Alasan Inter Milan yang Puncaki Serie A Bisa Kalah di Markas Bodo/Glimt: Main Setengah Hati hingga Lautaro Martinez Cedera

Ari Prayoga | 19 Februari 2026 09:19
Alasan Inter Milan yang Puncaki Serie A Bisa Kalah di Markas Bodo/Glimt: Main Setengah Hati hingga Lautaro Martinez Cedera
Kasper Hogh dan Francesco Acerbi berebut bola dalam laga Liga Champions antara Bodo Glimt vs Inter Milan di Aspmyra Stadion, 19 Februari 2026 (c) Thomas Andersen/NTB Scanpix via AP

Bola.net - Langkah Inter Milan di babak playoff Liga Champions tersendat. Bertandang ke markas Bodo/Glimt, Nerazzurri takluk 1-3 pada leg pertama, hasil yang memaksa mereka berada di ujung tanduk jelang laga penentuan di San Siro pekan depan.

Kekalahan ini memang tidak sepenuhnya mengejutkan. Bodo/Glimt musim ini telah membuktikan diri sebagai kuda hitam berbahaya dengan menumbangkan raksasa seperti Manchester City dan Atletico Madrid.

Advertisement

Namun, bagi Inter yang musim lalu mencapai final Liga Champions 2025, performa di Norwegia tetap menjadi sinyal peringatan serius.

1 dari 4 halaman

Start Buruk dan Respons Setengah Hati

Start Buruk dan Respons Setengah Hati

Pemain Inter Milan, Carlos Augusto berduel pemain Bodo/Glimt, Kasper Hogh dan Ole Didrik Blomberg dalam pertandingan Liga Champions, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB. (c) Thomas Andersen/NTB Scanpix via AP

Inter sempat menunjukkan perlawanan. Tuan rumah membuka skor lewat Sondre Fet di babak pertama, sebelum Francesco Pio Esposito menyamakan kedudukan jelang turun minum.

Gol tersebut menjadi yang kedua bagi penyerang muda Italia itu dalam beberapa hari terakhir, setelah sebelumnya mencetak gol krusial saat Inter mengalahkan Juventus di Serie A.

Namun selepas jeda, wajah Inter berubah. Alih-alih tampil lebih agresif, tim asuhan Cristian Chivu justru kehilangan intensitas. Bodo/Glimt memanfaatkan momentum dan atmosfer stadion dengan sempurna.

Mantan striker AC Milan, Jens Petter Hauge, serta Kasper Hogh menambah dua gol yang memastikan kemenangan 3-1 bagi wakil Norwegia.

Rotasi besar yang dilakukan Chivu tampak tak berjalan efektif. Inter kesulitan mengimbangi tempo permainan cepat tuan rumah, terlebih di atas lapangan sintetis dan dalam cuaca dingin ekstrem Norwegia.

2 dari 4 halaman

Cedera Lautaro dan Bayang-bayang San Siro

Cedera Lautaro dan Bayang-bayang San Siro

Fredrik Sjovold dan Lautaro Martinez berebut bola dalam laga Liga Champions antara Bodo Glimt vs Inter Milan di Aspmyra Stadion, 19 Februari 2026 (c) Thomas Andersen/NTB Scanpix via AP

Masalah Inter tak berhenti di papan skor. Kapten sekaligus ujung tombak mereka, Lautaro Martinez, harus ditarik keluar akibat dugaan cedera otot. Kondisinya akan dievaluasi setibanya tim di Italia, situasi yang tentu membuat staf pelatih cemas.

Sebelum leg kedua digelar Selasa mendatang di San Siro, Inter lebih dulu bertandang ke markas Lecce dalam lanjutan Serie A. Jadwal padat ini bisa menjadi ujian fisik dan mental tambahan bagi Nerazzurri.

Ironisnya, kabar relatif positif justru datang dari laga lain di San Siro, ketika AC Milan bermain imbang 1-1 melawan Como. Hasil tersebut membuat rival sekota Inter tertinggal tujuh poin di klasemen, dengan Derby della Madonnina yang semakin mendekat sebagai laga krusial perebutan Scudetto 2025/2026.

3 dari 4 halaman

Misi Nyaris Mustahil?

Misi Nyaris Mustahil?

Pemain Bodo/Glimt Sondre Brunstad Fet mencetak gol ke gawang Inter Milan pada laga Liga Champions Bodo/Glimt vs Inter di Bodo, Norwegia, Rabu, 18 Februari 2026 (c) Thomas Andersen/NTB Scanpix via AP

Secara matematis, peluang Inter belum tertutup. Untuk lolos ke fase berikutnya, mereka wajib menang minimal dua gol guna memaksakan perpanjangan waktu.

Kemenangan dengan selisih lebih dari dua gol akan langsung mengantar mereka ke babak berikutnya. Sebaliknya, kemenangan satu gol, hasil imbang, atau kekalahan berarti eliminasi.

Tantangannya jelas: Inter harus tampil dengan mentalitas berbeda. Bodo/Glimt mungkin bukan lawan paling glamor di Eropa, tetapi mereka telah membuktikan kualitasnya.

Jika Nerazzurri gagal bangkit di San Siro, bukan hanya tiket ke babak selanjutnya yang melayang, tetapi juga status mereka sebagai salah satu kandidat kuat juara musim ini.

Bagi Chivu dan anak asuhnya, leg kedua bukan sekadar pertandingan, melainkan ujian karakter.

LATEST UPDATE