lantaran duel final sesungguhnya sempat berakhir imbang 1-1 hingga 120 menit.

2 dari 3 halaman

Mancini Pas untuk European Touring

Dari 24 negara yang menjadi kontestan di panggung Euro 2020 yang digelar pada 11 kota di 11 negara ini, saya menjagokan Italia karena faktor pelatihnya, Roberto Mancini. Lelaki flamboyan berusia 56 tahun ini adalah figur italiano yang paling kosmopolitan yang pernah ada. Saat masih bermain sebagai striker ia pernah mencicipi berbaju Leicester yang saat itu sangat tidak banyak dikenal orang.

Selepas membawa Manchester City menjadi juara Liga Premier sebagai pelatih, ia pun di luar dugaan menerima pinangan Galatasaray untuk menjajal keganasan liga Turki. Puncaknya, saya sungguh terkejut ketika Mancio secara “brutal” keluar dari sangkar emas Serie A untuk menyambangi Rusia dengan melatih Zenit Saint Petersburg empat tahun silam.

Dari sisi teknis sebagai pemain dan pelatih tidak ada yang meragukan kapasitas pria asal Ancona di Italia tengah ini. Namun, kelenturannya yang mampu beradaptasi di tengah-tengah kultur dan geopolitik yang berbeda penulis nilai sebagai kekuatan potensial yang luar biasa di tengah perebutan Piala Eropa berbasis format “european touring” kali ini (11 kota tuan rumah di 11 negara).

3 dari 3 halaman

Bursa Menjagokan Inggris

Ya, dengan berbagai kendala, termasuk pembatasan penonton karena pandemi Covid-19, dibutuhkan seorang leader yang “unik dan luar biasa” untuk merengkuh hasil terbaik. Dengan hanya Puskas Arena di Budapest (Hongaria) yang diizinkan UEFA untuk dijejali 100% penonton (67 ribu) dengan seleksi masuk yang ketat, maka ingar bingar turnamen pada akhirnya hanya terasa “di rumah saja” tanpa sokongan yang terasa geliatnya secara langsung oleh negara-negara kontestan.

Dengan poros Leonardo Bonucci, Marco Verratti, Andrea Belotti, sebagai pilar kerangka tim Italia, penulis meyakini ketahanan Giacomo Raspadori dkk. untuk menyelesaikan european touring sebagai juara sangatlah kuat. Mereka layak jadi juara di tengah situasi yang sungguh-sungguh luar biasa ini. Tanpa sentimen utara versus selatan yang banyak mengisi benak dan hati orang Italia, Mancini yang kelahiran wilayah tengah negara berbentuk kaki menendang bola itu akan menjadi perekat ---tidak hanya untuk Italia tapi juga untuk Eropa.

Well, Italia sebenarnya ada di posisi unggulan kelima di bawah Inggris, Prancis, Belgia dan Spanyol (Belanda malah hanya ada di posisi ke-8), namun hati dan pikiran penulis tetap mengunggulkan tim negeri pizza itu. Mari simak bersama Euro 2020 ini dari rumah saja, pembaca. Semoga european touring ini tidak menyajikan partai final yang antiklimaks karena faktor kelelahan dan aura stadion yang setengah penuh.

Darojatun

*Penulis adalah wartawan, VP Operations dan Editor in Chief untuk Bola.com serta Bola.net, kolom ini berisi wawasan pribadi yang terlepas dari sikap kolektif insitusi.

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR