Djadjang Nurdjaman Kenang Sepak Bola Gajah Era Galatama
Asad Arifin | 25 Januari 2021 14:29
Bola.net - Sebelum sohor sebagai pelatih papan atas Indonesia, nama Djadjang Nurdjaman lebih dulu tenar sebagai pemain. Pria yang akrab disapa Djanur itu sangat lekat dengan Persib Bandung saat menjadi pemain.
Saat masih bermain, tepatnya pada era 1980-an, Djanur mengakui bahwa ada banyak kasus sepak bola gajah. Selain itu, kompetisi di Galatama juga rentan dengan kasus suap. Selain di Persib, Djanur juga pernah bermain di Mercu Buana Medan.
"Memang banyak sepak bola gajah, suap sana sini tapi saya masih bertahan di Galatama dan saya keluar dari Mercu Buana Medan karena memang timnya bubar setelah tidak ada Galatama," jelas Djanur dalam channel YouTube Jurnal Opah.
Selama bermain di Galatama, Djanur mengaku sempat mengajak rekan-rekannya yang ada di Persib untuk bergabung seperti Dede Iskandar dan Yusuf Bachtiar. "Tapi mereka tidak mau, mungkin mereka memilih kerja," cetus Djanur.
Djanur dan Persib Bandung
Diakui Djanur, ketertarikannya bermain di Galatama karena memang sudah ada uangnya, berbeda dengan Perserikatan tidak mendapat apa-apa.
"Tapi setelah membawa Persib juara tahun 1986, saya mendapat pekerjaan jadi pegawai di salah satu BUMN di PLN. Itu lebih menenangkan secara pribadi dan keluarga," seloroh Djanur.
Keluar dari Mercu Buana Medan, Djanur memang kembali ke Bandung dan mendapat tawaran balik lagi ke Persib Bandung pada tahun 1985 sampai akhir karirnya sebagai pemain di Persib dan membawa juara pada tahun 1986 dan 1990.
"Selama di Persib saya selalu jadi pemain utama, termasuk saat di Brunai saya main juga," tutur Djanur yang juga pernah membawa Persib juara dengan posisi sebagai pelatih pada tahun 2014.
Djanur mengaku kembali ke Persib Bandung karena mendapat panggilan langsung dari pelatihnya saat itu Nandar Iskandar dan manajernya almarhum Yayat Ruhiyat.
Sempat Kontrak Rumah dalam Gang
Kembali ke Bandung, Djanur harus berjuang kembali untuk meniti karirnya sebagai pemain sepak bola walau sampai di Bandung belum memiliki rumah pribadi sendiri dan harus mengontrak rumah di sebuah gang di sekitar Jalan Gurame, Kota Bandung.
"Tapi saya patut bersyukur juga karena yang mengontrakan rumah dalam gang itu pengurus Persib. Jadi saya harus bersyukur karena memang saya dibutuhkan dan karena tahu kemampuan saya," ujar Djanur.
"Jujur saja waktu itu Galatama levelnya ada di atas, sehingga saya lebih percaya diri saat bergabung dengan Persib yang sudah masuk final dua kali dan saya langsung pilihan utama siapapun pelatihnya," ungkap Djanur.
Padahal saat itu posisi Djanur di Persib sudah ada Kosasih dan Wawan Kurniawan, juga Dede Rosadi. "Tapi boleh dikatakan kemampuannya tidak jauh berbeda dan saya tidak pernah tergusur, mungkin karena pelatih yang lebih tahu dengan kemampuan saya di winger baik kiri atau kanan, dan saya punya kecepatan," ungkap Djanur.
Disadur dari Bola.com (Penulis: Gregah Nurikhsani, 24 Januari 2021)
Baca Ini Juga:
- Kiprah Mochamad Iriawan di PSSI dan 5 Keputusan Kontroversial yang Dibuat
- 3 Faktor yang Membuat Keperkasaan Liverpool Luntur dan Tertinggal Dari MU
- Petualangan Yeyen Tumena: Pemain Sepak Bola, Futsal, Komentator, Dirtek, Hingga Pelatih
- Frank Lampard dan 11 Manajer Chelsea Era Roman Abramovich, Siapa yang Terbaik?
- 5 Pemain Asing yang Mungkin Pindah Karena Status Shopee Liga 1 Belum Jelas
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Klasemen Pembalap Red Bull Rookies Cup 2026
Otomotif 9 Mei 2026, 22:03
-
Man of the Match laga Liverpool vs Chelsea: Enzo Fernandez
Liga Inggris 9 Mei 2026, 21:40
-
Hasil Persis vs Persebaya: Tanpa Gol di Manahan
Bola Indonesia 9 Mei 2026, 21:11
-
Otomotif 9 Mei 2026, 20:42

-
Jadwal Lengkap, Hasil Balapan, dan Klasemen MotoGP 2026
Otomotif 9 Mei 2026, 20:42
LATEST EDITORIAL
-
5 Pemain yang Pernah Membela Arsenal dan Atletico Madrid
Editorial 5 Mei 2026, 21:55
















