Cerita Tugiyo, yang Oleh Koran Korea Dijuluki Pemain Cepat dari 'Krobokang'
Gia Yuda Pradana | 2 April 2020 09:37
Bola.net - PSIS Semarang adalah satu di antara klub eks Perserikatan yang melahirkan banyak pemain spesial. Tugiyo merupakan salah satunya.
Pemain asal Grobogan ini dikenang sepanjang masa oleh suporter PSIS. Tugiyo merupakan pencetak gol kemenangan dramatis tim Mahesa Jenar saat melawan Persebaya Surabaya pada final Liga Indonesia 1998-1999.
Sejak saat itu, nama Tugiyo semakin meroket. Selain gol tunggal di final Liga Indonesia, satu di antara momen tak terlupakan oleh publik Semarang adalah gol ke gawang kiper Samsung Suwon Bluewings, Lee Won-jae.
Gol tersebut lahir pada leg pertama putaran pertama Liga Champions Asia 1999-2000 (dulu bernama Asian Club Championship) di Stadiin Jatidiri, Semarang, Minggu (15/8/1999).
Siapa menyangka, kiper yang dihadapi sukses membuat frustrasi penyerang-penyerang top Portugal dan Italia di Piala Dunia 2002.
Tugiyo berhadapan satu melawan satu dengan Lee Won-jae. Sesaat sebelum Lee Woon-Jae menyentuh bola, Tugiyo sudah menyentuhnya. Ia lalu mengecoh Lee Won-jae dan membuat kedudukan 1-0 bagi PSIS.
Anton Wahyudi mencetak gol bunuh diri pada menit 17'. Tertahan 1-1, PSIS menggebrak lagi. Ebanda Timothy memaksan Lee Won-jae memungut bola dari gawangnya menjelang akhir babak pertama.
Namun, PSIS akhirnya kalah. Samsung Suwon Bluewings, yang ditangani Park Hang-seo, mencetak dua gol pada babak kedua dan memastikan kemenangan dengan skor 3-2.
Maradona Indonesia
Kecepatan Tugiyo langsung membuat Samsung Suwon Bluewings waspada pada leg kedua yang digelar di Korea. Koran lokal Korea, menyebut klub wakil Indonesia ini memiliki pemain cepat. Mereka pun mengetahui Tugiyo mendapat julukan Maradona.
"Dulu saya ingat pernah baca koran di Korea, tulisannya pemain cepat dari Krobokang (Grobogan)," begitu kata Tugiyo menceritakan pengalamannya.
Setelah melibas PSIS Semarang, Samsung Suwon Bluewings sukses memanaskan persaingan Asian Club Championship. Namun, mereka hanya meraih peringkat keempat. Pada semifinal, mereka kalah 0-1 dari klub Arab Saudi, Al Hilal.
Generasi Fenomenal
Tugiyo besar di Diklat Salatiga, satu di antara episentrum pembinaan sepak bola di Jateng yang kerap melahirkan pemain Timnas Indonesia. Sebelum gabung PSIS, Tugiyo berguru di Diklat Ragunan dan memperkuat Timnas Indonesia U-16.
Bagi pencinta sepak bola dan publik Semarang, PSIS 1998-1999 fenomenal seperti generasi sebelumnya, yakni era almarhum Ribut Waidi, yang menjuarai Perserikatan 1987.
Tongkat estafet kejayaan PSIS dituntaskan dengan baik oleh generasi 1990-an, Tugiyo dkk. Lagi-lagi, PSIS yang kala itu dilatih Edy Paryono mengalahkan Persebaya 1-0 pada final Liga Indonesia 1998-1999.
Gol tunggal Tugiyo pada perpanjangan waktu membuatnya jadi legenda. Ia masih dikenang meski karier pria kelahiran 13 April 1977 ini cukup singkat karena dihantam cedera.
Dia pun masuk dalam skuat muda Timnas Indonesia yang menjalani program Primavera Baretti. Ia pensiun pada 2007.
Tugiyo dalam beberapa tahun terakhir masih aktif di sepak bola, terutama menangani pemain-pemain belia di Kabupaten Semarang dan Salatiga.
Masih Banyak yang Ingat
Bola.com mengenang pertemuan dengan Tugiyo dan keluarganya saat Piala AFF 2016. Mereka sengaja menonton pertandingan final antara Indonesia melawan Thailand.
Tugiyo mengantar istri dan anaknya untuk berburu tanda tangan pemain. Ada kejadian lucu saat Tugiyo berada di hotel pemain Timnas Indonesia. Para suporter yang berada di hotel masih mengenalinya dan meminta foto. Tugiyo pun kaget karena fans yang meminta foto kebanyakan anak muda.
"Wah, ternyata masih ada yang ingat he-he-he," katanya.
Tugiyo tak pernah dilupakan oleh suporter PSIS. Dari generasi lawas hingga era sekarang. Nama Tugiyo tetap menghiasi sejarah PSIS yang merebut mahkota Liga Indonesia 1988-1999.
"Kalau bukan karena istri saya juga hanya nonton di televisi. Tapi saya senang melihat euforia timnas seperti sekarang ini," kata mantan pemain Primavera Baretti ini.
Disadur dari: Bola.com/Penulis Wiwig Prayugi
Published: 2 April 2020
Baca juga artikel-artikel lainnya:
- Demi Bantu Warga Terdampak Corona, Bek PSIS Lelang Jersey Bersejarah
- Kebahagiaan di Tengah Pandemi Corona, Dua Pemain Tira Persikabo Naik Pangkat
- Izinkan Pemain Asingnya Mudik, Ini Pesan Pelatih Persebaya
- Manajemen Arema FC Sebut Pandemi Corona Rugikan Semua Pihak
- Kiper Barito Putera Kaget PSSI Bolehkan Klub Ubah Kontrak
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Era Baru Timnas Indonesia: John Herdman Tekankan Peran Liga Lokal
Tim Nasional 14 Januari 2026, 17:04
LATEST UPDATE
-
Tempat Menonton Real Madrid vs Monaco: Live SCTV, Mengenang Drama 2004 di Bernabeu
Liga Champions 20 Januari 2026, 18:08
-
Tempat Menonton Bodo/Glimt vs Man City: Live SCTV dan Streaming di Vidio
Liga Champions 20 Januari 2026, 18:00
-
Tempat Menonton Inter vs Arsenal: Jam Berapa Siaran Langsung UCL Laga Ini?
Liga Inggris 20 Januari 2026, 17:45
-
Kebangkitan Kobbie Mainoo Jadi Momen Emas bagi Ineos di Manchester United, Kok Bisa?
Liga Inggris 20 Januari 2026, 17:11
-
Prediksi Slavia Praha vs Barcelona 22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 17:00
-
Marc-Andre ter Stegen Absen dari Barcelona, Segera Jalani Tes Medis di Girona
Liga Spanyol 20 Januari 2026, 16:45
-
Daftar Pemain Barcelona untuk Laga Liga Champions Kontra Slavia Praha
Liga Champions 20 Januari 2026, 16:26
LATEST EDITORIAL
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06












