5 Pahlawan yang Pulang dan Memberi Efek Besar Pada Klub Lamanya

Editor Bolanet | 20 November 2014 15:58
5 Pahlawan yang Pulang dan Memberi Efek Besar Pada Klub Lamanya

Bola.net - Bola.net - Sepak bola memang penuh kejutan dan ketidakpastian, utamanya dalam dunia transfer. Hal tersebut bisa datang dalam bentuk perekrutan atau penjualan pemain yang tak terduga, hingga memulangkan mantan pemain yang sebenarnya sudah melewati masa keemasannya.

Kendati demikian, para pahlawan yang pulang ke klub tempat mereka berjaya itu tetap mampu memberikan efek positif pada masa pengabdian mereka yang kedua kalinya.

Advertisement

Siapa sajakah pemain-pemain tersebut? Berikut ini rangkumannya.

1 dari 5 halaman

Thierry Henry

Thierry Henry

Raja Arsenal, Thierry Henry merupakan sosok yang paling dipuja para fans The Gunners. Selain menjadi top skorer sepanjang masa klub, Henry juga sukses menghadirkan banyak gelar bagi klub asa London Utara tersebut.

Namun pada tahun 2007 Henry meninggalkan Arsenal untuk menggapai mimpinya menjuarai Liga Champions bersama Barcelona. Setelah tujuannya tercapai, Henry memutuskan untuk bergabung dengan klub MLS, New York Red Bulls pada tahun 2010.

Sang raja akhirnya pulang pada tahun 2012, meski hanya dalam jangka waktu dua bulan saja. Walau hanya bermain sebanyak empat kali, Henry sukses menjadi pahlawan kemenangan di partai melawan Sunderland yang sekaligus menjadi laga pamungkasnya.

Andai saat itu Arsenal mengakhiri laga dengan hasil imbang, bukan mereka melainkan rival abadi mereka, Tottenham Hotspur yang akan berlaga di Liga Champions pada musim berikutnya.
2 dari 5 halaman

Jurgen Klinsmann

Jurgen Klinsmann

Pada tahun 1994, Jurgen Klinsmann meninggalkan AS Monaco untuk bergabung dengan Tottenham Hotspur. Meski sempat tidak disukai akibat tragedi Piala Dunia 1990 antara Inggris dan Jerman, Klinsmann dengan cepat mengambil hati para fans berkat gol-gol dan sikap pantang menyerah yang ditunjukkannya.

Hanya semusim membela Tottenham, Klinsmann kemudian hijrah ke Bayern Munich untuk memenangkan trofi Bundesliga dan UEFA Cup. Sempat hijrah ke Sampdoria pada tahun 1997, Klinsmann kemudian kembali ke Tottenham dengan status pinjaman di tahun yang sama.

Jika sosok Thierry Henry mampu mengamankan satu tempat ke Liga Champions bagi Arsenal, Klinsmann justru memberikan dampak yang lebih besar. Pria asal Jerman ini mencetak empat gol di kemenangan 6-2 atas Wimbledon yang sekaligus menyelamatkan Spurs dari degradasi.
3 dari 5 halaman

Johan Cruyff

Johan Cruyff

Pesepakbola yang tumbuh dan berkembang dari akademi Ajax, Johan Cruyff telah meraih banyak kesuksesan bersama The Amsterdamers. Selain 6 trofi Eredivise dan 5 KNVB Cup, Cruyff sukses membawa Ajax menjuarai Liga Champions tiga kali secara beruntun.

Pada tahun 1973 Cruyff meninggalkan Ajax untuk bergabung ke Barcelona. Setelah masa baktinya bersama raksasa Catalan itu habis, Cruyff sempat bermain bagi Los Angeles Aztecs, Washington Diplomats, dan Levante sebelum akhirnya pulang ke Ajax.

Meski saat itu usianya sudah memasuki 34 tahun, ia membuktikan bahwa dirinya masih bisa bermain kompetitif di level tertinggi. Hal itu dibuktikan Cruyff dengan membantu Ajax meraih 2 trofi Eredivise secara beruntun dan 1 KNVB Cup.
4 dari 5 halaman

Ian Rush

Ian Rush

Ditransfer dari Chester City, Ian Rush bergabung ke Liverpool pada tahun 1980. Bersama The Reds, Rush meraih banyak gelar termasuk 4 trofi First Division (sekarang Premier League) dan 2 Liga Champions.

Berkat performa yang ditampilkannya raksasa Serie A, Juventus merekrut Rush pada tahun 1987. Kerja samanya bersama Si Nyonya Tua ternyata hanya berjalan satu musim saja. Musim berikutnya ia memutuskan untuk pulang ke Anfield.

Di masa baktinya yang kedua, Rush membantu Liverpool menjuarai 1 trofi First Division, 2 FA Cup, 1 Piala Liga, dan 1 Charity Shield. Selain itu, ia juga berhasil menahbiskan dirinya menjadi top skorer sepanjang masa Liverpool dengan koleksi 346 gol.
5 dari 5 halaman

Lothar Matthaus

Lothar Matthaus

Pesepakbola yang kemampuannya sangat diagungkan oleh Pele dan Maradona ini mengawali karirnya bersama Borussia Monchengladbach. Pada tahun 1984, Lothar Matthaus memutuskan pindah ke Bayern Munich. Bersama raksasa Bavaria tersebut, Mathaus meraih 3 trofi Bundesliga, dan 1 DFB Pokal.

Pada tahun 1988, Matthaus mencoba peruntungannya di Italia dengan bermain untuk Inter Milan. Ia ternyata tetap meraih sukses dengan meraih 1 scudetto, 1 Supercoppa, dan 1 UEFA Cup. Namun pada musim 1991/92, Matthaus gagal meraih satu gelar pun bersama Inter.

Musim berikutnya Matthaus kembali ke Bayern namun dengan posisi yang berbeda. Jika masa pengabdian pertamanya dihabiskan dengan menjadi seorang gelandang, kali ini Matthaus diposisikan sebagai sweeper. Hal itu ternyata tak mempengaruhi Matthaus dengan dirinya berhasil membawa Die Roten meraih 4 trofi Bundesliga, 2 DFB pokal, dan 1 UEFA Cup.

LATEST UPDATE